Bisikan itu membuat pedihnya tertahan. Hatinya bersikeras untuk tetap bangun dan mengahadapi yang ada di depan matanya. Angin pun berhembus perlahan……
Kata – kata Jean menciptakan kebisuan. Anak – anak yang mengerumuni memperhatikan serius percakapan mereka.
Reta mengangkat kepalanya dan menatap Jean.
“Lalu ? Ada lagi yang mau kamu katakan ?”, Reta lemas, jatuh terduduk di pinggir lapangan.
“Memang aku salah, aku sudah buat Nicholas menjadi bete dan kesal. Aku sama sekali tidak tahu semua sikapku membuat Nicholas tertekan. Dan sekarang aku hanya bisa minta maaf, pada kamu, dan terutama, pada Nicholas. Aku benar – benar sayang sama dia. Tapi……….. Aku merasa sama sekali tidak pantas untuk dimaafkan. Aku sangat jahat. Nicholas pun belum tentu mau memaafkan aku…..”
Jean dan seluruh anak – anak yang mengerumuni sangat terkejut dengan kalimat Reta tadi. Jean yang tadinya berniat untuk melabrak Reta, hatinya menjadi agak luluh karena mendengar permintaan maaf Reta yang tulus.
Ketulusannya menjalari seluruh tubuhnya dan membersihkan niat – niat setan dalam pikiran. Jean menatap kedalam mata Reta, hingga ia hanya bisa berkata,
“Kalau gitu jangan minta maaf ke gue, tapi mintalah maaf ke Nicholas. Gue hanya menyampaikan perasaan dia aja.”
“Tapi kurasa semua ini sudah terlambat…… Dia benci aku…” Reta mulai pesimis.
“Tak ada kata terlambat untuk permohonan maaf yang tulus, dari hati yang paling dalam.”, Jean tersenyum tipis. Reta akhirnya berusaha untuk meyakinkan dirinya.
Perlahan ia berjalan menghampiri Nicholas yang sedang mengobrol dengan sahabatnya di lorong sekolah.
“Em.. Maaf ganggu.. Aku mau bicara sama Nicho.. Nicho bisa bicara sebentar? Aku mau ngomong sesuatu……………”
Nicho melipat tangannya, “Mau ngomong apa?” nada bicaranya terkesan agak jutek.
“A…. Aku… Mau… Minta maaf..…”, Reta menunduk. Ia tak ingin Nicho melihatnya menangis, “A….. Aku……. Minta maaf atas.… Perilaku ku selama ini…. Karena selama ini aku sangat menyebalkan… Semua sikapku…… selalu membuatmu bete dan kesal… Membuatmu…. merasa tertekan begitu lama… Kuakui…. aku memang tak tahu malu… Aku sangat jahat…..membuatmu menjadi seperti ini.. Bahkan mungkin kata maaf tak cukup untukmu… tapi sungguh, aku mohon maaf dan aku sangat menyesal……………………”
Reta mengulurkan tangannya, berharap Nicho memaafkannya.
Walaupun kemungkinan untuk dimaafkan sangatlah kecil, tapi setidaknya ia sudah minta maaf dan mengungkapkan semua rasa bersalahnya.
~~~~~~~~~~
Blog ini dibuat untuk membuka suara seorang anak perempuan yang terkurung tapi ingin suaranya didengar...
Sabtu, 20 Juni 2009
Minggu, 14 Juni 2009
Wind of Time - 9
“Hai, ingat aku?” Reta menoleh.
“Kamu, kan…”Reta bingung mau berkata apa, ”Kenapa kamu bisa ada disini?”
Cowok berpakaian putih – biru itu berlutut, tersenyum. “Kamu kenapa?”
Reta diam dan menunduk, wajahnya agak pucat. “Aku sangat takut…. Aku bersalah dan aku tak pantas berada di depan dia dan………. saudaranya… Aku terus mengulangi kesalahan itu selama setahun dan melakukannya tanpa pernah merasa bersalah, dan sejak saat aku tahu kalau itu semua salah, aku jadi takut dan malu bertemu dengan dia.. Aku benar – benar bodoh.. Seperti cewek ga bener……”
“Kalau begitu, mintalah maaf pada dia, lakukan sekarang. Waktu terus berjalan, cepatlah hampiri dia, sebelum istirahat selesai.”
“Ta… Tapi… Apa dia mau memaafkan cewek seperti aku? Aku ga pantes untuk dimaafin…” Reta menunduk, “Aku.. Membuat orang lain tidak tenang selama setahun lebih.. Aku sangat jahat..”
“Jangan terlalu pesimis. Cobalah dulu, kalau belum dicoba, kan, tidak akan tahu dia akan memaafkanmu atau tidak” Cowok itu menggenggam tangan Reta, “Sekarang maju dan hampiri dia. Mintalah maaf dari hatimu yang terdalam.”
Reta merasakan angin berhembus pelan. Tiba – tiba muncul keberaniannya untuk maju.
“Baiklah, aku akan coba…..” Reta berdiri. Ia menguatkan hatinya dan berusaha untuk yakin kalau ia akan berhasil menghadapi situasi ini.
Sang cowok misterius pun ikut berdiri dan berbisik “Sekarang, hampiri dia..”
Reta berjalan perlahan ke pinggir lapangan sekolah, mendekati gadis berambut panjang yang memanggilnya tadi.
“Gue mau bicara sama lu.” Jean menatap mata Reta. Tatapan yang sangat serius.
“Sikap lu selama ini terhadap Nicholas benar – benar keterlaluan. Sejak lu bilang kata – kata itu ke orang – orang, ditambah lagi sikap lu yang seperti ini, Nicholas menjadi berubah.”
“Dia kadang cerita ke gue, betapa dia bete dan kesal selama ini. Dia sebenarnya tidak begitu peduli dengan kata – kata orang, tetapi sikap lu ke dia yang buat dia muak dan ilfil sama lu. Kalau lu bener – bener sayang sama dia, bukan begini caranya….”
Anak – anak dari kelas Jean mendengar percakapan tersebut dan mulai mengerumuni mereka berdua. Yang main galaksin dan baru selesai makan jadi pada ngumpul disitu.
Reta malu dan menundukan kepalanya.
“Coba deh, lu ngerasain jadi Nicholas. Pasti lu capek sendiri, kan? Pasti lu bete dan kesel juga kalau diganggu terus kaya gitu.”
Kata – kata yang simpel, kan ? Tapi nada bicara dan tatapan matanya sungguh luar biasa.
Udah kayak puisi , pakai penghayatan sampai gimanaaaa gitu.
Reta hanya bisa diam. Matanya mulai berkaca – kaca. Mendadak ia mendengar bisikan seseorang, entah darimana suara itu.
“Hold on, Reta. Tetap bertahan, jangan menangis. Kamu pasti bisa…”
~~~~~~~~~~~~
“Kamu, kan…”Reta bingung mau berkata apa, ”Kenapa kamu bisa ada disini?”
Cowok berpakaian putih – biru itu berlutut, tersenyum. “Kamu kenapa?”
Reta diam dan menunduk, wajahnya agak pucat. “Aku sangat takut…. Aku bersalah dan aku tak pantas berada di depan dia dan………. saudaranya… Aku terus mengulangi kesalahan itu selama setahun dan melakukannya tanpa pernah merasa bersalah, dan sejak saat aku tahu kalau itu semua salah, aku jadi takut dan malu bertemu dengan dia.. Aku benar – benar bodoh.. Seperti cewek ga bener……”
“Kalau begitu, mintalah maaf pada dia, lakukan sekarang. Waktu terus berjalan, cepatlah hampiri dia, sebelum istirahat selesai.”
“Ta… Tapi… Apa dia mau memaafkan cewek seperti aku? Aku ga pantes untuk dimaafin…” Reta menunduk, “Aku.. Membuat orang lain tidak tenang selama setahun lebih.. Aku sangat jahat..”
“Jangan terlalu pesimis. Cobalah dulu, kalau belum dicoba, kan, tidak akan tahu dia akan memaafkanmu atau tidak” Cowok itu menggenggam tangan Reta, “Sekarang maju dan hampiri dia. Mintalah maaf dari hatimu yang terdalam.”
Reta merasakan angin berhembus pelan. Tiba – tiba muncul keberaniannya untuk maju.
“Baiklah, aku akan coba…..” Reta berdiri. Ia menguatkan hatinya dan berusaha untuk yakin kalau ia akan berhasil menghadapi situasi ini.
Sang cowok misterius pun ikut berdiri dan berbisik “Sekarang, hampiri dia..”
Reta berjalan perlahan ke pinggir lapangan sekolah, mendekati gadis berambut panjang yang memanggilnya tadi.
“Gue mau bicara sama lu.” Jean menatap mata Reta. Tatapan yang sangat serius.
“Sikap lu selama ini terhadap Nicholas benar – benar keterlaluan. Sejak lu bilang kata – kata itu ke orang – orang, ditambah lagi sikap lu yang seperti ini, Nicholas menjadi berubah.”
“Dia kadang cerita ke gue, betapa dia bete dan kesal selama ini. Dia sebenarnya tidak begitu peduli dengan kata – kata orang, tetapi sikap lu ke dia yang buat dia muak dan ilfil sama lu. Kalau lu bener – bener sayang sama dia, bukan begini caranya….”
Anak – anak dari kelas Jean mendengar percakapan tersebut dan mulai mengerumuni mereka berdua. Yang main galaksin dan baru selesai makan jadi pada ngumpul disitu.
Reta malu dan menundukan kepalanya.
“Coba deh, lu ngerasain jadi Nicholas. Pasti lu capek sendiri, kan? Pasti lu bete dan kesel juga kalau diganggu terus kaya gitu.”
Kata – kata yang simpel, kan ? Tapi nada bicara dan tatapan matanya sungguh luar biasa.
Udah kayak puisi , pakai penghayatan sampai gimanaaaa gitu.
Reta hanya bisa diam. Matanya mulai berkaca – kaca. Mendadak ia mendengar bisikan seseorang, entah darimana suara itu.
“Hold on, Reta. Tetap bertahan, jangan menangis. Kamu pasti bisa…”
~~~~~~~~~~~~
Wind of Time - 8
“Retaa…. Ayo kita pulang…” Reta menoleh. Mama Reta ternyata sudah datang.
“Iya, Ma.. Tunggu sebentar..”
Namun saat ia melihat kearah bangku tadi… Cowok itu udah ga ada.
Uggggh…. Kelepasan lagi , deh!
“Reta, kita jemput adikmu dulu ya.. Udah terlambat nih, kasihan dia nunggu lama.”
Karena mamanya yang ngomong, jadi Reta hanya menjawab, “Iya, Ma..”
Pk. 13.30, disekolah Kita, adik Reta
Sekolah adiknya, yang merupakan tempatnya belajar dulu, agak sepi, hanya ada orang tua yang menunggu anak – anaknya. Reta berdiri di pintu utama sekolah, ia bertemu dengan Pak Toto, penjaga sekolah.
“Siang pak Toto”, sapa Reta.
“Neng Reta?” Pak Toto terkejut, tumben –tumbennya Reta datang ke SD. Memang, sejak lulus dari situ, Reta tidak pernah datang berkunjung. “Apa kabar, neng? Lama tidak bertemu, ya.”
“Iya, pak. Sejak lulus dari sini, saya tidak pernah berkunjung ke SD lagi. Oh, ya, pak, saya boleh masuk ke dalam, ga?”
“Tentu saja boleh, neng. Silakan..”
Pak Toto membukakan pintu.
Reta melangkahkan kaki, masuk kedalam area sekolah.
Ia memperhatikan sekeliling lapangan. Ada berbagai macam tanaman termasuk.. Bunga melati ?? Sejak kapan ada bunga melati disini?
Reta penasaran dan mendekati bunga tersebut.
“Lama banget ya, aku ga dateng kesini. Sekolah ini bener – bener berubah.” gumam Reta.
Mendadak angin bertiup kencang. Bunga – bunga yang ada menjadi rontok dan berterbangan.
Daun – daun tanaman di sisi lapangan rontok satu persatu.
Hanya bunga melati yang masih berdiri tegak. Harumya pun menyebar.
Semua pemandangan tersebut membawa rasa tenang bagi Reta.
Dan tak lama kemudian, angin berhenti berhembus.
“Reta… Sini deh, gue mau bicara..”
Seseorang memanggilnya perlahan. Reta menengok kebelakang dan…………………
Keadaan berubah.
Lapangan sangat ramai. Anak – anak bermain galaksin, petak umpet, dan kejar – kejaran… Yang sedang makan, duduk sejajar di pinggir lorong sekolah..
Terlihat dari lapangan, anak – anak berseragam putih - merah duduk memenuhi koridor di dekat pintu utama sekolah.
Suasana ini…. Reta terdiam. Jantungnya berdetak kencang.
Ia tidak berani menghadapinya. Sungguh ia ketakutan.
Reta terduduk lemas dan menutup wajah dengan kedua belah tangannya.
“Aku.. tidak bisa… Aku takut.. A… Aku tidak berani menghadapi dia….”
Sesosok tubuh tinggi berdiri disebelahnya, kemudian berlutut dan menyentuh bahunya…………
~~~~~~~~~~
“Iya, Ma.. Tunggu sebentar..”
Namun saat ia melihat kearah bangku tadi… Cowok itu udah ga ada.
Uggggh…. Kelepasan lagi , deh!
“Reta, kita jemput adikmu dulu ya.. Udah terlambat nih, kasihan dia nunggu lama.”
Karena mamanya yang ngomong, jadi Reta hanya menjawab, “Iya, Ma..”
Pk. 13.30, disekolah Kita, adik Reta
Sekolah adiknya, yang merupakan tempatnya belajar dulu, agak sepi, hanya ada orang tua yang menunggu anak – anaknya. Reta berdiri di pintu utama sekolah, ia bertemu dengan Pak Toto, penjaga sekolah.
“Siang pak Toto”, sapa Reta.
“Neng Reta?” Pak Toto terkejut, tumben –tumbennya Reta datang ke SD. Memang, sejak lulus dari situ, Reta tidak pernah datang berkunjung. “Apa kabar, neng? Lama tidak bertemu, ya.”
“Iya, pak. Sejak lulus dari sini, saya tidak pernah berkunjung ke SD lagi. Oh, ya, pak, saya boleh masuk ke dalam, ga?”
“Tentu saja boleh, neng. Silakan..”
Pak Toto membukakan pintu.
Reta melangkahkan kaki, masuk kedalam area sekolah.
Ia memperhatikan sekeliling lapangan. Ada berbagai macam tanaman termasuk.. Bunga melati ?? Sejak kapan ada bunga melati disini?
Reta penasaran dan mendekati bunga tersebut.
“Lama banget ya, aku ga dateng kesini. Sekolah ini bener – bener berubah.” gumam Reta.
Mendadak angin bertiup kencang. Bunga – bunga yang ada menjadi rontok dan berterbangan.
Daun – daun tanaman di sisi lapangan rontok satu persatu.
Hanya bunga melati yang masih berdiri tegak. Harumya pun menyebar.
Semua pemandangan tersebut membawa rasa tenang bagi Reta.
Dan tak lama kemudian, angin berhenti berhembus.
“Reta… Sini deh, gue mau bicara..”
Seseorang memanggilnya perlahan. Reta menengok kebelakang dan…………………
Keadaan berubah.
Lapangan sangat ramai. Anak – anak bermain galaksin, petak umpet, dan kejar – kejaran… Yang sedang makan, duduk sejajar di pinggir lorong sekolah..
Terlihat dari lapangan, anak – anak berseragam putih - merah duduk memenuhi koridor di dekat pintu utama sekolah.
Suasana ini…. Reta terdiam. Jantungnya berdetak kencang.
Ia tidak berani menghadapinya. Sungguh ia ketakutan.
Reta terduduk lemas dan menutup wajah dengan kedua belah tangannya.
“Aku.. tidak bisa… Aku takut.. A… Aku tidak berani menghadapi dia….”
Sesosok tubuh tinggi berdiri disebelahnya, kemudian berlutut dan menyentuh bahunya…………
~~~~~~~~~~
Jumat, 12 Juni 2009
Wind of Time - 7
Gubrak ! Reta menabrak Rifko yang membawa buku – buku.
“Aduh maaf.. Jadi berantakan begini bukunya…” Reta merasa tidak enak pada Rifko.
“Gapapa kok, kak.. Mestinya saya yang minta maaf, tadi saya ga liat jalan..” Mereka berdua memungut dan merapikan buku – buku yang berserakan.
“Nih, kak, saya disuruh Bu Intan untuk memberikan buku – buku ini ini ke anak – anak kelas kakak..”
“Oh.. Terima kasih , ya..” Reta membawa buku – buku tersebut ke meja guru.
“Oh, iya… Ngga usah panggil kakak, panggil Reta aja..” Reta terseyum
Rifko agak terkejut. Baru pertama kali ada kakak kelas yang berkata seperti itu.
Karena selama ia sekolah di situ, kebanyakan kakak kelas cenderung bersikap angkuh dan tidak bersahabat. Namun sikap yang berbeda diberikan oleh Reta.
“Oh.. Ehm.. Iya.. Oke deh..” Rifko membalas senyum Reta. “Saya permisi dulu, kak… Maksudku.. Reta.”
Anak yang baik… Gumam Reta, dan ia pun masuk ke kelas.
Rifko berjalan kembali ke kelasnya sambil senyam - senyum ga jelas.
Reta ramah dan bersahabat. Kata – katanya sopan, berbeda dengan kakak kelas yang lain.
Dimatanya, Reta adalah gadis yang ‘kesan pertama’nya paling baik diantara gadis lainnya yang pernah ia kenal.
Pk. 12.45, sepulang sekolah
Reta berdiri di lorong kelas, menunggu mamanya menjemput. Memang kadang dijemput telat, bahkan hingga Reta menunggu satu jam seperti kemarin.
Handphone-nya bergetar lagi. Pasti dari si cowok misterius, pikirnya.
“Halo?”
“Selamat siang”, ternyata benar, cowok itu lagi.
”Selamat siang.”
“Bagaimana hari ini? Menyenangkan?”
“Tidak juga. Hari yang aneh…” Reta mengawasi keadaan. Matanya menangkap seorang cowok berseragam SMA sedang duduk – duduk sambil menggenggam handphone di tangan kirinya..
“Aneh? Memang ada apa? Hehe…”
“Ga ada apa – apa kok, hanya saja kamu datang dan pergi secara misterius.” Reta mengendap – endap mendekati cowok itu. Kena kamu sekarang ! gumamnya.
“Hahahaha…” cowok itu tertawa, “Makin misterius, makin seru..”
“Tidak ada misteri yang tak dapat dipecahkan”
Reta semakin dekat dengan sosok yang sedang duduk itu.
“Oh ya? Lihat saja nanti”, Reta semakin mendekati cowok itu.
Tinggal beberapa langkah lagi………
~~~~~~~~~~~~~
“Aduh maaf.. Jadi berantakan begini bukunya…” Reta merasa tidak enak pada Rifko.
“Gapapa kok, kak.. Mestinya saya yang minta maaf, tadi saya ga liat jalan..” Mereka berdua memungut dan merapikan buku – buku yang berserakan.
“Nih, kak, saya disuruh Bu Intan untuk memberikan buku – buku ini ini ke anak – anak kelas kakak..”
“Oh.. Terima kasih , ya..” Reta membawa buku – buku tersebut ke meja guru.
“Oh, iya… Ngga usah panggil kakak, panggil Reta aja..” Reta terseyum
Rifko agak terkejut. Baru pertama kali ada kakak kelas yang berkata seperti itu.
Karena selama ia sekolah di situ, kebanyakan kakak kelas cenderung bersikap angkuh dan tidak bersahabat. Namun sikap yang berbeda diberikan oleh Reta.
“Oh.. Ehm.. Iya.. Oke deh..” Rifko membalas senyum Reta. “Saya permisi dulu, kak… Maksudku.. Reta.”
Anak yang baik… Gumam Reta, dan ia pun masuk ke kelas.
Rifko berjalan kembali ke kelasnya sambil senyam - senyum ga jelas.
Reta ramah dan bersahabat. Kata – katanya sopan, berbeda dengan kakak kelas yang lain.
Dimatanya, Reta adalah gadis yang ‘kesan pertama’nya paling baik diantara gadis lainnya yang pernah ia kenal.
Pk. 12.45, sepulang sekolah
Reta berdiri di lorong kelas, menunggu mamanya menjemput. Memang kadang dijemput telat, bahkan hingga Reta menunggu satu jam seperti kemarin.
Handphone-nya bergetar lagi. Pasti dari si cowok misterius, pikirnya.
“Halo?”
“Selamat siang”, ternyata benar, cowok itu lagi.
”Selamat siang.”
“Bagaimana hari ini? Menyenangkan?”
“Tidak juga. Hari yang aneh…” Reta mengawasi keadaan. Matanya menangkap seorang cowok berseragam SMA sedang duduk – duduk sambil menggenggam handphone di tangan kirinya..
“Aneh? Memang ada apa? Hehe…”
“Ga ada apa – apa kok, hanya saja kamu datang dan pergi secara misterius.” Reta mengendap – endap mendekati cowok itu. Kena kamu sekarang ! gumamnya.
“Hahahaha…” cowok itu tertawa, “Makin misterius, makin seru..”
“Tidak ada misteri yang tak dapat dipecahkan”
Reta semakin dekat dengan sosok yang sedang duduk itu.
“Oh ya? Lihat saja nanti”, Reta semakin mendekati cowok itu.
Tinggal beberapa langkah lagi………
~~~~~~~~~~~~~
Kamis, 04 Juni 2009
Wind of Time - 6
“Kak…. Bangun kak… kakak masih hidup, kan?”
Reta membuka matanya, melihat sekitar.
Lorong masih sepi, seorang cowok berlutut disampingnya.
“Kamu siapa? Kok ada disini?” Tanya Reta.
“Saya Rifko. Tadi waktu mau ke kelas saya lihat kakak duduk di lantai sambil menundukkan kepala. Saya pikir kakak sakit”
“Oh, saya ngga kenapa – kenapa, kok, saya masih sehat walafiat. Terima kasih, ya, saya mau ke kelas dulu. Permisi…”
Reta bangkit dan tersenyum pada Rifko, lalu berjalan menuju kelasnya yang berada di lantai bawah. Kepalanya terasa pusing, hatinya seperti tersayat kembali mengingat kejadian barusan.
Rifko menatap sosok Reta dari jauh. Matanya tak lepas dari Reta.
“Gadis yang manis….” pikirnya, dan ia pun kembali ke kelas.
Pk. 08.45, pelajaran Matematika.
Reta menghela nafas. Pikirannya melayang jauh.
Ia tidak konsentrasi pada pelajaran Matematika yang disampaikan Bu Intan..
Sejak bertemu cowok misterius itu, ia bisa kembali ke masa lalunya.
Masa lalu yang mengorek luka lamanya. Saat angin yang menenangkan itu berhembus, tiba – tiba dia berada pada waktu – waktu yang dulu menyiksanya.
Detik – detik yang menorehkan sebuah penyesalan tiada akhir.
Reta memainkan pulpen di tangan. Pandangannya menerawang.
Tanpa disadari, Bu Intan memperhatikannya.
“Reta..” Bu Intan menegur perlahan, namun Reta nampaknya tak mendengar karena sudah jatuh dalam pikirannya.
Kemudian Bu Intan menyentuh bahu Reta, “Reta..”
“Eh, kenapa, Bu?” Reta agak gelagapan.
“Reta, kamu kenapa? Kelihatannya lemas sekali, kamu sedang sakit?”
“Ehm.. Enggak , kok, Bu..” Reta tersenyum walaupun agak dipaksakan.
Kriiiiiiiiiiing…………..
Bel tanda istirahat pun berbunyi. Teman – teman sekelas Reta sudah berhamburan keluar kelas. Reta masih duduk di kursinya. Rasanya berat untuk berdiri.
“Reta…..” seseorang memanggilnya. Reta menengok kearah pintu. Seorang cowok berpakaian putih abu – abu tersenyum, bersender di pintu kelas sambil melipat tangannya.
Spontan Reta langsung berdiri lalu berlari ke depan kelas, “Heiii…. Tunggu !
Namun didepan kelas, Ia tak melihat siapa – siapa. Misterius amat, sih dia, gumamnya.
‘Ke perpustakaan aja ah, barangkali ada dia disitu..’ Reta berbalik badan namun tak sengaja ia menabrak seseorang…………….
~~~~~~~~~~~~~~~
Reta membuka matanya, melihat sekitar.
Lorong masih sepi, seorang cowok berlutut disampingnya.
“Kamu siapa? Kok ada disini?” Tanya Reta.
“Saya Rifko. Tadi waktu mau ke kelas saya lihat kakak duduk di lantai sambil menundukkan kepala. Saya pikir kakak sakit”
“Oh, saya ngga kenapa – kenapa, kok, saya masih sehat walafiat. Terima kasih, ya, saya mau ke kelas dulu. Permisi…”
Reta bangkit dan tersenyum pada Rifko, lalu berjalan menuju kelasnya yang berada di lantai bawah. Kepalanya terasa pusing, hatinya seperti tersayat kembali mengingat kejadian barusan.
Rifko menatap sosok Reta dari jauh. Matanya tak lepas dari Reta.
“Gadis yang manis….” pikirnya, dan ia pun kembali ke kelas.
Pk. 08.45, pelajaran Matematika.
Reta menghela nafas. Pikirannya melayang jauh.
Ia tidak konsentrasi pada pelajaran Matematika yang disampaikan Bu Intan..
Sejak bertemu cowok misterius itu, ia bisa kembali ke masa lalunya.
Masa lalu yang mengorek luka lamanya. Saat angin yang menenangkan itu berhembus, tiba – tiba dia berada pada waktu – waktu yang dulu menyiksanya.
Detik – detik yang menorehkan sebuah penyesalan tiada akhir.
Reta memainkan pulpen di tangan. Pandangannya menerawang.
Tanpa disadari, Bu Intan memperhatikannya.
“Reta..” Bu Intan menegur perlahan, namun Reta nampaknya tak mendengar karena sudah jatuh dalam pikirannya.
Kemudian Bu Intan menyentuh bahu Reta, “Reta..”
“Eh, kenapa, Bu?” Reta agak gelagapan.
“Reta, kamu kenapa? Kelihatannya lemas sekali, kamu sedang sakit?”
“Ehm.. Enggak , kok, Bu..” Reta tersenyum walaupun agak dipaksakan.
Kriiiiiiiiiiing…………..
Bel tanda istirahat pun berbunyi. Teman – teman sekelas Reta sudah berhamburan keluar kelas. Reta masih duduk di kursinya. Rasanya berat untuk berdiri.
“Reta…..” seseorang memanggilnya. Reta menengok kearah pintu. Seorang cowok berpakaian putih abu – abu tersenyum, bersender di pintu kelas sambil melipat tangannya.
Spontan Reta langsung berdiri lalu berlari ke depan kelas, “Heiii…. Tunggu !
Namun didepan kelas, Ia tak melihat siapa – siapa. Misterius amat, sih dia, gumamnya.
‘Ke perpustakaan aja ah, barangkali ada dia disitu..’ Reta berbalik badan namun tak sengaja ia menabrak seseorang…………….
~~~~~~~~~~~~~~~
Wind of Time - 5
15 Juli 2009, pk 06..15, di sekolah
Hari ini Reta sangat berbeda dibanding hari – hari sebelumnya. Wajah Reta terlihat lebih ceria, ia seperti mendapatkan hidupnya kembali. Saat memasuki gedung sekolah dan berjalan di koridor lantai bawah, Reta sangat terkejut melihat tanaman di pojok lapangan.
Itu kan bunga melati ! Padahal sebelumnya tak ada. Siapa yang tanam bunga itu?
Karena penasaran, Reta menghampiri pot bunga itu. Di salah satu tangkainya, ada kertas bertuliskan namanya ! Sungguh aneh.
Tiba – tiba angin berhembus pelan dan menenangkan lagi hatinya. Reta melirik ke koridor lantai dua, dan dia melihat cowok itu, yang kemarin kasih bunga melati !
Cowok itu tersenyum kepada Reta. Reta lalu berlari ke lantai atas.
Aku pasti akan segera tau siapa kamu ! serunya dalam hati.
Namun sesampainya di koridor lantai 2, cowok misterius itu udah ga ada.
Waduh ?! Kemana dia? Reta kebingungan. Celinguk kiri kanan tapi ga ada. Akhirnya Reta berbicara sendiri , entah pada siapa..
“Hoi, siapapun kamu, aku mau bicara sama kamu, aku hanya mau berterima kasih atas bunga yang kamu berikan kemarin, bunganya bagus, aku suka. Keluarlah, aku mau bicara!”
Tiba – tiba cowok itu muncul dibelakang Reta, bersender tembok sambil melipat tangannya. Gayanya cool abisssss….. Reta tak sanggup menatap wajah cowok itu dan bingung mau berkata apalagi.
“Te…. Terima kasih….” Reta menundukkan kepala.
Cowok itu kemudian tersenyum, mengibaskan tangannya dan angin semilir yang menenangkan itu kembali datang. Reta mengangkat kepalanya, dan………
Sekarang Reta sedang berdiri diantara kerumunan anak – anak ….. kelas 1 ???
Ia merasa pernah mengalami kejadian ini..
Suasana yang sama sekali tidak asing… 1 setengah tahun yang lalu…..
Dimana untuk pertama kalinya ia merasakan sakit yang luar biasa..
Perasaan menyiksa itu pun kembali menyelimuti dirinya, namun ia berusaha untuk tegar..
Luka lamanya tak pernah bisa disembuhkan……….
Saat melihat mereka berdua mengobrol ……..
Reta tak sanggup melihat kedepan. Ia hanya bisa berusaha menahan air matanya.
Kepalanya menunduk, bibirnya terkatup rapat…
~~~~~~~~~~~~~
Hari ini Reta sangat berbeda dibanding hari – hari sebelumnya. Wajah Reta terlihat lebih ceria, ia seperti mendapatkan hidupnya kembali. Saat memasuki gedung sekolah dan berjalan di koridor lantai bawah, Reta sangat terkejut melihat tanaman di pojok lapangan.
Itu kan bunga melati ! Padahal sebelumnya tak ada. Siapa yang tanam bunga itu?
Karena penasaran, Reta menghampiri pot bunga itu. Di salah satu tangkainya, ada kertas bertuliskan namanya ! Sungguh aneh.
Tiba – tiba angin berhembus pelan dan menenangkan lagi hatinya. Reta melirik ke koridor lantai dua, dan dia melihat cowok itu, yang kemarin kasih bunga melati !
Cowok itu tersenyum kepada Reta. Reta lalu berlari ke lantai atas.
Aku pasti akan segera tau siapa kamu ! serunya dalam hati.
Namun sesampainya di koridor lantai 2, cowok misterius itu udah ga ada.
Waduh ?! Kemana dia? Reta kebingungan. Celinguk kiri kanan tapi ga ada. Akhirnya Reta berbicara sendiri , entah pada siapa..
“Hoi, siapapun kamu, aku mau bicara sama kamu, aku hanya mau berterima kasih atas bunga yang kamu berikan kemarin, bunganya bagus, aku suka. Keluarlah, aku mau bicara!”
Tiba – tiba cowok itu muncul dibelakang Reta, bersender tembok sambil melipat tangannya. Gayanya cool abisssss….. Reta tak sanggup menatap wajah cowok itu dan bingung mau berkata apalagi.
“Te…. Terima kasih….” Reta menundukkan kepala.
Cowok itu kemudian tersenyum, mengibaskan tangannya dan angin semilir yang menenangkan itu kembali datang. Reta mengangkat kepalanya, dan………
Sekarang Reta sedang berdiri diantara kerumunan anak – anak ….. kelas 1 ???
Ia merasa pernah mengalami kejadian ini..
Suasana yang sama sekali tidak asing… 1 setengah tahun yang lalu…..
Dimana untuk pertama kalinya ia merasakan sakit yang luar biasa..
Perasaan menyiksa itu pun kembali menyelimuti dirinya, namun ia berusaha untuk tegar..
Luka lamanya tak pernah bisa disembuhkan……….
Saat melihat mereka berdua mengobrol ……..
Reta tak sanggup melihat kedepan. Ia hanya bisa berusaha menahan air matanya.
Kepalanya menunduk, bibirnya terkatup rapat…
~~~~~~~~~~~~~
Wind of Time - 4
Reta kemudian mengangkat telpon tersebut.
“Selamat malam” suara ini... Pasti dari cowok misterius tadi ! Pikir Reta.
Siapa, sih, dia? Kalo nelpon pake private number. Tapi kalo denger suara dia tuh, perasaan jadi tenaaaaang banget.
“Selamat malam” jawab Reta ragu – ragu. “Maaf ini siapa?”
“Nadanya formal sekali ya… Hahaha… Santai aja lagi..”
Hweleh gimana mau santai.. Batin Reta. Kan takut!
“Hmm.. Kamu yang tadi siang, ya?”
“Hahaha.. Iya lah.. Bagaimna hari ini? Menyenangkan?”
“Yah, lumayan.. Membuatku lebih lega..” jawab Reta, ” Tapi kamu tau darimana nomer HPku?”
“Ada deh..”
Arrrrggggghhhhhh… Reta mulai geram, bener – bener penasaran.
“Aku masih bingung, kamu tau nomer HPku darimana? Dan kenapa kamu telpon aku pake private number? Terus kenapa kamu kasih aku bunga melati?”
“Hm.. Soal itu, gue ga bisa cerita, karena cepat atau lambat kamu pasti akan tau juga..”
Kemudian sambungan terputus.
“Halo? Halo? Yee dimatiin lagi… Kurang ajibbbb” gumam Reta.
‘Bener – bener hari yang aneh. Tadi siang ada cowok misterius yang kasih bunga melati. Aku kembali ke masa SD yang suram dan melawan si duo – sok . Lalu barusan tuh cowok telpon lagi, pas aku nanya tentang bunga melati, malah ditutup telponnya. Siapa sih dia?’ Reta berpikir keras, lalu dia teringat buku psikologi yang diberikan mamanya.
Ia membaca beberapa halaman dan mendapat ide brilliant.
Akhirnya ia memutuskan untuk tidur.
Dan untuk pertama kali, dia bisa tidur nyenyak….
Dalam tidurnya ia mendengar suara cowok yang sangat halus.
Muka cowok itu samar – samar, dia tak dapat melihat wajah cowok itu dengan jelas.
Tapi Reta menyukai suaranya yang jernih.
Besenandung dengan iringan petikan gitar yang mengalun indah.
Namun mengapa lagu itu…
Terdengar amat menyedihkan?
~~~~~~~~~
“Selamat malam” suara ini... Pasti dari cowok misterius tadi ! Pikir Reta.
Siapa, sih, dia? Kalo nelpon pake private number. Tapi kalo denger suara dia tuh, perasaan jadi tenaaaaang banget.
“Selamat malam” jawab Reta ragu – ragu. “Maaf ini siapa?”
“Nadanya formal sekali ya… Hahaha… Santai aja lagi..”
Hweleh gimana mau santai.. Batin Reta. Kan takut!
“Hmm.. Kamu yang tadi siang, ya?”
“Hahaha.. Iya lah.. Bagaimna hari ini? Menyenangkan?”
“Yah, lumayan.. Membuatku lebih lega..” jawab Reta, ” Tapi kamu tau darimana nomer HPku?”
“Ada deh..”
Arrrrggggghhhhhh… Reta mulai geram, bener – bener penasaran.
“Aku masih bingung, kamu tau nomer HPku darimana? Dan kenapa kamu telpon aku pake private number? Terus kenapa kamu kasih aku bunga melati?”
“Hm.. Soal itu, gue ga bisa cerita, karena cepat atau lambat kamu pasti akan tau juga..”
Kemudian sambungan terputus.
“Halo? Halo? Yee dimatiin lagi… Kurang ajibbbb” gumam Reta.
‘Bener – bener hari yang aneh. Tadi siang ada cowok misterius yang kasih bunga melati. Aku kembali ke masa SD yang suram dan melawan si duo – sok . Lalu barusan tuh cowok telpon lagi, pas aku nanya tentang bunga melati, malah ditutup telponnya. Siapa sih dia?’ Reta berpikir keras, lalu dia teringat buku psikologi yang diberikan mamanya.
Ia membaca beberapa halaman dan mendapat ide brilliant.
Akhirnya ia memutuskan untuk tidur.
Dan untuk pertama kali, dia bisa tidur nyenyak….
Dalam tidurnya ia mendengar suara cowok yang sangat halus.
Muka cowok itu samar – samar, dia tak dapat melihat wajah cowok itu dengan jelas.
Tapi Reta menyukai suaranya yang jernih.
Besenandung dengan iringan petikan gitar yang mengalun indah.
Namun mengapa lagu itu…
Terdengar amat menyedihkan?
~~~~~~~~~
Wind of Time - 3
Reta menahan air matanya, ‘Aku bukan anak yang tidak tahu diri, aku nggak cengeng dan aku bukan anak mami !’
Bel tanda istirahat telah selesai kemudian berbunyi,
“Udah ah, udah bel. baris, yuk, Tha” ujar Kanna,
“Capek ati gue ngurusin si anak mami.”
“Yuk.” balas Etha. Mereka kemudian berbalik badan, tanpa mereka ketahui, Reta bangkit lalu mendorong mereka hingga jatuh.
“Kalian lebih ga tau diri ! Menuduhku ngata – ngatain kalian, padahal ngomongin kalian pun aku ga pernah! Bukankah kalian yang justru menjelek – jelekkan dan memusuhiku !? Apa mau kalian ?!”
Kanna dan Etha terkejut karena Reta berani mendorong dan melawan mereka, padahal biasanya Reta menangis dan selalu pasrah pada tindakan mereka.
“Udah berani ngelawan lu ya sekarang !” Kanna mulai emosi. Kemudian duo cewek yang sok itu berdiri dan mulai menjambak rambut Reta yang dikepang. Reta kemudian membalas memukul mereka.
Kelas menjadi sangat ramai oleh sorakan anak – anak. Tak lama kemudian Reta mendengar ada yang memanggilnya……
“Reta… Reta… Kamu ketiduran ?” Mama menyentuh bahu Reta.
Reta terbangun. Oh ternyata tadi cuma mimpi.. Tapi kok rasanya kayak beneran ya? Aneh… Batinnya dalam hati.
“Nih, mama beliin buku, dibaca ya.” Mama meletakkan sebuah buku dalam bungkusan plastik, lalu meninggalkan Reta yang masih termenung bingung.
Tadi ia kembali ke masa – masa kelas 1 SD, saat Etha mendorongnya hingga jatuh. Dulu dia didorong hingga jatuh lalu menangis. Saat itu dia menanggung malu yang luar biasa. Semua teman – teman seangkatannya mengejeknya habis – habisan dan menjadikannya bulan – bulanan. Biasanya saat mengingat itu, perasaannya menjadi sedih.
Namun setelah mengalami reka ulang lagi, rasanya ia menjadi lega karena berhasil melawan mereka.
Daripada pusing – pusing, mending baca buku aja, ah… pikir Reta. Kemudian ia mengambil bungkusan yang diberikan mamanya dan membaca sampul buku bertuliskan DUNIA PSIKOLOGI.
Dibuka olehnya plastik yang menyelimuti buku tersebut.
Dia melihat – lihat acak halaman yang ada. Baru beberapa kalimat ia baca, tiba – tiba handphonenya berdering.
Lagi – lagi private number.
“Haduh, siapa lagi, sih, nih…..” gumam Reta…..
~~~~~~~
Bel tanda istirahat telah selesai kemudian berbunyi,
“Udah ah, udah bel. baris, yuk, Tha” ujar Kanna,
“Capek ati gue ngurusin si anak mami.”
“Yuk.” balas Etha. Mereka kemudian berbalik badan, tanpa mereka ketahui, Reta bangkit lalu mendorong mereka hingga jatuh.
“Kalian lebih ga tau diri ! Menuduhku ngata – ngatain kalian, padahal ngomongin kalian pun aku ga pernah! Bukankah kalian yang justru menjelek – jelekkan dan memusuhiku !? Apa mau kalian ?!”
Kanna dan Etha terkejut karena Reta berani mendorong dan melawan mereka, padahal biasanya Reta menangis dan selalu pasrah pada tindakan mereka.
“Udah berani ngelawan lu ya sekarang !” Kanna mulai emosi. Kemudian duo cewek yang sok itu berdiri dan mulai menjambak rambut Reta yang dikepang. Reta kemudian membalas memukul mereka.
Kelas menjadi sangat ramai oleh sorakan anak – anak. Tak lama kemudian Reta mendengar ada yang memanggilnya……
“Reta… Reta… Kamu ketiduran ?” Mama menyentuh bahu Reta.
Reta terbangun. Oh ternyata tadi cuma mimpi.. Tapi kok rasanya kayak beneran ya? Aneh… Batinnya dalam hati.
“Nih, mama beliin buku, dibaca ya.” Mama meletakkan sebuah buku dalam bungkusan plastik, lalu meninggalkan Reta yang masih termenung bingung.
Tadi ia kembali ke masa – masa kelas 1 SD, saat Etha mendorongnya hingga jatuh. Dulu dia didorong hingga jatuh lalu menangis. Saat itu dia menanggung malu yang luar biasa. Semua teman – teman seangkatannya mengejeknya habis – habisan dan menjadikannya bulan – bulanan. Biasanya saat mengingat itu, perasaannya menjadi sedih.
Namun setelah mengalami reka ulang lagi, rasanya ia menjadi lega karena berhasil melawan mereka.
Daripada pusing – pusing, mending baca buku aja, ah… pikir Reta. Kemudian ia mengambil bungkusan yang diberikan mamanya dan membaca sampul buku bertuliskan DUNIA PSIKOLOGI.
Dibuka olehnya plastik yang menyelimuti buku tersebut.
Dia melihat – lihat acak halaman yang ada. Baru beberapa kalimat ia baca, tiba – tiba handphonenya berdering.
Lagi – lagi private number.
“Haduh, siapa lagi, sih, nih…..” gumam Reta…..
~~~~~~~
Wind of Time - 2
Pk 14.00, di rumah Reta
Setelah sampai di rumah, Reta segera ke dapur, mengambil gelas plastik lalu mengisinya dengan air. Diletakkannya bunga melati yang diberikan oleh cowok misterius tadi kedalam gelas itu. Siapa, sih, cowok tadi…. Bikin penasaran aja.. Lalu buat apa dia kasih bunga melati ini? Tanya Reta dalam hati.
Pk 20.00, dikamar Reta
Malam yang begitu sepi. Orang tua dan adik – adik Reta sedang pergi ke mall. Reta menolak untuk ikut. Sekarang ia duduk di depan meja belajarnya sambil memandangi bunga melati. Ia jadi teringat saat kelas 1 SD, masa – masa itu sangat membuatnya tersiksa.. Entah ada angin dari mana yang membuatnya merasa sangat tenang dan memejamkan mata............
“Heh cewek ga tau diri ! Sini lu !” Panggil Kanna dan Etha, dua anak yang memusuhi Reta saat kelas 1 SD.
Reta terkejut mendengar panggilan itu lalu membuka matanya. Kemudian Etha menarik tangannya.
‘Loh, kok?’ Reta melihat sekeliling, ‘Ini , kan, kelasku dulu pas kelas 1 SD, tata ruang kelasnya juga sama seperti dulu.. Masih pakai papan hitam, lagi…”
Reta benar – benar bingung. Situasinya persis seperti saat Kanna dan Etha, dua cewek yang paling sok se-angkatannya waktu SD dulu, mendorongnya hingga jatuh. Tiba – tiba kejadian mengesalkan ini terulang lagi, tapi kok bisa?! Atau ini hanya mimpi ? Reta masih tetap berpikir sementara Kanna dan Etha memandangnya dengan sinis.
“Heh anak mami, lu pikir dengan ngata – ngatain kita masalah akan selesai? Enggak ! Lu dalam masalah besar sekarang!” Reta berusaha mencerna kata – kata Kanna. Kapan aku ngatain mereka? Apa dua anak ini pikirannya ga beres?
“Dengan mudahnya lu bilang kita ini kecentilan dan suka marah – marah ga jelas ?! Mau lu apa, hah ???!!!!!! DASAR GA TAU DIRI !!!” Etha berteriak lalu mendorong Reta hingga jatuh.
Reta terdiam. Tentu saja ia sakit hati diperlakukan seperti itu. Matanya berkaca – kaca.
Kanna dan Etha semakin menjadi – jadi.
“Dasar cengeng, nangis mulu kerjaannya. Nanti pasti ngadu ka mamanya, bilang abis dimarahin. Dasar anak mami !” Kanna mengejek – ngejek,
“anak mami ! anak mami! Hahahahaha!”
Teman – teman sekelas Reta menertawainya, Kanna dan Etha pun semakin menjadi – jadi.
~~~~~~~
Setelah sampai di rumah, Reta segera ke dapur, mengambil gelas plastik lalu mengisinya dengan air. Diletakkannya bunga melati yang diberikan oleh cowok misterius tadi kedalam gelas itu. Siapa, sih, cowok tadi…. Bikin penasaran aja.. Lalu buat apa dia kasih bunga melati ini? Tanya Reta dalam hati.
Pk 20.00, dikamar Reta
Malam yang begitu sepi. Orang tua dan adik – adik Reta sedang pergi ke mall. Reta menolak untuk ikut. Sekarang ia duduk di depan meja belajarnya sambil memandangi bunga melati. Ia jadi teringat saat kelas 1 SD, masa – masa itu sangat membuatnya tersiksa.. Entah ada angin dari mana yang membuatnya merasa sangat tenang dan memejamkan mata............
“Heh cewek ga tau diri ! Sini lu !” Panggil Kanna dan Etha, dua anak yang memusuhi Reta saat kelas 1 SD.
Reta terkejut mendengar panggilan itu lalu membuka matanya. Kemudian Etha menarik tangannya.
‘Loh, kok?’ Reta melihat sekeliling, ‘Ini , kan, kelasku dulu pas kelas 1 SD, tata ruang kelasnya juga sama seperti dulu.. Masih pakai papan hitam, lagi…”
Reta benar – benar bingung. Situasinya persis seperti saat Kanna dan Etha, dua cewek yang paling sok se-angkatannya waktu SD dulu, mendorongnya hingga jatuh. Tiba – tiba kejadian mengesalkan ini terulang lagi, tapi kok bisa?! Atau ini hanya mimpi ? Reta masih tetap berpikir sementara Kanna dan Etha memandangnya dengan sinis.
“Heh anak mami, lu pikir dengan ngata – ngatain kita masalah akan selesai? Enggak ! Lu dalam masalah besar sekarang!” Reta berusaha mencerna kata – kata Kanna. Kapan aku ngatain mereka? Apa dua anak ini pikirannya ga beres?
“Dengan mudahnya lu bilang kita ini kecentilan dan suka marah – marah ga jelas ?! Mau lu apa, hah ???!!!!!! DASAR GA TAU DIRI !!!” Etha berteriak lalu mendorong Reta hingga jatuh.
Reta terdiam. Tentu saja ia sakit hati diperlakukan seperti itu. Matanya berkaca – kaca.
Kanna dan Etha semakin menjadi – jadi.
“Dasar cengeng, nangis mulu kerjaannya. Nanti pasti ngadu ka mamanya, bilang abis dimarahin. Dasar anak mami !” Kanna mengejek – ngejek,
“anak mami ! anak mami! Hahahahaha!”
Teman – teman sekelas Reta menertawainya, Kanna dan Etha pun semakin menjadi – jadi.
~~~~~~~
Langganan:
Komentar (Atom)