Minggu, 02 Maret 2014

Buku Hitam

Sore tak pernah sedingin sore ini. Aku melangkah sendirian di antara rak-rak buku-buku tua di lantai tiga. Kuperhatikan satu persatu nama-nama yang tertulis di sederetan buku-buku tua itu. Ya, nama-nama para pendahulu kita. Mungkin kini mereka telah menjadi pejuang kehidupan masing-masing, atau pejuang untuk negeri yang lucu ini.

Sebuah buku diantara sederetan buku hitam menarik perhatianku. Seketika dingin merasuk jiwa. Rasa takut dan ragu sekelebat mengguncang hatiku. Namun aku tetap menyentuh buku hitam itu, yang ada di rak paling bawah.

Dalam dinginnya sore, kala kumulus nimbus mengawasiku di langit, perlahan kubuka halaman demi halaman. Sangat berbeda dengan sampulnya, buku hitammu berisi pemikiran putih. Sungguh terlihat jelas dari judul hingga ke tujuan. Nama kelompok-kelompok sosial yang kau cantumkan dalam ucapan terima kasihmu membuatku tak heran betapa putihnya buku hitammu.

Sederhana. Berbeda dengan pendahuluku, seratus halaman bahkan tak cukup.

Lalu khayalku melambung, bertanya akan seperti apakah nanti buku putihku. Apakah isinya akan seputih ini, atau akan sehitam sampul bukumu?

Tahukah kamu, wahai pengarang buku hitam, bahwa aku sedang berjalan dalam kegelapan? Matahari tak dapat kulihat, kompas pun aku tak punya. Bagiku tak ada lagi tempat berteduh dan nyaman untuk berbincang, mencurahkan isi hati, apalagi berkeluh kesah. Aku bukan lagi manusia. Siapa yang peduli padaku?

Manusia-manusia itu hanya datang ke tempatku, lalu pergi saat mereka bosan. Mereka takkan peduli padaku, yang penting urusan mereka selesai dan mereka tidak sendirian.

Lalu aku berkaca lewat buku hitammu, dan bertanya-tanya seperti apa masa depanku. Aku mulai menyentuh hitamnya dmensi ini, dan aku takut menjadi semakin kelam. Aku hanya ingin berkata, mungkin jika kau ada di sini, buku putihku akan semakin memutih, dan jalanku takkan lagi gelap. Terang dan tenang.

Tapi kau tidak ada. Tidak akan pernah ada. Aku akan terus berjalan sendirian.

Tiga tahun lagi, buku putihku akan ada di sana juga, walau akan ada jauh dari bukumu, bahkan raknya tidak akan pernah ada di dekat rak buku hitammu.
Ya. Buku putihku tidak akan pernah bersanding dengan buku hitammu.
Seperti kita sekarang.