Jumat, 12 Juni 2009

Wind of Time - 7

Gubrak ! Reta menabrak Rifko yang membawa buku – buku.

“Aduh maaf.. Jadi berantakan begini bukunya…” Reta merasa tidak enak pada Rifko.
“Gapapa kok, kak.. Mestinya saya yang minta maaf, tadi saya ga liat jalan..” Mereka berdua memungut dan merapikan buku – buku yang berserakan.

“Nih, kak, saya disuruh Bu Intan untuk memberikan buku – buku ini ini ke anak – anak kelas kakak..”
“Oh.. Terima kasih , ya..” Reta membawa buku – buku tersebut ke meja guru.
“Oh, iya… Ngga usah panggil kakak, panggil Reta aja..” Reta terseyum

Rifko agak terkejut. Baru pertama kali ada kakak kelas yang berkata seperti itu.
Karena selama ia sekolah di situ, kebanyakan kakak kelas cenderung bersikap angkuh dan tidak bersahabat. Namun sikap yang berbeda diberikan oleh Reta.

“Oh.. Ehm.. Iya.. Oke deh..” Rifko membalas senyum Reta. “Saya permisi dulu, kak… Maksudku.. Reta.”

Anak yang baik… Gumam Reta, dan ia pun masuk ke kelas.

Rifko berjalan kembali ke kelasnya sambil senyam - senyum ga jelas.
Reta ramah dan bersahabat. Kata – katanya sopan, berbeda dengan kakak kelas yang lain.
Dimatanya, Reta adalah gadis yang ‘kesan pertama’nya paling baik diantara gadis lainnya yang pernah ia kenal.

Pk. 12.45, sepulang sekolah

Reta berdiri di lorong kelas, menunggu mamanya menjemput. Memang kadang dijemput telat, bahkan hingga Reta menunggu satu jam seperti kemarin.

Handphone-nya bergetar lagi. Pasti dari si cowok misterius, pikirnya.

“Halo?”
“Selamat siang”, ternyata benar, cowok itu lagi.
”Selamat siang.”
“Bagaimana hari ini? Menyenangkan?”
“Tidak juga. Hari yang aneh…” Reta mengawasi keadaan. Matanya menangkap seorang cowok berseragam SMA sedang duduk – duduk sambil menggenggam handphone di tangan kirinya..

“Aneh? Memang ada apa? Hehe…”
“Ga ada apa – apa kok, hanya saja kamu datang dan pergi secara misterius.” Reta mengendap – endap mendekati cowok itu. Kena kamu sekarang ! gumamnya.

“Hahahaha…” cowok itu tertawa, “Makin misterius, makin seru..”
“Tidak ada misteri yang tak dapat dipecahkan”
Reta semakin dekat dengan sosok yang sedang duduk itu.
“Oh ya? Lihat saja nanti”, Reta semakin mendekati cowok itu.

Tinggal beberapa langkah lagi………


~~~~~~~~~~~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar