Sabtu, 20 Juni 2009

Wind of Time - 10

Bisikan itu membuat pedihnya tertahan. Hatinya bersikeras untuk tetap bangun dan mengahadapi yang ada di depan matanya. Angin pun berhembus perlahan……

Kata – kata Jean menciptakan kebisuan. Anak – anak yang mengerumuni memperhatikan serius percakapan mereka.
Reta mengangkat kepalanya dan menatap Jean.
“Lalu ? Ada lagi yang mau kamu katakan ?”, Reta lemas, jatuh terduduk di pinggir lapangan.

“Memang aku salah, aku sudah buat Nicholas menjadi bete dan kesal. Aku sama sekali tidak tahu semua sikapku membuat Nicholas tertekan. Dan sekarang aku hanya bisa minta maaf, pada kamu, dan terutama, pada Nicholas. Aku benar – benar sayang sama dia. Tapi……….. Aku merasa sama sekali tidak pantas untuk dimaafkan. Aku sangat jahat. Nicholas pun belum tentu mau memaafkan aku…..”

Jean dan seluruh anak – anak yang mengerumuni sangat terkejut dengan kalimat Reta tadi. Jean yang tadinya berniat untuk melabrak Reta, hatinya menjadi agak luluh karena mendengar permintaan maaf Reta yang tulus.
Ketulusannya menjalari seluruh tubuhnya dan membersihkan niat – niat setan dalam pikiran. Jean menatap kedalam mata Reta, hingga ia hanya bisa berkata,

“Kalau gitu jangan minta maaf ke gue, tapi mintalah maaf ke Nicholas. Gue hanya menyampaikan perasaan dia aja.”

“Tapi kurasa semua ini sudah terlambat…… Dia benci aku…” Reta mulai pesimis.

“Tak ada kata terlambat untuk permohonan maaf yang tulus, dari hati yang paling dalam.”, Jean tersenyum tipis. Reta akhirnya berusaha untuk meyakinkan dirinya.
Perlahan ia berjalan menghampiri Nicholas yang sedang mengobrol dengan sahabatnya di lorong sekolah.

“Em.. Maaf ganggu.. Aku mau bicara sama Nicho.. Nicho bisa bicara sebentar? Aku mau ngomong sesuatu……………”

Nicho melipat tangannya, “Mau ngomong apa?” nada bicaranya terkesan agak jutek.

“A…. Aku… Mau… Minta maaf..…”, Reta menunduk. Ia tak ingin Nicho melihatnya menangis, “A….. Aku……. Minta maaf atas.… Perilaku ku selama ini…. Karena selama ini aku sangat menyebalkan… Semua sikapku…… selalu membuatmu bete dan kesal… Membuatmu…. merasa tertekan begitu lama… Kuakui…. aku memang tak tahu malu… Aku sangat jahat…..membuatmu menjadi seperti ini.. Bahkan mungkin kata maaf tak cukup untukmu… tapi sungguh, aku mohon maaf dan aku sangat menyesal……………………”

Reta mengulurkan tangannya, berharap Nicho memaafkannya.
Walaupun kemungkinan untuk dimaafkan sangatlah kecil, tapi setidaknya ia sudah minta maaf dan mengungkapkan semua rasa bersalahnya.



~~~~~~~~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar