Jumat, 22 Januari 2010

Wind of Time - 30

Disaat yang bersamaan, Reta bebaring di tempat tidurnya.
“Maksudnya ‘urusan’ apa, sih… Aku sama sekali ga ngerti maksud kak Zaki. Sama sekali ga ada petunjuk. Lalu maksudnya ‘sebentar lagi’ itu apa… Aku ga ngerti sama sekali…”

Seseorang mengetuk jendela kamar Reta.
“Siapa itu ?”, Reta membuka jendelanya. Tercium aroma khas bunga melati.
Ia teringat sesuatu. Langsung ditutupnya pintu jendela dan Ia berlari keluar, mencari pot bunga melati yang Ia tanam.
“Sudah sebulan tak terurus, semoga tidak mati…”, gumam Reta.

Ia menghampiri pot berwarna hitam yang berada di sudut halaman rumah.
“Ini dia………”, Reta setengah bengong. Bunganya bermekaran dan tampak segar, padahal Ia tak mengurusnya karena sibuk dengan pekerjaan sekolah.
“Siapa yang ngurus tanaman ini ?”, Reta menggaruk kepala, bingung.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pagi terasa begitu dingin, mendung menutupi senyum langit.
Reta mengetatkan jaketnya dan berjalan perlahan di koridor sekolah.
Saat berjalan melewati toilet perempuan, tak sengaja Ia mendengar dua orang sedang berbicara dengan agak berbisik, namun tetap terdengar karena sekolah masih amat sepi.

“Barangnya masih ada , ga ?”, Reta mengenal suara tersebut sebagai suara Ferika.
“Masih, mau pesen berapa ?”, terdengar suara seorang perempuan, namun ia tak mengenal suara tersebut.
“5 bungkus, sekalian suntikan. Berapa harganya ?”

Degh…… Jantung Reta berdegup kencang.
Jangan – jangan.. Ferika membeli barang haram ! Lebih parahnya lagi, transaksi terjadi di sekolah. Entah siapa perempuan satu lagi, yang pasti dia bandarnya, pikir Reta.

“Empat ratus ribu. Tunai ya”
“Gue lagi ga ada duit nih. Nanti gue ajak si Mona deh, temen sekelas gue. Anaknya tajir, pasti bakal cash terus bayarnya.”

Reta terkejut mendengarnya. Ternyata Ferika bukan anak baik – baik.
Mona benar - benar dalam bahaya sekarang.
Ia pun berlari menuju kelasnya sebelum ketahuan menguping pembicaraan mereka.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bel istirahat berbunyi. Reta berjalan perlahan keluar kelas.
Sejak mendengar percakapan tadi pagi, Ia merasa tak tenang.
Ia tak mau sahabatnya terjerumus.
Walaupun Mona tidak mempercayainya lagi, walaupun Ia sudah ditinggalkan,
Tetapi Ia akan tetap selalu melindungi sahabat – sahabatnya.

Saat melihat Mona dan Ferika berjalan berdua ke toilet, Reta mengikuti diam – diam.
Ia menguping pembicaraan mereka dibalik pintu.

“Eh, saudara gue jualan minuman, nih. Mau coba ga ?”
“Minuman apa, Ka ?”
“Ice lemon tea gitu deh.. Besok gue bawa ya.”
“Oke deh…..”

Reta berlari meninggalkan toilet sebelum ada yang melihatnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar