Senin, 24 Agustus 2009

Wind of Time - 25

Karina… Ya, Karina…
Itu Karina…..

Mata Reta terus tertuju ke lapangan, tepat ke arah Rifko dan Karina yang asyik bermain basket berdua. Reta diam agar mereka tak terganggu.

Tiba – tiba Karina terjatuh…
“Aw.. Aduh sakit…”, lutut Karina terluka.
“Tunggu yah, aku ambil obat dulu..”, Rifko bergegas lari ke ruang UKS. Tak sampai semenit ia kembali membawa kotak P3K.

“Sini aku obatin luka kamu…”,
Rifko amat telaten saat mengobati luka Karina.

Reta tepaku melihat pemandangan di lapangan. Matanya tak dapat berkedip.
Perasaannya campur aduk. Kini ia akan berhenti berharap….

“Ret… Woi Retaaaa !”, seru Sella.
“I.. Iya kenapa ??”, Reta benar – benar terkejut.
Dan juga kebingungan, karena sekolah mendadak ramai.
Matahari pun masih ada di timur.

“Ya ampun daritadi gue panggil loe ga nengok..”
“Sorry gue ga denger, Sel…”, Reta nyengir.
“Ke kelas yuk, bentar lagi bel.”

Bel tanda masuk pun berdering bersama rasa pasrah dalam hati Reta.
Kini ia sudah tau semuanya. Karina pasti sangat berarti untuk Rifko.
Karina, bukan dirinya…..

***

Pk. 09.04, istirahat pertama.

Reta berpapasan dengan Mona di lorong sekolah. Mona yang sedang asyik mengobrol dengan Ferika membuang muka dan berlalu begitu saja.

“Duh, Mona berubah banget sih sekarang. Dia kenapa, sih ?”,
Reta terus bertanya- tanya dalam hati.

Reta baru saja sampai didepan pintu kelas.
Ia mengintip kedalam kelas dan nyengir sendiri melihat sebuah adegan di sana.
Sella duduk berdua dengan Johan. Nampaknya lagi membahas tentang pelajaran.

Reta cekikikan, dasar jodoh emang ga kemana, gumamnya.
Mending ke perpus daripada ganggu orang lagi mojok…..

Langkah kaki menuntunnya menuju perpustakaan yang berada di lantai bawah.
Saat turun dari tangga, ia berpapasan dengan Rifko bdan Alex.
Namun tidak seperti biasanya, Rifko tidak menyapanya. Ia berlalu begitu saja.
Reta merasa ada yang tidak beres..

Apa sih yang sedang terjadi dengan teman – temanku ?
Mereka jadi berubah gitu…..

Seseorang menepuk pundak Reta dari belakang……………

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jumat, 07 Agustus 2009

Wind of Time - 24

“Hai Reta, kamu sudah sembuh?”
Zaki masuk kedalam kamar. Tangan kanannya memegang seikat bunga melati.
“Oh, hai Zaki…..”, Reta tersenyum.

Zaki mengambil bunga layu yang ada dalam vas dimeja samping tempat tidur Reta, dan menggantinya dengan melati yang ia bawa.
Kemudian ia duduk dikursi didekat meja tersebut, menatap mata Reta yang pikirannya melambung jauh keluar jendela.

“I see something in your eyes. Sebaiknya kamu jangan terlalu banyak berharap..”
“Ya, dan aku takkan pernah berani berharap lagi…”
Mata Reta tetap tertuju pada pemandangan diluar rumah sakit.
Mobil – mobil yang tetap berlalu lalang diluar sana, walau gelap sudah menguasai langit.

***
21 September, pk 06.08, di sekolah

Pagi yang cerah untuk jiwa yang sepi..
Seperti lagu ya.. Tapi lebih tepatnya, untuk jiwa yang penasaran.
Yang ingin mengetahui sesuatu yang tak pernah ia ketahui sebelumnya.
Dan sebenarnya hal itu sebaiknya tidak ia ketahui.

Reta berjalan di lorong sekolahnya. Ia memandang ke lapangan.
Rifko sedang bermain basket dengan teman – temannya.
Saat melihat Reta, ia melambaikan tangan kearah Reta dan berseru, “Selamat pagi !”
Reta tersenyum dan melambaikan tangan,
“Selamat pagi !”, balas Reta. Ia pun bergegas ke kelasnya.

“CIEEEE RIFKOOOO…”, Alex berteriak dibalik pintu kelasnya.
“Apa sih, Lex…”, Rifko melempar bola basket yang ada ditangannya kearah Alex.
Alex sukses menangkap bola yang menuju ke arahnya.

Sementara itu ditempat lain, Reta baru saja duduk di bangkunya.
Kelas masih sepi, kursi – kursi masih ada diatas meja.
Baru ia sendiri yang masuk ke kelas pagi ini.
Entah darimana tiba - tiba sehelai daun kering yang kecoklatan turun dari atas.

“Daun darimana nih ?”, gumam Reta.
Ia menoleh ke atas namun tidak ada yang menyangkut ataupun nyantol disana.

Matanya pun melihat kesekeliling, keadaan kelas sudah berubah.
Seperti baru selesai pulang sekolah. Kertas berserakan dimana – mana.
Bangku berada di lantai dan letak meja tak beraturan.
Sinar matahari menerobos masuk melalui jendela kecil di pintu kelas.

“Ini kan masih pagi, kok….”,
Tanpa pikir panjang, Reta melangkahkan kaki keluar kelas.

Sekolah tampak sangat sepi, namun terdengar suara dentuman bola basket.
Reta melihat kearah lapangan. Ia terkejut.

Rifko dan seorang perempuan cantik sedang bermain basket dan tertawa bersama………


~~~~~~~~~~~~~~

Wind of Time - 23

Jantung Reta berdetak begitu cepat. Rifko sendiri hampir salah tingkah.
Ia berpikir dan putar otak sebelum memulai pembicaraan.
“Hmm.. Loe uda merasa lebih baik ?”
“Ya begitulah…”, jeda beberapa detik.
“Emm… Makasih ya udah bawa aku kesini.. Kalo ga ada kamu mungkin aku udah kritis sekarang…”
“No problem.. Buat Tuan Putri yang cantik, apapun akan kulakukan..”
Wajah Reta memerah. Hatinya berbunga – bunga.
Tapi Ia tetap berpikir bahwa kata – kata Rifko tadi hanyalah lelucon belaka.

“Tuan Putri yang cantik? Hahahahaha…. Jayus sekali…”
Mereka tertawa bersama, padahal sama sekali tidak ada yang lucu.

Tiba – tiba pintu diketuk, dan keanehan terjadi. Angin berhembus perlahan saat pintu terbuka.
Seorang gadis yang sangat cantik masuk ke dalam ruangan.
Ia berjalan mendekati Rifko.

“Rifko… Aku tadi ke rumahmu, dan kata kakak kamu, kamu lagi disini..”
Reta menatap Rifko dan gadis itu bergantian.
Siapa ni cewek ? tanya Reta dalam hati.

“Oh ya Reta, kenalin , ini Karina.. Karin, ini Reta..”
Reta dan Karina berjabat tangan. Karina terseyum,
“Salam kenal dan semoga cepat sembuh..”
“Salam kenal juga dan terima kasih banyak.”

Karina menggenggam tangan Rifko,
“Hari ini jadi jalan, kan ?”, suara Karin terdengar sangat lembut.
“Pasti dong..”, Rifko hanya tersenyum tipis.

Reta menatap Rifko dan Karina bergantian. Nampaknya ada sesuatu diantara mereka.

“Emm.. Reta, gue pergi dulu , ya… Semoga cepat sembuh..”
“Oke.. Terima kasih banyak sudah datang..”, Reta berusaha tersenyum.
Rifko dan Karina berjalan keluar kamar. Mereka berjalan bersisian.

Reta setengah bengong menatap pintu itu.
Ia merasa ada yang hilang, sekaligus menerima suatu beban.
Beban yang memberatkan hatinya, yang tidak dapat dijelaskan dengan kata - kata.
Mungkin bisa dijelaskan dengan air mata, yang sudah lama tak mengalir dari pelupuk matanya.

***


Malam pun menjelang. Kedua orang tua Reta sedang membeli makanan.
Reta menatap pemandangan diluar jendela.
Hujan menyembunyikan rembulan dan petir menggelegar.
Ia selalu terpikirkan kejadian tadi siang.
“Siapa perempuan cantik itu ? Dia siapanya Rifko ? Jangan – jangan…

Sebuah ketukan membuat pikirannya terhenti.
Seseorang membuka pintu dan masuk kedalam kamar……….


~~~~~~~~~~~~~~~~~~