Bel tanda istirahat selesai berbunyi.
Reta masuk ke kelas dan duduk di tempatnya yang berada dibelakang Sella.
Ia kebingungan melihat Sella yang tampak diam dengan wajah yang setengah bengong.
Sella memang pendiam, namun diamnya kali ini berbeda.
Wajahnya tampak sendu, sepertinya sedang ada masalah.
Tak lama kemudian, Bu Intan masuk ke dalam kelas dan membagikan hasil nilai test matematika dengan cara memanggil murid satu per satu .
“Reta….”, Reta maju ke depan kelas dan menerima kertas ulangan .
“Sella…”, Sella masih terdiam dibangkunya, matanya menerawang jauh .
Bu Intan memanggil nama Sella lagi, namun Sella masih tetap dalam dunianya hingga Reta yang duduk dibelakang mengguncangkan bangkunya.
Sella berdiri secara spontan , “Hah ? Kenapa ?”, serunya .
“Ini hasil test matematika kemarin.”, Bu Intan menunjukkan kertas ulangan.
Sella mengambil kertas tersebut dari tangan Bu Intan , lalu kembali ke tempat duduknya dengan lesu . Reta mengintip nilai ditangan Sella, 50 .
Perasaannya benar . Nampaknya Sella sedang dalam masalah .
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Istirahat kedua, Reta berniat ke perpustakaan .
Siang itu suasana sekolah tampak ramai .
Beberapa anak bermain bola basket dan murid kelas 1 tampak berlari – larian di koridor sekolah .
Ketika Ia membuka pintu , tampak Rifko sedang menulis dibuku daftar kehadiran .
Sesaat Rifko melirik kearah pintu.
Mata mereka bertemu, namun Rifko langsung membuang muka .
Matanya tak berani menatap Reta lebih lama lagi .
Degh…..
Jantung Reta tak beraturan .
Kemudian Reta menutup pintu, membatalkan niatnya membaca buku .
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Esoknya, Reta datang pagi – pagi sekali .
Ia berjalan perlahan hingga tak terdengar suara dentuman sepatu .
Setelah tiba di lantai atas, Ia menghampiri salah satu jendela kelas Mona . mengintip kelas tersebut . Terlihat seorang gadis berambut panjang sedang memasukkan sesuatu kedalam minuman . Jantung Reta berdegup kencang . Gawat ! Seru Reta dalam hati .
Ia berlari menuju lantai bawah untuk mencegat Mona sebelum terlambat .
Tanpa disadari, yang berada dalam kelas melihat keluar karena suara yang berisik .
“Anak itu”, gumamnya, “Jangan sampai dia tahu rencana ini ….”
Reta berlari kebawah . Karena tak memperhatikan jalan, Ia menabrak seseorang .
“Eh, ma……..af….”, Reta setengah melongo menatap perempuan cantik dihadapannya.
Rambutnya sebahu , wajahnya imut sekali .
Ditambah lagi lesung pipit di senyumnya ….
Karina ………..
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Blog ini dibuat untuk membuka suara seorang anak perempuan yang terkurung tapi ingin suaranya didengar...
Sabtu, 23 Januari 2010
Jumat, 22 Januari 2010
Wind of Time - 30
Disaat yang bersamaan, Reta bebaring di tempat tidurnya.
“Maksudnya ‘urusan’ apa, sih… Aku sama sekali ga ngerti maksud kak Zaki. Sama sekali ga ada petunjuk. Lalu maksudnya ‘sebentar lagi’ itu apa… Aku ga ngerti sama sekali…”
Seseorang mengetuk jendela kamar Reta.
“Siapa itu ?”, Reta membuka jendelanya. Tercium aroma khas bunga melati.
Ia teringat sesuatu. Langsung ditutupnya pintu jendela dan Ia berlari keluar, mencari pot bunga melati yang Ia tanam.
“Sudah sebulan tak terurus, semoga tidak mati…”, gumam Reta.
Ia menghampiri pot berwarna hitam yang berada di sudut halaman rumah.
“Ini dia………”, Reta setengah bengong. Bunganya bermekaran dan tampak segar, padahal Ia tak mengurusnya karena sibuk dengan pekerjaan sekolah.
“Siapa yang ngurus tanaman ini ?”, Reta menggaruk kepala, bingung.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Pagi terasa begitu dingin, mendung menutupi senyum langit.
Reta mengetatkan jaketnya dan berjalan perlahan di koridor sekolah.
Saat berjalan melewati toilet perempuan, tak sengaja Ia mendengar dua orang sedang berbicara dengan agak berbisik, namun tetap terdengar karena sekolah masih amat sepi.
“Barangnya masih ada , ga ?”, Reta mengenal suara tersebut sebagai suara Ferika.
“Masih, mau pesen berapa ?”, terdengar suara seorang perempuan, namun ia tak mengenal suara tersebut.
“5 bungkus, sekalian suntikan. Berapa harganya ?”
Degh…… Jantung Reta berdegup kencang.
Jangan – jangan.. Ferika membeli barang haram ! Lebih parahnya lagi, transaksi terjadi di sekolah. Entah siapa perempuan satu lagi, yang pasti dia bandarnya, pikir Reta.
“Empat ratus ribu. Tunai ya”
“Gue lagi ga ada duit nih. Nanti gue ajak si Mona deh, temen sekelas gue. Anaknya tajir, pasti bakal cash terus bayarnya.”
Reta terkejut mendengarnya. Ternyata Ferika bukan anak baik – baik.
Mona benar - benar dalam bahaya sekarang.
Ia pun berlari menuju kelasnya sebelum ketahuan menguping pembicaraan mereka.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Bel istirahat berbunyi. Reta berjalan perlahan keluar kelas.
Sejak mendengar percakapan tadi pagi, Ia merasa tak tenang.
Ia tak mau sahabatnya terjerumus.
Walaupun Mona tidak mempercayainya lagi, walaupun Ia sudah ditinggalkan,
Tetapi Ia akan tetap selalu melindungi sahabat – sahabatnya.
Saat melihat Mona dan Ferika berjalan berdua ke toilet, Reta mengikuti diam – diam.
Ia menguping pembicaraan mereka dibalik pintu.
“Eh, saudara gue jualan minuman, nih. Mau coba ga ?”
“Minuman apa, Ka ?”
“Ice lemon tea gitu deh.. Besok gue bawa ya.”
“Oke deh…..”
Reta berlari meninggalkan toilet sebelum ada yang melihatnya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Maksudnya ‘urusan’ apa, sih… Aku sama sekali ga ngerti maksud kak Zaki. Sama sekali ga ada petunjuk. Lalu maksudnya ‘sebentar lagi’ itu apa… Aku ga ngerti sama sekali…”
Seseorang mengetuk jendela kamar Reta.
“Siapa itu ?”, Reta membuka jendelanya. Tercium aroma khas bunga melati.
Ia teringat sesuatu. Langsung ditutupnya pintu jendela dan Ia berlari keluar, mencari pot bunga melati yang Ia tanam.
“Sudah sebulan tak terurus, semoga tidak mati…”, gumam Reta.
Ia menghampiri pot berwarna hitam yang berada di sudut halaman rumah.
“Ini dia………”, Reta setengah bengong. Bunganya bermekaran dan tampak segar, padahal Ia tak mengurusnya karena sibuk dengan pekerjaan sekolah.
“Siapa yang ngurus tanaman ini ?”, Reta menggaruk kepala, bingung.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Pagi terasa begitu dingin, mendung menutupi senyum langit.
Reta mengetatkan jaketnya dan berjalan perlahan di koridor sekolah.
Saat berjalan melewati toilet perempuan, tak sengaja Ia mendengar dua orang sedang berbicara dengan agak berbisik, namun tetap terdengar karena sekolah masih amat sepi.
“Barangnya masih ada , ga ?”, Reta mengenal suara tersebut sebagai suara Ferika.
“Masih, mau pesen berapa ?”, terdengar suara seorang perempuan, namun ia tak mengenal suara tersebut.
“5 bungkus, sekalian suntikan. Berapa harganya ?”
Degh…… Jantung Reta berdegup kencang.
Jangan – jangan.. Ferika membeli barang haram ! Lebih parahnya lagi, transaksi terjadi di sekolah. Entah siapa perempuan satu lagi, yang pasti dia bandarnya, pikir Reta.
“Empat ratus ribu. Tunai ya”
“Gue lagi ga ada duit nih. Nanti gue ajak si Mona deh, temen sekelas gue. Anaknya tajir, pasti bakal cash terus bayarnya.”
Reta terkejut mendengarnya. Ternyata Ferika bukan anak baik – baik.
Mona benar - benar dalam bahaya sekarang.
Ia pun berlari menuju kelasnya sebelum ketahuan menguping pembicaraan mereka.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Bel istirahat berbunyi. Reta berjalan perlahan keluar kelas.
Sejak mendengar percakapan tadi pagi, Ia merasa tak tenang.
Ia tak mau sahabatnya terjerumus.
Walaupun Mona tidak mempercayainya lagi, walaupun Ia sudah ditinggalkan,
Tetapi Ia akan tetap selalu melindungi sahabat – sahabatnya.
Saat melihat Mona dan Ferika berjalan berdua ke toilet, Reta mengikuti diam – diam.
Ia menguping pembicaraan mereka dibalik pintu.
“Eh, saudara gue jualan minuman, nih. Mau coba ga ?”
“Minuman apa, Ka ?”
“Ice lemon tea gitu deh.. Besok gue bawa ya.”
“Oke deh…..”
Reta berlari meninggalkan toilet sebelum ada yang melihatnya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Wind of Time - 29
Karina nongol lagi di sini….
Dan didepan matanya, Karina gandengan tangan dengan Rifko.
Hatinya terasa pedih, seperti diiris – iris. Lagi – lagi, dan terus terjadi.
“Selesaikan urusanmu, sekarang.”
Reta berbalik. Zaki di belakangnya…
Angin berhembus perlahan, menerbangkan dedaunan yang kering kecoklatan.
“Urusan apa, Kak ? Aku ga ngerti maksud kakak…”
“Urusan dalam kehidupanmu, hal – hal yang akan merubah masa depan orang – orang di sekitarmu…”
“Tapi aku ga ngerti, Kak, bisa jelaskan apa itu ?”
“Tidak bisa. Kau tahu sendiri apa urusan yang aku maksud.…”
Zaki berjalan menuju ke lantai atas dan menghilang begitu cepat.
Sementara Reta semakin kebingungan. Matanya terasa panas.
Entah sampai kapan rasa sakit ini menyelimutinya. Pedih sekali……..
Reta pun berjalan melalui Rifko dan Karina, namun mereka tampak cuek, seakan dirinya tidak ada. Rifko sama sekali tidak menoleh padanya, sibuk ngobrol berduaan dengan Karina.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Itu siapa ?”
”Itu temenku.”
“Temenmu yang mana ?”
“Temen satu sekolah, memangnya kenapa ?
“Kok aku ga tau ?”, Karina menatap Rifko begitu dalam, “Kamu suka ya sama dia ?”
“Enggak.”, jawab Rifko singkat, menutupi keterkejutan akan pertanyaan tersebut.
“Kok tadi kelihatannya kamu akrab banget sama dia ?”
“Masa, sih ? Biasa aja tuh.”
“Menurutku ngga biasa.” , Karina terdiam sesaat.
Matanya berusaha menerobos hati Rifko. Tatapannya begitu serius.
“Kamu masih sayang kan sama aku ?”
Rifko terdiam sesaat, berpikir dan berkata, “ Iya, aku masih sayang kamu.”
Karina menggenggam tangan Rifko erat,
“Aku benar – benar sayang sama kamu, jangan tinggalin aku…….”
Karina memeluk Rifko erat., di lorong rumah sakit yang begitu sepi..
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Rifko menatap langit. Gelap, sangat gelap.
Segelap hatinya sekarang.
Percakapannya dengan Karina saat itu yang membuatnya menjauhi Reta.
Sesungguhnya Ia ingin jujur, tapi Ia kasihan pada Karina.
Gadis itu selalu jadi korban para playboy, terlalu bodoh.
Ia sendiri sebenarnya hanya tertarik pada kecantikan Karina, bukan karena sifatnya.
Karina amat manja , agresif, dan posesif. Pertanyaannya tak habis – habis.
Rifko merasa seperti berhadapan dengan anak kecil.
Sangat berbeda dengan Reta. Rifko merasa nyaman berada disampingnya.
Senyumnya berbeda dengan senyum gadis lain, dan binar matanya yang indah…..
Kali ini hatinya tak bisa berbohong.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~.
Dan didepan matanya, Karina gandengan tangan dengan Rifko.
Hatinya terasa pedih, seperti diiris – iris. Lagi – lagi, dan terus terjadi.
“Selesaikan urusanmu, sekarang.”
Reta berbalik. Zaki di belakangnya…
Angin berhembus perlahan, menerbangkan dedaunan yang kering kecoklatan.
“Urusan apa, Kak ? Aku ga ngerti maksud kakak…”
“Urusan dalam kehidupanmu, hal – hal yang akan merubah masa depan orang – orang di sekitarmu…”
“Tapi aku ga ngerti, Kak, bisa jelaskan apa itu ?”
“Tidak bisa. Kau tahu sendiri apa urusan yang aku maksud.…”
Zaki berjalan menuju ke lantai atas dan menghilang begitu cepat.
Sementara Reta semakin kebingungan. Matanya terasa panas.
Entah sampai kapan rasa sakit ini menyelimutinya. Pedih sekali……..
Reta pun berjalan melalui Rifko dan Karina, namun mereka tampak cuek, seakan dirinya tidak ada. Rifko sama sekali tidak menoleh padanya, sibuk ngobrol berduaan dengan Karina.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Itu siapa ?”
”Itu temenku.”
“Temenmu yang mana ?”
“Temen satu sekolah, memangnya kenapa ?
“Kok aku ga tau ?”, Karina menatap Rifko begitu dalam, “Kamu suka ya sama dia ?”
“Enggak.”, jawab Rifko singkat, menutupi keterkejutan akan pertanyaan tersebut.
“Kok tadi kelihatannya kamu akrab banget sama dia ?”
“Masa, sih ? Biasa aja tuh.”
“Menurutku ngga biasa.” , Karina terdiam sesaat.
Matanya berusaha menerobos hati Rifko. Tatapannya begitu serius.
“Kamu masih sayang kan sama aku ?”
Rifko terdiam sesaat, berpikir dan berkata, “ Iya, aku masih sayang kamu.”
Karina menggenggam tangan Rifko erat,
“Aku benar – benar sayang sama kamu, jangan tinggalin aku…….”
Karina memeluk Rifko erat., di lorong rumah sakit yang begitu sepi..
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Rifko menatap langit. Gelap, sangat gelap.
Segelap hatinya sekarang.
Percakapannya dengan Karina saat itu yang membuatnya menjauhi Reta.
Sesungguhnya Ia ingin jujur, tapi Ia kasihan pada Karina.
Gadis itu selalu jadi korban para playboy, terlalu bodoh.
Ia sendiri sebenarnya hanya tertarik pada kecantikan Karina, bukan karena sifatnya.
Karina amat manja , agresif, dan posesif. Pertanyaannya tak habis – habis.
Rifko merasa seperti berhadapan dengan anak kecil.
Sangat berbeda dengan Reta. Rifko merasa nyaman berada disampingnya.
Senyumnya berbeda dengan senyum gadis lain, dan binar matanya yang indah…..
Kali ini hatinya tak bisa berbohong.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~.
Wind of Time - 28
“Selamat pagi, Pak.”
“Selamat pagi, Bu. Silahkan duduk.”
Mama Reta duduk berhadapan dengan dokter yang dulu memeriksa Reta di ruang serba putih itu.
Ia bergegas pergi ke rumah sakit setelah mendapat telepon dari dokter bahwa ada hal yang penting untuk dibicarakan.
Sang dokter mengeluarkan amplop coklat yang berukuran agak besar, berisi hasil pemeriksaan darah dan CT scan Reta.
“Ini hasil pemeriksaan CT scan dan darah Reta. Maaf, saya langsung saja, Reta menderita tumor otak stadium akhir. Ada benjolan sebesar telur di kepalanya dan untuk meghilangkannya harus dilakukan operasi.”
Mama Reta terkejut. Ia tak percaya anak sulungnya itu sakit , padahal Reta terlihat baik – baik saja, walaupun wajahnya tampak agak pucat akhir – akhir ini.
“Sebaiknya Reta dioperasi, sebelum tumor mematikan ini semakin besar dikepalanya.”
“Berapa biayanya , Dok ?”
“Sekitar Rp 50 juta, Bu. Setelah operasi, Reta juga harus mengikuti rehabilitasi untuk pemulihan kondisinya, dan biayanya juga cukup mahal. Operasi ini harus dilakukan secepatnya, kalau anak Ibu tidak segera di operasi, Ia bisa mengalami koma bahkan meninggal…. ”
****
Rifko mendapat tugas untuk menerjemahkan bahasa Inggris. Satu – satunya tempat yang paling nyaman untuk mengerjakan tugas dadakan adalah perpustakaan.
Ia menghampiri rak tempat kamus - kamus berada.
Saat menarik kamus bahasa Inggris, ada sebuah buku tipis yang terselip diantara kamus – kamus tebal tersebut. Buku yang agak lusuh.
Iseng – iseng Rifko membuka buku tersebut dan membacanya.
Buku itu berisi cerita tentang seorang gadis yang mencintai pria yang telah memiliki kekasih.
Ditulis dengan pulpen berwarna hitam, dan tulisannya cukup rapi.
Namun sayangnya cerita tersebut belum selesai.
“Ni buku punya sapa yah, sedih amat ceritanya….”, gumam Rifko dalam hati.
Tak lama kemudian bel tanda istirahat selesai berbunyi.
Ia mengembalikan buku tersebut ke tempatnya dan bergegas ke kelas.
****
Bel akhir pelajaran berbunyi.
“Time to go to home !”, seru Sella.
Ia nampak bersemangat sepanjang hari ini. Reta tak henti tersenyum dibuatnya.
“Eh , Sel, gue pinjem hape dong, mau SMS bokap.”
Sella memberikan HPnya, dan saat HP tersebut di tangan Reta, ada SMS masuk.
SMS dari Johan. Reta mengurungkan niatnya untuk meminjam HP Sella.
“Ada SMS nih, Sell..”, Reta mengembalikan HP Sella.
“Ga jadi pake ?”
“Ngga , deh. Makasih ya.”, Reta tersenyum, sebenarnya menahan tawa.
Reta berjalan di koridor dan Ia tertegun. Matanya tak bisa berkedip melihat dua orang sedang berpegangan tangan…….
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Selamat pagi, Bu. Silahkan duduk.”
Mama Reta duduk berhadapan dengan dokter yang dulu memeriksa Reta di ruang serba putih itu.
Ia bergegas pergi ke rumah sakit setelah mendapat telepon dari dokter bahwa ada hal yang penting untuk dibicarakan.
Sang dokter mengeluarkan amplop coklat yang berukuran agak besar, berisi hasil pemeriksaan darah dan CT scan Reta.
“Ini hasil pemeriksaan CT scan dan darah Reta. Maaf, saya langsung saja, Reta menderita tumor otak stadium akhir. Ada benjolan sebesar telur di kepalanya dan untuk meghilangkannya harus dilakukan operasi.”
Mama Reta terkejut. Ia tak percaya anak sulungnya itu sakit , padahal Reta terlihat baik – baik saja, walaupun wajahnya tampak agak pucat akhir – akhir ini.
“Sebaiknya Reta dioperasi, sebelum tumor mematikan ini semakin besar dikepalanya.”
“Berapa biayanya , Dok ?”
“Sekitar Rp 50 juta, Bu. Setelah operasi, Reta juga harus mengikuti rehabilitasi untuk pemulihan kondisinya, dan biayanya juga cukup mahal. Operasi ini harus dilakukan secepatnya, kalau anak Ibu tidak segera di operasi, Ia bisa mengalami koma bahkan meninggal…. ”
****
Rifko mendapat tugas untuk menerjemahkan bahasa Inggris. Satu – satunya tempat yang paling nyaman untuk mengerjakan tugas dadakan adalah perpustakaan.
Ia menghampiri rak tempat kamus - kamus berada.
Saat menarik kamus bahasa Inggris, ada sebuah buku tipis yang terselip diantara kamus – kamus tebal tersebut. Buku yang agak lusuh.
Iseng – iseng Rifko membuka buku tersebut dan membacanya.
Buku itu berisi cerita tentang seorang gadis yang mencintai pria yang telah memiliki kekasih.
Ditulis dengan pulpen berwarna hitam, dan tulisannya cukup rapi.
Namun sayangnya cerita tersebut belum selesai.
“Ni buku punya sapa yah, sedih amat ceritanya….”, gumam Rifko dalam hati.
Tak lama kemudian bel tanda istirahat selesai berbunyi.
Ia mengembalikan buku tersebut ke tempatnya dan bergegas ke kelas.
****
Bel akhir pelajaran berbunyi.
“Time to go to home !”, seru Sella.
Ia nampak bersemangat sepanjang hari ini. Reta tak henti tersenyum dibuatnya.
“Eh , Sel, gue pinjem hape dong, mau SMS bokap.”
Sella memberikan HPnya, dan saat HP tersebut di tangan Reta, ada SMS masuk.
SMS dari Johan. Reta mengurungkan niatnya untuk meminjam HP Sella.
“Ada SMS nih, Sell..”, Reta mengembalikan HP Sella.
“Ga jadi pake ?”
“Ngga , deh. Makasih ya.”, Reta tersenyum, sebenarnya menahan tawa.
Reta berjalan di koridor dan Ia tertegun. Matanya tak bisa berkedip melihat dua orang sedang berpegangan tangan…….
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Wind of Time - 27
Esoknya, Reta sudah bangun pagi – pagi sekali.
Ia sudah memikirkan dan merencanakan semuanya semalaman, yaitu hal yang akan Ia lakukan pagi ini.
Kalau Ia tidak gesit maka nasi yang seharusnya dikukus akan mencair jadi bubur.
Sesampainya di sekolah, Ia memastikan tidak ada yang melihatnya.
Reta menyelinap ke lantai atas. Bukan ke kelas, tetapi ke toilet perempuan.
Walaupun masih menjinjing tas sekolahnya, Reta tetap menunggu di balik pintu toilet.
Sekitar 20 menit berlalu, akhirnya seseorang lewat di koridor.
Ditariknya tangan orang itu dengan agak kasar.
Hanya cara paksaan ini satu – satunya jalan agar Reta dapat berbicara dengan orang tersebut.
Mona membanting tangan Reta yang mencengkramnya amat keras.
“Mau apa lu narik gue kesini ?!”, nada bicara Mona tampak begitu ketus.
Reta menjadi agak kesal, namun Ia menahan resa kesalnya agar urusan ini selesai.
“Gue mau selesaikan urusan kita sekarang. Kenapa lu begitu ma gue, selalu menghindar dan selalu buang muka ?”
“Memang lu berhak tau ? Kan terserah gue mau sikap gue seperti apa !”
“Iya gue harus tahu ! Karena gue sahabat lu juga, Mon !”
“Sahabat ? Sahabat macam apa lu ? Menusuk orang dari belakang itu bisa disebut sahabat? Munafik !”
Reta tertegun, “Maksud lu ? Memang gue ngapain ? ”
“Sadar, dong, lu tuh suka jelek – jelekkin gue, rendahin gue dan ngata – ngatain gue dibelakang gue. Masa lu ga tau apa yang udah lu perbuat ?”
Reta bingung. Ia tak pernah membicarakan orang, apalagi sahabat – sahabatnya.
Tapi kenapa Mona bisa berkata seperti itu?
Padahal Mona bukan gadis biasa. Kecantikannya sebanding dengan sifatnya.
Apa mungkin karena salah arah pergaulan ?
“Gue ga pernah melakukan hal itu. Gue ga pernah ngatain lu atau siapapun dibelakang orangnya.”,
“Gue ga percaya. Lu pasti bohong.”
Reta menghela nafas, mengatur emosinya agar tidak meledak – ledak.
“Ya sudah kalo ga percaya. Gue ngomong apa adanya dan memang gue ga pernah melakukan hal – hal itu.”
Reta keluar dari toilet dengan rasa kesal yang dipendam.
Entah siapa yang mencuci otak Mona. Ia menjadi berubah drastis.
***
Sepanjang jam pelajaran metematika, Reta terus saja melamun.
Pikirannya melayang – layang , dan jatuh pada teman - temannya.
Mengapa Mona bisa berubah ? Mengapa tutur bicaranya jadi kasar ?
Siapa yang meracuni otaknya ?
Kemudian Rifko, kenapa dia jadi cuek gitu ?
Biasanya dia menyapa, ya minimal tersenyum……..
Reta merasakan kepalanya pusing dan mencoba untuk menahan sakitnya..
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ia sudah memikirkan dan merencanakan semuanya semalaman, yaitu hal yang akan Ia lakukan pagi ini.
Kalau Ia tidak gesit maka nasi yang seharusnya dikukus akan mencair jadi bubur.
Sesampainya di sekolah, Ia memastikan tidak ada yang melihatnya.
Reta menyelinap ke lantai atas. Bukan ke kelas, tetapi ke toilet perempuan.
Walaupun masih menjinjing tas sekolahnya, Reta tetap menunggu di balik pintu toilet.
Sekitar 20 menit berlalu, akhirnya seseorang lewat di koridor.
Ditariknya tangan orang itu dengan agak kasar.
Hanya cara paksaan ini satu – satunya jalan agar Reta dapat berbicara dengan orang tersebut.
Mona membanting tangan Reta yang mencengkramnya amat keras.
“Mau apa lu narik gue kesini ?!”, nada bicara Mona tampak begitu ketus.
Reta menjadi agak kesal, namun Ia menahan resa kesalnya agar urusan ini selesai.
“Gue mau selesaikan urusan kita sekarang. Kenapa lu begitu ma gue, selalu menghindar dan selalu buang muka ?”
“Memang lu berhak tau ? Kan terserah gue mau sikap gue seperti apa !”
“Iya gue harus tahu ! Karena gue sahabat lu juga, Mon !”
“Sahabat ? Sahabat macam apa lu ? Menusuk orang dari belakang itu bisa disebut sahabat? Munafik !”
Reta tertegun, “Maksud lu ? Memang gue ngapain ? ”
“Sadar, dong, lu tuh suka jelek – jelekkin gue, rendahin gue dan ngata – ngatain gue dibelakang gue. Masa lu ga tau apa yang udah lu perbuat ?”
Reta bingung. Ia tak pernah membicarakan orang, apalagi sahabat – sahabatnya.
Tapi kenapa Mona bisa berkata seperti itu?
Padahal Mona bukan gadis biasa. Kecantikannya sebanding dengan sifatnya.
Apa mungkin karena salah arah pergaulan ?
“Gue ga pernah melakukan hal itu. Gue ga pernah ngatain lu atau siapapun dibelakang orangnya.”,
“Gue ga percaya. Lu pasti bohong.”
Reta menghela nafas, mengatur emosinya agar tidak meledak – ledak.
“Ya sudah kalo ga percaya. Gue ngomong apa adanya dan memang gue ga pernah melakukan hal – hal itu.”
Reta keluar dari toilet dengan rasa kesal yang dipendam.
Entah siapa yang mencuci otak Mona. Ia menjadi berubah drastis.
***
Sepanjang jam pelajaran metematika, Reta terus saja melamun.
Pikirannya melayang – layang , dan jatuh pada teman - temannya.
Mengapa Mona bisa berubah ? Mengapa tutur bicaranya jadi kasar ?
Siapa yang meracuni otaknya ?
Kemudian Rifko, kenapa dia jadi cuek gitu ?
Biasanya dia menyapa, ya minimal tersenyum……..
Reta merasakan kepalanya pusing dan mencoba untuk menahan sakitnya..
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Wind of Time - 26
Reta menoleh kebelakang, “Oh, hai Zaki…”
“Hmm… Kamu mau kemana ?”
“Ke perpustakaan… Memangnya kenapa ?”
“Bisa bicara sebentar ? Aku mau ngomong sesuatu..”
Perpustakaan begitu sepi. Di pojok ruangan, Reta duduk berhadapan dengan Zaki. Raut wajah Zaki tampak sangat serius.
“Jadi begini..... Waktunya sebentar lagi..”
“Waktu ? Waktu apa, kak ?”
“Itu sangat sulit dijelaskan…Yang pasti cuma satu pesanku, selesaikan urusanmu dan lakukan hal yang ingin kamu lakukan segera sebelum terlambat…”
Reta termenung sesaat. Ia sama sekali tidak mengerti apa maksud dari kata – kata Zaki.
“Urusan apa , Kak ? Dan apa yang harus kulakukan ?”
“Cuma kamu yang tahu jawabannya. Bunga sakura hanya mekar di musim semi…”
Reta semakin tidak mengerti. Entah kemana arah pembicaraan sebenarnya.
“Sssstt… Hoi Reta !”, Sella memanggilnya dengan agak berbisik.
“Ada apa, Sel ? Bersinar amat…”,
Sella mengambil tempat duduk yang berada di hadapan Reta.
“Loh, kok…..”, Reta menoleh ke kiri dan kanan.
“Kenapa, Ret ?”
“Hmm… Ngga kenapa – napa…”,
Lagi – lagi dia menghilang, gumam Reta….
“By the way kenapa tuh muka lu bersinar – sinar? Silau tau… Hahhahahaha.. ”
“Mo tauuuuu ajaaaa….”
“Wah jangan – jangan abis mojok sama Johan ya….”
“Ha ? Apa tadi loe bilang ? Ulangi !”,
“Sella abis mojok sama Johan yaaaaaaaaa ?”, Reta menahan tawa.
Ujung - ujungnya satu jitakan mendarat di kepala Reta.
“Aduuuh sakkiiiiiit….”, suara Reta terdengar agak keras.
“Reta ! Sella ! Kalau bercanda diluar saja ! Ini perpustakaan !”, kak Elina nampak agak kesal karena ada suara ribut sementara Ia sedang serius baca Koran..
Bel tanda berakhir istirahat pun berbunyi. Reta dan Sella pun kembali ke kelas, tentunya setelah meminta maaf pada Kak Elina.
Malam, pk. 22.00
Reta tidur – tiduran sambil memandang langit – langit kamarnya.
Pikirannya menerobos jauh. Kata – kata Zaki saat di perpustakaan begitu membingungkan.
Ia harus menyelesaikan urusannya dan melakukan hal yang ingin ia lakukan.
Sesuatu yang menyesakkan tiba – tiba datang. Ia merasa ada sesuatu yang membuatnya begitu tertekan akhir – akhir ini. Sesuatu yang harus dituntaskan, seperti ulangan yang di remedial.
“Oh iya !”, Reta bangkit dari tempat tidurnya.
“Aku tahu apa yang harus kulakukan besok. Tak bisa ditunda dan tidak ada siaran ulangnya.”
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Hmm… Kamu mau kemana ?”
“Ke perpustakaan… Memangnya kenapa ?”
“Bisa bicara sebentar ? Aku mau ngomong sesuatu..”
Perpustakaan begitu sepi. Di pojok ruangan, Reta duduk berhadapan dengan Zaki. Raut wajah Zaki tampak sangat serius.
“Jadi begini..... Waktunya sebentar lagi..”
“Waktu ? Waktu apa, kak ?”
“Itu sangat sulit dijelaskan…Yang pasti cuma satu pesanku, selesaikan urusanmu dan lakukan hal yang ingin kamu lakukan segera sebelum terlambat…”
Reta termenung sesaat. Ia sama sekali tidak mengerti apa maksud dari kata – kata Zaki.
“Urusan apa , Kak ? Dan apa yang harus kulakukan ?”
“Cuma kamu yang tahu jawabannya. Bunga sakura hanya mekar di musim semi…”
Reta semakin tidak mengerti. Entah kemana arah pembicaraan sebenarnya.
“Sssstt… Hoi Reta !”, Sella memanggilnya dengan agak berbisik.
“Ada apa, Sel ? Bersinar amat…”,
Sella mengambil tempat duduk yang berada di hadapan Reta.
“Loh, kok…..”, Reta menoleh ke kiri dan kanan.
“Kenapa, Ret ?”
“Hmm… Ngga kenapa – napa…”,
Lagi – lagi dia menghilang, gumam Reta….
“By the way kenapa tuh muka lu bersinar – sinar? Silau tau… Hahhahahaha.. ”
“Mo tauuuuu ajaaaa….”
“Wah jangan – jangan abis mojok sama Johan ya….”
“Ha ? Apa tadi loe bilang ? Ulangi !”,
“Sella abis mojok sama Johan yaaaaaaaaa ?”, Reta menahan tawa.
Ujung - ujungnya satu jitakan mendarat di kepala Reta.
“Aduuuh sakkiiiiiit….”, suara Reta terdengar agak keras.
“Reta ! Sella ! Kalau bercanda diluar saja ! Ini perpustakaan !”, kak Elina nampak agak kesal karena ada suara ribut sementara Ia sedang serius baca Koran..
Bel tanda berakhir istirahat pun berbunyi. Reta dan Sella pun kembali ke kelas, tentunya setelah meminta maaf pada Kak Elina.
Malam, pk. 22.00
Reta tidur – tiduran sambil memandang langit – langit kamarnya.
Pikirannya menerobos jauh. Kata – kata Zaki saat di perpustakaan begitu membingungkan.
Ia harus menyelesaikan urusannya dan melakukan hal yang ingin ia lakukan.
Sesuatu yang menyesakkan tiba – tiba datang. Ia merasa ada sesuatu yang membuatnya begitu tertekan akhir – akhir ini. Sesuatu yang harus dituntaskan, seperti ulangan yang di remedial.
“Oh iya !”, Reta bangkit dari tempat tidurnya.
“Aku tahu apa yang harus kulakukan besok. Tak bisa ditunda dan tidak ada siaran ulangnya.”
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Langganan:
Komentar (Atom)