Jumat, 22 Januari 2010

Wind of Time - 29

Karina nongol lagi di sini….
Dan didepan matanya, Karina gandengan tangan dengan Rifko.
Hatinya terasa pedih, seperti diiris – iris. Lagi – lagi, dan terus terjadi.

“Selesaikan urusanmu, sekarang.”
Reta berbalik. Zaki di belakangnya…
Angin berhembus perlahan, menerbangkan dedaunan yang kering kecoklatan.

“Urusan apa, Kak ? Aku ga ngerti maksud kakak…”
“Urusan dalam kehidupanmu, hal – hal yang akan merubah masa depan orang – orang di sekitarmu…”
“Tapi aku ga ngerti, Kak, bisa jelaskan apa itu ?”
“Tidak bisa. Kau tahu sendiri apa urusan yang aku maksud.…”

Zaki berjalan menuju ke lantai atas dan menghilang begitu cepat.
Sementara Reta semakin kebingungan. Matanya terasa panas.
Entah sampai kapan rasa sakit ini menyelimutinya. Pedih sekali……..

Reta pun berjalan melalui Rifko dan Karina, namun mereka tampak cuek, seakan dirinya tidak ada. Rifko sama sekali tidak menoleh padanya, sibuk ngobrol berduaan dengan Karina.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Itu siapa ?”
”Itu temenku.”
“Temenmu yang mana ?”
“Temen satu sekolah, memangnya kenapa ?
“Kok aku ga tau ?”, Karina menatap Rifko begitu dalam, “Kamu suka ya sama dia ?”
“Enggak.”, jawab Rifko singkat, menutupi keterkejutan akan pertanyaan tersebut.
“Kok tadi kelihatannya kamu akrab banget sama dia ?”
“Masa, sih ? Biasa aja tuh.”
“Menurutku ngga biasa.” , Karina terdiam sesaat.

Matanya berusaha menerobos hati Rifko. Tatapannya begitu serius.
“Kamu masih sayang kan sama aku ?”

Rifko terdiam sesaat, berpikir dan berkata, “ Iya, aku masih sayang kamu.”
Karina menggenggam tangan Rifko erat,
“Aku benar – benar sayang sama kamu, jangan tinggalin aku…….”

Karina memeluk Rifko erat., di lorong rumah sakit yang begitu sepi..


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Rifko menatap langit. Gelap, sangat gelap.
Segelap hatinya sekarang.
Percakapannya dengan Karina saat itu yang membuatnya menjauhi Reta.
Sesungguhnya Ia ingin jujur, tapi Ia kasihan pada Karina.
Gadis itu selalu jadi korban para playboy, terlalu bodoh.

Ia sendiri sebenarnya hanya tertarik pada kecantikan Karina, bukan karena sifatnya.
Karina amat manja , agresif, dan posesif. Pertanyaannya tak habis – habis.
Rifko merasa seperti berhadapan dengan anak kecil.

Sangat berbeda dengan Reta. Rifko merasa nyaman berada disampingnya.
Senyumnya berbeda dengan senyum gadis lain, dan binar matanya yang indah…..
Kali ini hatinya tak bisa berbohong.


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar