Minggu, 14 Juni 2009

Wind of Time - 8

“Retaa…. Ayo kita pulang…” Reta menoleh. Mama Reta ternyata sudah datang.
“Iya, Ma.. Tunggu sebentar..”
Namun saat ia melihat kearah bangku tadi… Cowok itu udah ga ada.
Uggggh…. Kelepasan lagi , deh!

“Reta, kita jemput adikmu dulu ya.. Udah terlambat nih, kasihan dia nunggu lama.”
Karena mamanya yang ngomong, jadi Reta hanya menjawab, “Iya, Ma..”

Pk. 13.30, disekolah Kita, adik Reta

Sekolah adiknya, yang merupakan tempatnya belajar dulu, agak sepi, hanya ada orang tua yang menunggu anak – anaknya. Reta berdiri di pintu utama sekolah, ia bertemu dengan Pak Toto, penjaga sekolah.
“Siang pak Toto”, sapa Reta.
“Neng Reta?” Pak Toto terkejut, tumben –tumbennya Reta datang ke SD. Memang, sejak lulus dari situ, Reta tidak pernah datang berkunjung. “Apa kabar, neng? Lama tidak bertemu, ya.”
“Iya, pak. Sejak lulus dari sini, saya tidak pernah berkunjung ke SD lagi. Oh, ya, pak, saya boleh masuk ke dalam, ga?”
“Tentu saja boleh, neng. Silakan..”
Pak Toto membukakan pintu.

Reta melangkahkan kaki, masuk kedalam area sekolah.
Ia memperhatikan sekeliling lapangan. Ada berbagai macam tanaman termasuk.. Bunga melati ?? Sejak kapan ada bunga melati disini?
Reta penasaran dan mendekati bunga tersebut.

“Lama banget ya, aku ga dateng kesini. Sekolah ini bener – bener berubah.” gumam Reta.
Mendadak angin bertiup kencang. Bunga – bunga yang ada menjadi rontok dan berterbangan.
Daun – daun tanaman di sisi lapangan rontok satu persatu.
Hanya bunga melati yang masih berdiri tegak. Harumya pun menyebar.
Semua pemandangan tersebut membawa rasa tenang bagi Reta.
Dan tak lama kemudian, angin berhenti berhembus.

“Reta… Sini deh, gue mau bicara..”
Seseorang memanggilnya perlahan. Reta menengok kebelakang dan…………………
Keadaan berubah.

Lapangan sangat ramai. Anak – anak bermain galaksin, petak umpet, dan kejar – kejaran… Yang sedang makan, duduk sejajar di pinggir lorong sekolah..
Terlihat dari lapangan, anak – anak berseragam putih - merah duduk memenuhi koridor di dekat pintu utama sekolah.

Suasana ini…. Reta terdiam. Jantungnya berdetak kencang.
Ia tidak berani menghadapinya. Sungguh ia ketakutan.
Reta terduduk lemas dan menutup wajah dengan kedua belah tangannya.
“Aku.. tidak bisa… Aku takut.. A… Aku tidak berani menghadapi dia….”

Sesosok tubuh tinggi berdiri disebelahnya, kemudian berlutut dan menyentuh bahunya…………




~~~~~~~~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar