“Selamat pagi, Pak.”
“Selamat pagi, Bu. Silahkan duduk.”
Mama Reta duduk berhadapan dengan dokter yang dulu memeriksa Reta di ruang serba putih itu.
Ia bergegas pergi ke rumah sakit setelah mendapat telepon dari dokter bahwa ada hal yang penting untuk dibicarakan.
Sang dokter mengeluarkan amplop coklat yang berukuran agak besar, berisi hasil pemeriksaan darah dan CT scan Reta.
“Ini hasil pemeriksaan CT scan dan darah Reta. Maaf, saya langsung saja, Reta menderita tumor otak stadium akhir. Ada benjolan sebesar telur di kepalanya dan untuk meghilangkannya harus dilakukan operasi.”
Mama Reta terkejut. Ia tak percaya anak sulungnya itu sakit , padahal Reta terlihat baik – baik saja, walaupun wajahnya tampak agak pucat akhir – akhir ini.
“Sebaiknya Reta dioperasi, sebelum tumor mematikan ini semakin besar dikepalanya.”
“Berapa biayanya , Dok ?”
“Sekitar Rp 50 juta, Bu. Setelah operasi, Reta juga harus mengikuti rehabilitasi untuk pemulihan kondisinya, dan biayanya juga cukup mahal. Operasi ini harus dilakukan secepatnya, kalau anak Ibu tidak segera di operasi, Ia bisa mengalami koma bahkan meninggal…. ”
****
Rifko mendapat tugas untuk menerjemahkan bahasa Inggris. Satu – satunya tempat yang paling nyaman untuk mengerjakan tugas dadakan adalah perpustakaan.
Ia menghampiri rak tempat kamus - kamus berada.
Saat menarik kamus bahasa Inggris, ada sebuah buku tipis yang terselip diantara kamus – kamus tebal tersebut. Buku yang agak lusuh.
Iseng – iseng Rifko membuka buku tersebut dan membacanya.
Buku itu berisi cerita tentang seorang gadis yang mencintai pria yang telah memiliki kekasih.
Ditulis dengan pulpen berwarna hitam, dan tulisannya cukup rapi.
Namun sayangnya cerita tersebut belum selesai.
“Ni buku punya sapa yah, sedih amat ceritanya….”, gumam Rifko dalam hati.
Tak lama kemudian bel tanda istirahat selesai berbunyi.
Ia mengembalikan buku tersebut ke tempatnya dan bergegas ke kelas.
****
Bel akhir pelajaran berbunyi.
“Time to go to home !”, seru Sella.
Ia nampak bersemangat sepanjang hari ini. Reta tak henti tersenyum dibuatnya.
“Eh , Sel, gue pinjem hape dong, mau SMS bokap.”
Sella memberikan HPnya, dan saat HP tersebut di tangan Reta, ada SMS masuk.
SMS dari Johan. Reta mengurungkan niatnya untuk meminjam HP Sella.
“Ada SMS nih, Sell..”, Reta mengembalikan HP Sella.
“Ga jadi pake ?”
“Ngga , deh. Makasih ya.”, Reta tersenyum, sebenarnya menahan tawa.
Reta berjalan di koridor dan Ia tertegun. Matanya tak bisa berkedip melihat dua orang sedang berpegangan tangan…….
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar