“Hai Reta, kamu sudah sembuh?”
Zaki masuk kedalam kamar. Tangan kanannya memegang seikat bunga melati.
“Oh, hai Zaki…..”, Reta tersenyum.
Zaki mengambil bunga layu yang ada dalam vas dimeja samping tempat tidur Reta, dan menggantinya dengan melati yang ia bawa.
Kemudian ia duduk dikursi didekat meja tersebut, menatap mata Reta yang pikirannya melambung jauh keluar jendela.
“I see something in your eyes. Sebaiknya kamu jangan terlalu banyak berharap..”
“Ya, dan aku takkan pernah berani berharap lagi…”
Mata Reta tetap tertuju pada pemandangan diluar rumah sakit.
Mobil – mobil yang tetap berlalu lalang diluar sana, walau gelap sudah menguasai langit.
***
21 September, pk 06.08, di sekolah
Pagi yang cerah untuk jiwa yang sepi..
Seperti lagu ya.. Tapi lebih tepatnya, untuk jiwa yang penasaran.
Yang ingin mengetahui sesuatu yang tak pernah ia ketahui sebelumnya.
Dan sebenarnya hal itu sebaiknya tidak ia ketahui.
Reta berjalan di lorong sekolahnya. Ia memandang ke lapangan.
Rifko sedang bermain basket dengan teman – temannya.
Saat melihat Reta, ia melambaikan tangan kearah Reta dan berseru, “Selamat pagi !”
Reta tersenyum dan melambaikan tangan,
“Selamat pagi !”, balas Reta. Ia pun bergegas ke kelasnya.
“CIEEEE RIFKOOOO…”, Alex berteriak dibalik pintu kelasnya.
“Apa sih, Lex…”, Rifko melempar bola basket yang ada ditangannya kearah Alex.
Alex sukses menangkap bola yang menuju ke arahnya.
Sementara itu ditempat lain, Reta baru saja duduk di bangkunya.
Kelas masih sepi, kursi – kursi masih ada diatas meja.
Baru ia sendiri yang masuk ke kelas pagi ini.
Entah darimana tiba - tiba sehelai daun kering yang kecoklatan turun dari atas.
“Daun darimana nih ?”, gumam Reta.
Ia menoleh ke atas namun tidak ada yang menyangkut ataupun nyantol disana.
Matanya pun melihat kesekeliling, keadaan kelas sudah berubah.
Seperti baru selesai pulang sekolah. Kertas berserakan dimana – mana.
Bangku berada di lantai dan letak meja tak beraturan.
Sinar matahari menerobos masuk melalui jendela kecil di pintu kelas.
“Ini kan masih pagi, kok….”,
Tanpa pikir panjang, Reta melangkahkan kaki keluar kelas.
Sekolah tampak sangat sepi, namun terdengar suara dentuman bola basket.
Reta melihat kearah lapangan. Ia terkejut.
Rifko dan seorang perempuan cantik sedang bermain basket dan tertawa bersama………
~~~~~~~~~~~~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar