Esoknya, Reta sudah bangun pagi – pagi sekali.
Ia sudah memikirkan dan merencanakan semuanya semalaman, yaitu hal yang akan Ia lakukan pagi ini.
Kalau Ia tidak gesit maka nasi yang seharusnya dikukus akan mencair jadi bubur.
Sesampainya di sekolah, Ia memastikan tidak ada yang melihatnya.
Reta menyelinap ke lantai atas. Bukan ke kelas, tetapi ke toilet perempuan.
Walaupun masih menjinjing tas sekolahnya, Reta tetap menunggu di balik pintu toilet.
Sekitar 20 menit berlalu, akhirnya seseorang lewat di koridor.
Ditariknya tangan orang itu dengan agak kasar.
Hanya cara paksaan ini satu – satunya jalan agar Reta dapat berbicara dengan orang tersebut.
Mona membanting tangan Reta yang mencengkramnya amat keras.
“Mau apa lu narik gue kesini ?!”, nada bicara Mona tampak begitu ketus.
Reta menjadi agak kesal, namun Ia menahan resa kesalnya agar urusan ini selesai.
“Gue mau selesaikan urusan kita sekarang. Kenapa lu begitu ma gue, selalu menghindar dan selalu buang muka ?”
“Memang lu berhak tau ? Kan terserah gue mau sikap gue seperti apa !”
“Iya gue harus tahu ! Karena gue sahabat lu juga, Mon !”
“Sahabat ? Sahabat macam apa lu ? Menusuk orang dari belakang itu bisa disebut sahabat? Munafik !”
Reta tertegun, “Maksud lu ? Memang gue ngapain ? ”
“Sadar, dong, lu tuh suka jelek – jelekkin gue, rendahin gue dan ngata – ngatain gue dibelakang gue. Masa lu ga tau apa yang udah lu perbuat ?”
Reta bingung. Ia tak pernah membicarakan orang, apalagi sahabat – sahabatnya.
Tapi kenapa Mona bisa berkata seperti itu?
Padahal Mona bukan gadis biasa. Kecantikannya sebanding dengan sifatnya.
Apa mungkin karena salah arah pergaulan ?
“Gue ga pernah melakukan hal itu. Gue ga pernah ngatain lu atau siapapun dibelakang orangnya.”,
“Gue ga percaya. Lu pasti bohong.”
Reta menghela nafas, mengatur emosinya agar tidak meledak – ledak.
“Ya sudah kalo ga percaya. Gue ngomong apa adanya dan memang gue ga pernah melakukan hal – hal itu.”
Reta keluar dari toilet dengan rasa kesal yang dipendam.
Entah siapa yang mencuci otak Mona. Ia menjadi berubah drastis.
***
Sepanjang jam pelajaran metematika, Reta terus saja melamun.
Pikirannya melayang – layang , dan jatuh pada teman - temannya.
Mengapa Mona bisa berubah ? Mengapa tutur bicaranya jadi kasar ?
Siapa yang meracuni otaknya ?
Kemudian Rifko, kenapa dia jadi cuek gitu ?
Biasanya dia menyapa, ya minimal tersenyum……..
Reta merasakan kepalanya pusing dan mencoba untuk menahan sakitnya..
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar