“Hai, ingat aku?” Reta menoleh.
“Kamu, kan…”Reta bingung mau berkata apa, ”Kenapa kamu bisa ada disini?”
Cowok berpakaian putih – biru itu berlutut, tersenyum. “Kamu kenapa?”
Reta diam dan menunduk, wajahnya agak pucat. “Aku sangat takut…. Aku bersalah dan aku tak pantas berada di depan dia dan………. saudaranya… Aku terus mengulangi kesalahan itu selama setahun dan melakukannya tanpa pernah merasa bersalah, dan sejak saat aku tahu kalau itu semua salah, aku jadi takut dan malu bertemu dengan dia.. Aku benar – benar bodoh.. Seperti cewek ga bener……”
“Kalau begitu, mintalah maaf pada dia, lakukan sekarang. Waktu terus berjalan, cepatlah hampiri dia, sebelum istirahat selesai.”
“Ta… Tapi… Apa dia mau memaafkan cewek seperti aku? Aku ga pantes untuk dimaafin…” Reta menunduk, “Aku.. Membuat orang lain tidak tenang selama setahun lebih.. Aku sangat jahat..”
“Jangan terlalu pesimis. Cobalah dulu, kalau belum dicoba, kan, tidak akan tahu dia akan memaafkanmu atau tidak” Cowok itu menggenggam tangan Reta, “Sekarang maju dan hampiri dia. Mintalah maaf dari hatimu yang terdalam.”
Reta merasakan angin berhembus pelan. Tiba – tiba muncul keberaniannya untuk maju.
“Baiklah, aku akan coba…..” Reta berdiri. Ia menguatkan hatinya dan berusaha untuk yakin kalau ia akan berhasil menghadapi situasi ini.
Sang cowok misterius pun ikut berdiri dan berbisik “Sekarang, hampiri dia..”
Reta berjalan perlahan ke pinggir lapangan sekolah, mendekati gadis berambut panjang yang memanggilnya tadi.
“Gue mau bicara sama lu.” Jean menatap mata Reta. Tatapan yang sangat serius.
“Sikap lu selama ini terhadap Nicholas benar – benar keterlaluan. Sejak lu bilang kata – kata itu ke orang – orang, ditambah lagi sikap lu yang seperti ini, Nicholas menjadi berubah.”
“Dia kadang cerita ke gue, betapa dia bete dan kesal selama ini. Dia sebenarnya tidak begitu peduli dengan kata – kata orang, tetapi sikap lu ke dia yang buat dia muak dan ilfil sama lu. Kalau lu bener – bener sayang sama dia, bukan begini caranya….”
Anak – anak dari kelas Jean mendengar percakapan tersebut dan mulai mengerumuni mereka berdua. Yang main galaksin dan baru selesai makan jadi pada ngumpul disitu.
Reta malu dan menundukan kepalanya.
“Coba deh, lu ngerasain jadi Nicholas. Pasti lu capek sendiri, kan? Pasti lu bete dan kesel juga kalau diganggu terus kaya gitu.”
Kata – kata yang simpel, kan ? Tapi nada bicara dan tatapan matanya sungguh luar biasa.
Udah kayak puisi , pakai penghayatan sampai gimanaaaa gitu.
Reta hanya bisa diam. Matanya mulai berkaca – kaca. Mendadak ia mendengar bisikan seseorang, entah darimana suara itu.
“Hold on, Reta. Tetap bertahan, jangan menangis. Kamu pasti bisa…”
~~~~~~~~~~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar