Kamis, 09 Juli 2009

Wind of Time - 22

Tak lama kemudian Mama Reta datang.

“Reta… Kamu merasa lebih baik ?”
“Iya, Ma… Tapi kenapa aku bisa ada disini? Aku sakit apa?”
“Tadi siang kamu pingsan di sekolah. Tapi kamu ga kenapa – napa kok. Dokter bilang cuma kekurangan darah, lusa baru boleh pulang.”
Sang bunda tersenyum dan duduk di kursi disamping pembaringan Reta.

“Lalu sekarang Rifko kemana, Ma ?”
“Rifko sudah pulang, tadi sebelum Mama masuk kamar, dia pamit mau pulang.. Oya, dari tadi siang Rifko nemenin kamu terus, loh. Papa dan Mama ga bisa jagain kamu karena ada klien yang mau bertemu dengan Papa.”

Reta terkejut mendengarnya. Apa dia ga diomelin sama orang tuanya ?

“Dia baik sekali, ya. Dari siang sampai malam nemenin kamu.”,
Mama Reta kembali tersenyum.

Reta terdiam. Tatapan matanya tertuju pada jendela.
Sejak ada Rifko, ia melupakan sakit hatinya. Semua hal tentang Rifko ada dipikirannya.
Sandy ? Masa lalu itu sudah terlupakan.

***
Reta membuka matanya.
“Aduh mati lampu ya ? Gelap banget sih..”
Ia beranjak dari tempat tidurnya. Tangannya meraba benda – benda disekelilingnya.
Akhirnya ia menemukan gagang pintu, namun ia tak dapat membuka pintunya.

“Ada orang disana ? Bisa bukakan aku pintu ?”
Namun tak ada jawaban. Reta mengetuk pintu itu ,
“Tolong aku terjebak disini ! Tolong bukain pintunya !”
Tetap tak ada jawaban.
Kini ia duduk membelakangi pintu tersebut. Menyerah dan pasrah.

***
“Aduuuh… Pusing banget….”, Reta baru terbangun dari tidurnya.
Ya ampun ternyata tadi mimpi, pikirnya.
“Reta kamu sudah bangun ?”, Mama Reta membelai rambutnya.
“Jangan bangun dulu…”,
Mama mengambil mangkuk di meja disamping tempat tidur Reta.

“Nih, Mama buatin bubur buat kamu… Mama suapin ya..”
“Ngga usah, Ma, aku ngga laper..”
“Kalau kamu ga makan nanti ngga cepet sembuh..”

Terdengar suara pintu diketuk, “Permisi, Tante…..”
Reta agak terkejut karena suara itu sama sekali tak asing baginya.
“Oh Rifko, silahkan masuk…..”

“Ini Tante, saya bawa buah – buahan buat Reta..”
“Terima kasih ya, Rifko. Ya ampun sampai repot – repot bawa buah - buahan.. Oh iya, Tante mau ke rumah dulu sebentar. Kamu bisa jaga Reta disini ? Maaf ya Rifko jadi merepotkan kamu..”
“Tak perlu sungkan, Tante. Saya banyak waktu luang, kok…”

Mama Reta pun keluar dari kamar. Kini tinggal Reta dan Rifko berdua.

~~~~~~~~~~~~~

Wind of Time - 21

Reta tak kunjung siuman, wajahnya sangat pucat.
Karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan, akhirnya ia dibawa ke UGD.

Hujan turun deras dan petir menggelegar.
Kini Rifko, Alex, dan Bu Intan berada di lorong rumah sakit.
Bu Intan menelepon orang tua Reta, sementara Rifko mondar mandir.
Entah mengapa ia merasa gelisah. Alex terduduk menatap heran kelakuan sahabatnya.

“Tegang banget, Ko…. Sebegitu khawatirnya..”
“Wajar kali.. Gue kan temennya…”
“Oh ya? Temen atau temen ?”
Rifko tak membalas kata – kata Alex, diam seribu bahasa.

“Loe suka ya sama Reta ? Kenapa ga bilang aja ?”
Alex bangkit dari duduknya. Ia merasa sikap Rifko semakin aneh.
Sejak kenal Reta¸ Rifko menjadi berubah.
Menjadi sering memperhatikan Reta, dan dipikirannya selalu ada Reta.

Alex menarik tangan Rifko,
“Jawab pertanyaan gue sebagai cowok ! Loe suka ya sama Reta ?!”
Wajah Alex tampak sangat serius. Rifko terdiam, ia membuang muka dari sahabatnya.

Orang tua Reta pun datang tepat disaat dokter keluar dari ruang UGD.
“Ada kerabat dari pasien ?”
“Kami orang tuanya..”, Papa dan Mama Reta menjawab serentak, “Bagaimana keadaan Reta ?”, Mama Reta tampak sangat khawatir.
“Pak, Bu, bisa ikut ke ruangan saya ?”
Setelah berterima kasih pada Bu Intan, Rifko , dan Alex, orang tua Reta beserta dokter yang memeriksa berjalan menuju ruang kerja dokter.

“Silahkan duduk, Pak, Bu. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan.”
Kedua orang tua Reta duduk di depan meja , berhadapan langsung dengan dokter.

“Bagaimana keadaan anak saya, Dok ? Dia baik – baik saja, kan ?”, Papa Reta berusaha menenangkan istrinya.
“Anak Anda kekurangan darah. Namun kami akan mengambil sample darahnya untuk memastikan dia tidak mengidap penyakit apapun.”

Pk.19.38, di rumah sakit.

Reta perlahan membuka matanya.
“Dimana ini ? Kayaknya tadi aku disekolah deh….”, pikirnya.
Matanya melihat keseluruh pojok ruangan yang serba putih.

Rifko yang melihat Reta siuman langsung melepaskan tangan Reta dari genggamannya. Wajahnya tampak agak memerah.
“Emm.. Tunggu disini ya.. Gue panggil dokter dulu…”
Ia lalu beranjak dari kursinya dan pergi keluar kamar.

Tak lama kemudian dokter dan suster datang memeriksa Reta.
Kemana tuh si Rifko? Reta tak henti bertanya – tanya dalam hati…


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jumat, 03 Juli 2009

Wind of Time - 20

Baru satu langkah memasuki perpustakaan tiba – tiba Reta tersandung sesuatu..
Rifko kebetulan sedang berdiri tak jauh dari pintu. Saat melihat Reta membuka pintu dan hampir jatuh secara refleks ia menangkap Reta dalam pelukannya.

Seisi perpustakaan langsung tepuk tangan melihat kejadian tersebut.
Rifko melepaskan pelukannya, “M… Maaf…. Gue engga….”
“Emmm…. Engga apa – apa… Te… Terima kasih….”, wajah Reta terlihat memerah.
Ia langsung pergi dari perpustakaan.

Alex nyengir melihat kejadian barusan. Ia menepuk pundak Rifko.
“Keren banget, bro !”
“Keren apaan ?”, Rifko menepis tangan Alex dari pundaknya.
“Yang tadi.. Reta.. Piwid.. Hahahha”, Alex hampir ngakak melihat Rifko yang salah tingkah.
“Alex.. kalau kamu mau ngobrol keluar saja sana !”, pustakawan menegur Alex.

Alex menutup mulutnya. Giliran Rifko yang cekikikan
“Ya ampun Reta…”, bisik Alex sambil menahan tawa.
“Apaan, sih.. Ga lucu tau !”,
“Halah.. Bilang aja lu sebenernya seneng !”,
“Terserah apa kata lo aja dah…”, Rifko bergegas pergi dari perpustaaan.

Mereka tak sadar ada sepasang mata yang mengawasi di kursi paling pojok.
Cowok berseragam SMA yang terlihat sedang membaca koran.

Di koridor perpustakaan, Reta bertemu dengan Sella.
“Loh? Kok loe ga ke perpus?”,
“Hmm… Sebaiknya kita jangan berunding di perpus.”
“Memang kenapa?”, Sella kebingungan.
Tanpa banyak bicara Reta menarik tangan Sella dan mereka menuju lantai 3, tempat anak – anak SMA. Reta tahu ini beresiko karena mereka bisa ditegur guru disana, tapi hanya lantai 3 satu – satunya tempat yang tidak ada anak SMP di gedung itu.

“Ngapain kesini?”, Sella lirik kekiri kanan, “Loe ga takut diomelin?”
“Aduuuh…… Ini darurat banget, Sel…. Kita ga bisa ke perpus.. Aku malu banget..”
“Kenapa loe malu?”
“Tadi tuh diperpus….”, wajah Reta memerah, “Aku…. Dipeluk sama Rifko..”
“Hah?!”, Sella setengah melongo, “ Kok bisa?”
“Pas mau masuk perpus, aku kesandung buku - buku gitu… Aduhh…”
“Cieeeeelah Reta…..”, Sella nyengir.
“Dia tuh mau selamatin aku aja, biar ga jatuh.. Jangan mikir – macem – macem..”
“Iya deeeh…”, Sella nyengir, menahan tawa.

18 September, Pk. 13.10, pulang sekolah

Awan hitam menghiasi langit. Gelap mulai menguasai kelas Reta.
Lampu - lampu dinyalakan. Angin dingin pun berhembus perlahan.
Suhu menurun dan titik – titik air berjatuhan dari langit.

Teman- teman sekelas Reta berhamburan keluar. Kini kelas sangat sepi.
Reta merasakan kepalanya sangat pusing.
Ia berjalan keluar kelas dengan kepala agak menunduk.

Rifko berpapasan dengan Reta di lorong sekolah,
“Loe lagi sakit, Ret?”,
Reta menggeleng perlahan sambil tersenyum. Wajahnya terlihat pucat.
Tiba – tiba angin berhembus, semakin dan semakin kencang.
Mata Reta terpejam dan pasti jatuh apabila Rifko tidak merangkulnya.
Alex lewat didepan mereka malah nyengir,
“Cieeee, kapan jadiannya ? Kok ga bilang – bilang?”
“Ga lucu, Lex! Sekarang bantuin gue bawa Reta ke ruang UKS..”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~`

Kamis, 02 Juli 2009

Wind of Time - 19

Sebulan telah berlalu. Sejak malam itu Reta dan Rifko menjadi sangat akrab. Setiap kali bertemu selalu menyapa. Kalau ada perlu juga saling membantu.
Rifko juga sering memperhatikan Reta dari jauh, bahkan kadang pandangan mereka berdua mereka bertemu sampai Rifko mati gaya sendiri.

11 September, Pk. 06.26, disekolah

Reta baru saja tiba di sekolah. Dengan langkah ringan ia berjalan menuju kelasnya.
Ia melihat Mona dan Ferika sedang ngobrol berdua di pinggir koridor.
Reta menyapa Mona, namun Mona malah buang muka.
Dengan bingung Reta pun berlalu menuju kelasnya.
Angin bertiup pelan dan daun – daun berguguran.

Didekat tangga , ia bertemu dengan Rifko dan kawan sekelasnya, Alex.
“Pagi, Reta…..”, sapa Rifko.
“Pagi…..”, Reta menjawab sambil tersenyum.
Setelah Reta masuk ke kelasnya, Alex mulai mengganggu Rifko,

“Cieee…. Piwid.. piwid…”,
“Apa, sih, Lex.. Pagi – pagi berisik aja lo….”
“Yang pandangan pertama ni yeee…. Hahahaha….”
Rifko berjalan meninggalkan Alex yang tertawa - tawa. Ia sendiri sebenarnya bingung.
Apakah ia memang menyukai Reta ?

Pk.09.03, istirahat 1

Reta bertemu lagi dengan Mona. Namun Mona tampak tidak peduli dengannya. Ia tampak sibuk mengobrol dengan Ferika dan kawan – kawannya.
Akhirnya Reta dan Sella pergi ke kantin berdua.

“Aku bingung sama Mona, dia kenapa, ya? Kok jadi kayak gitu…”
“Dia lagi kesel sama loe….”, jawab Sella.
“Lho? Memang kenapa?”
“Katanya loe menjelek – jelekkan dia….”

Reta tertegun. Ia merasa tidak pernah menjelek – jelekkan siapapun,
“Kok bisa begitu, sih? Aku ga pernah jelek – jelekkin dia.”
“Entahlah. Dia yang bilang kayak gitu ke gue.”

Ia pun terdiam. Siapa yang memfitnahnya?

Pk.11.18, istirahat 2

Reta dan Sella hendak membahas masalah menganai Mona. Mereka berunding memikirkan tempat yang aman, dan akhirmya memilih perpustakaan.
Namun Sella mendapat panggilan alam hingga harus ke WC, sehingga Reta pergi duluan ke perpustakaan.
Baru saja Reta hendak membuka pintu perpustakaan, mendadak angin berhembus perlahan. Dan saat melangkahkan kakinya, ia tersandung sesuatu………



~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Wind of Time - 18

“Tiga…..”

Anthon tak dapat menangkap bolanya dan…. GOL !!!!

“Dua… Satu… !”, wasit pun meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan.
“Rifko berhasil mencetak angka di detik – detik terakhir ! Luar biasa….. Skor akhir adalah 2 – 1 untuk kelas 2B !”

“Yeaaaaaaaaaaahhhhh !!!!!!!!!!”, teman – teman sekelas Rifko bersorak penuh kemenangan. Reta tersenyum , memperhatikan Rifko dari jauh.
Diam – diam ia kagum pada Rifko. Reta pun menghampirinya.

“Selamat, ya…”, Reta mengulurkan tangannya. Rifko tersenyum bangga,
“Terima kasih.”, merekapun berjabat tangan. Rifko tiba – tiba merasakan perasaan yang aneh. Jantungnya berdebar saat bertemu dengan Reta.
Akhirnya Ia dan kawan – kawannya berjalan ke tempat mereka nongkrong.

Pk.11.45, di depan gerbang sekolah.

Rifko menunggu jemputan didepan gerbang sekolah. Sudah hampir jam 12, sekolah sangat sepi. Angin berhembus dan daun berguguran.
Seseorang menyentuh bahunya.
“Rifko…….”, Rifko membalikkan badannya dan kini ia berhadapan dengan Zaki.
Ia terkejut. Ini kan cowok SMA yang tadi ngobrol – ngobrol sama Reta, pikirnya.

“Gue bisa ngerasain perasaan lo….”, Zaki memberikan secarik kertas kecil.
“Nama pemiliknya adalah nama yang pertama kali muncul dikepala lo.”
Rifko melihat tulisan di kertas tersebut. Saat matanya melihat kedepan lagi, Zaki sudah menghilang.

Waduh, kemana dia? Kok mendadak hilang? Lalu ini nomor HP siapa ya?, gumamnya.
Tak lama kemudian mobil jemputannya datang.
Dan ia pun pulang dengan membawa rasa penasaran..

Malam pk 20.00

Rifko bosan menatap komputernya. Ia teringat kertas yang tadi siang ia dapatkan dari cowok berseragam SMA yang tidak dikenalnya.
Diambilnya kertas itu, lalu kesebelas digit nomer tersebut diketik di HP-nya.
Kemudian ia menekan tombol send.

Ditempat lain, si penerima membaca SMS yang baru saja tiba dengan keheranan. SMS itu berisi :

Hai reta, met mlm. lg ngpain?

“Nomer siapa, nih? Kok dia tau namaku ya?”, gumam Reta. Dan ia pun membalas SMSnya.

Met mlm jg. tp sory ni sapa yh?
kq tw nama sy?

Tak lama kemudian SMS balasannya datang.

Ni rifko, yg kls 2. Inget kan? Hehehe.
Lg ngpain?

Akhirnya mereka pun SMSan sampai larut malam. Dan dalam waktu semalam mereka jadi dekat satu sama lain. Mungkin hal inilah yang membuat Rifko bermimpi indah malam ini.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~`

Wind of Time - 17

Seusai upacara, Reta dan Mona mengobrol di depan ruang BP.
Mona menceritakan masalahnya.

“Oh, jadi begitu……”,
“Iya…. Gue ga bisa kayak gini terus…”, pandangan Mona menerawang jauh.
”Gue ga sayang sama dia. Sebenernya gue uda suka sama satu orang..”

Reta berpikir sesaat, lalu berkata, “Kalau gitu putusin aja dia. Tidak baik membohongi perasaan. Mungkin memang ngga adil buat dia, tapi ini satu – satunya cara yang terbaik. Buat kamu dan juga buat dia.”

Ferika tiba – tiba datang dan menarik Mona, “Mona siniiiiiiii..”
“Sory, Ret, gue kesana dulu ya..”

Kini Reta sendirian , duduk didepan ruang BP. Tiba – tiba muncul seseorang disebelah kirinya.
“Hai, apa kabar?”

Reta Reta berpaling ke kiri, lalu tersenyum. “Baik. Kamu?”
“Baik juga…”, Zaki tersenyum, “Kamu ga ikut lomba?”
“Ngga. Males…”
“Yaudah, mau nemenin aku ngobrol bentar?”
Reta mengangguk perlahan bertanda setuju. Mereka berdua tampak mengobrol seru dan tertawa – tawa.

Seseorang di lapangan menatap mereka sambil menahan bola di kakinya.
Ia kembali menggiring bola, berkumpul dengan teman – temannya.

Sella memanggil Reta dan saat Reta menoleh, Zaki menghilang secara misterius.
“Kemana lagi sih dia…”, gumam Reta.

Pk. 08.58, disekolah Reta.

Pertandingan futsal antara kelas 2B dan 3B.
Rifko menguasai lapangan. Ia merebut bola lalu menggiringnya mendekati gawang.
Komentator bercuap – cuap di depan mikrofon. Suaranya terdengar hingga seluruh seantero sekolah.

“Yaaak, Rifko berhasil merebut bola dari Zainal, ia semakin mendekati gawang 3B.”

Reta yang sedang mengobrol dengan Sella mendengar kata – kata komentator. Karena penasaran ia pun mendekati lapangan. Rifko tampak menggiring bola dengan lihai.

“Detik – detik terakhir, Waktunya tinggal… Sepuluh… Sembilan…”

Rifko semakin mendekati gawang, Ia berhasil melewati lawan - lawannya……..

“Delapan…. Tujuh… Enam…… Lima…. Empat…..”

Rifko menendang bolanya…
Teman – teman sekelas Rifko yang duduk di pinggir lapangan beranjak dari duduknya ……………


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Wind of Time - 16

Ternyata Mona dan Revin. Reta memperhatikan mereka dari jauh.
Percakapan mereka terdengar cukup jelas karena sekolah sangat sepi.

“Lalu mau kamu apa sekarang ?!” nada bicara Revin meninggi. “Aku sms kamu ga dibales.. Kenapa kamu cuekin aku terus? Apa salahku?”
“Kamu ga salah apa – apa..”,
“Lalu kenapa kamu jadi begini???? Apa yang telah aku lakukan hingga kamu menghindariku ???”
Mona terdiam. Ia tak sanggup mengatakan alasan tersebut.
Ia tak bisa menyakiti hati Revin.

Reta masih terus menyimak percakapan mereka. Perasaannya tidak enak karena ia mengetahui masalah dalam hubungan mereka.
Namun karena penasaran ia tetap mendengarkan.

“Jawab, Mon, jawab ! Kenapa kamu seperti ini?” Revin mengguncang bahu Mona,
“Aku… ga bisa bilang….”, Mona menundukkan kepalanya.

Angin kembali berhembus perlahan. ”Reta…”, panggil Mona.
Reta berbalik kebelakang. Anehnya, suasana kembali ramai.
Mona menarik tangan Reta., “Gue mau tanya sesuatu….”

Mereka duduk di bangku panjang didepan ruang BP.

“Gue ada masalah… Loe bisa bantu ga?”
“Mudah – mudahan, aku akan coba bantu sebisa mungkin…”, Reta tersenyum.

Mona baru saja mau berbicara saat ada panggilan guru untuk berbaris di lapangan.
Upacara sebentar lagi akan dimulai,” Nanti gue cerita deh..”
Reta mengangguk. Mereka berjalan ke lapangan.

Guru – guru mengatur barisan. Karena jumlah cowok kelas 2 terlalu banyak, maka beberapa anak pindah barisan ke belakang Reta.
Dan Rifko mendapat tempat tepat dibelakang Reta.

Sandy dan Rifko bersebelahan. Mereka nampak merencanakan sesuatu.
Kemudian seseorang menarik rambut Reta .
Reta menengok ke belakang. Rifko menyembunyikan tangannya di punggungnya sembari celingak celinguk ke kanan kiri seakan akan tidak tahu apa - apa.
Sandy yang berada disebelah Rifko menunjuk – nunjuk Rifko,
“Dia yang narik tuh….”

Reta nyengir, “Bagus ya, San..”

Belum semenit Reta berbalik kedepan, ada lagi yang menarik rambutnya.
Reta kembali menengok kebelakang. Rifko cengar cengir dan Sandy masih menunjuk – nunjuk Rifko dengan tangan kirinya sambil setengah berbisik, “Dia yang tarik!”
Tangan kanannya membentuk huruf V, “Bukan gue, suwer dhe !”

“Kalian…… Bagus sekali ya……. Tarik aja terus.”.

“Reta, jangan berisik !”, Bu Intan menegurnya. Reta langsung berbalik ke depan.



~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Wind of Time - 15

Sandy dan Lulu berjalan berdua di lorong depan kelas Reta.
Angin berhembus perlahan, menenangkan hati Reta. Reta mencoba bertahan.
Sesakit dan sehancur apapun hatinya, ia tetap berusaha untuk tersenyum.

Reta lewat dan menyapa mereka, “Hai …. Have nice day yahhh….”
Ia mengeluarkan senyum termanisnya.
“Have nice day juga..”, Lulu membalas sapaannya.
Sandy hanya tersenyum.

Reta berlalu. Dibalik punggungnya ia menangis.
Memikul rasa sakit yang ada. Kepalanya menunduk dalam.
Namun semakin jauh langkahnya, justru ia merasa semakin lega.
Tanpa sadar ia menabrak seseorang.

“Ret, loe gapapa?”, Reta mengangkat kepalanya. Sella terlihat agak khawatir.
“Oh gapapa, kok. Ayo jadi berangkat, ga? Mona kemana?”, Reta menoleh kebelakang,
Sandy dan Lulu sudah tidak ada. Kemana mereka? Pikirnya.
“Jadi, kok. Tuh Mona…”, mata Sella mengisyaratkan tempat Mona berdiri.
Di depan perpustakaan , Mona dan Ferika nampak sedang berbicara.

Tak lama kemudian, Mona menghampiri Reta dan Sella.
“Ayo jalan sekarang.”
Mereka bertiga akhirnya meninggalkan sekolah.

Sesampainya di mall, mereka makan siang, lalu melanjutkan ke TGA.
Sepanjang perjalanan mereka seperti sahabat, seakan - akan sudah akrab sekali.
Padahal sebelumnya mereka tak pernah bersama – sama seperti ini.

Mona lebih sering bersama teman – temannya yang gaul.
Narsis, suka ngegosip, selalu tau informasi dan isu – isu terbaru.
Sering jalan – jalan ke mall dan suka ngerumpi tentang cowok.
Beberapa diantaranya bahkan sudah ada yang punya pacar atau pernah pacaran.

Sella pendiam dan selalu sendirian. Tipe yang hampir mirip seperti Reta.
Ia termasuk pandai bahasa Inggris walaupun tidak dapat menyaingi teman sekelasnya yang paling pintar.

Sejak saat itu mereka bertiga bersahabat dan semakin dekat.

17 Agustus, Pk.06.30, di sekolah

Upacara HUT RI akan dilaksanakan. Para anggota OSIS sibuk mondar mandir mempersiapkan perlengkapan upacara. Reta baru sampai saat Mona sedang termenung duduk di koridor sekolah.

“Pagi, Mon..”
“Pagi juga..”, Mona tersenyum.
“Kelihatannya murung banget. Ada masalah?”
“Ah nggak kok, ga ada apa – apa.”

Namun Reta merasa Mona tidak seperti biasanya.
Mendadak angin berhembus kencang dan daun – daun berguguran.
Reta menoleh ke belakangnya.
Suasana sekolah berubah menjadi sepi dan matahari berada di kepala.

Dipojok koridor terlihat sepasang perempuan dan laki – laki.
Nampaknya sedang bertengkar……….


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Wind of Time - 14

Mata Reta tertuju pada sebuah nama. Zaki Ventura.
Wajah dalam foto disamping nama tersebut pernah ia lihat.
Ternyata benar itu Zaki ! Reta melihat profil singkat disamping foto Zaki.
Alamat, no.handphone, e-mail, dan tanggal lahir.

“Yeah !!!” tanpa sadar Reta berseru sendiri . Untunglah perpustakaan sedang sepi pengunjung.
Jadi Reta tidak terlalu malu karena ditegur kak Elina, pustakawan sekolahnya.
“Reta jangan ribut ! Kalau mau ribut diluar saja sana !”
“I… Iya kak.. Maaf..”

Pk 20.00, dikamar Reta

Reta kini berhadapan dengan komputernya. Ia sedang buka facebook.
Awalnya niat dia mencari data Zaki melalui e-mailnya.
‘barangkali dia punya account di facebook, jadi aku bisa selidiki semua tentang dia ’ pikirnya.

Setelah log in, Reta melihat ada satu friend request.
Kemudian ia meloncat dari tempatnya duduk,
‘Dia add aku !!! Kok bisa yah? Tau darimana aku punya facebook?‘
Reta meng-confirmnya.
Ia pun membuka friendster-nya.
Ada juga friend request…… dari Zaki !

Ia membuka yahoo messenger.
Ada friend request dari Zaki. Emailnya sesuai dengan email Zaki yang ada di buku tahunan. Reta meng-approve nya.
Ternyata Zaki sedang online. Zaki menyapanya.

ventura13_92 : hai reta 
retania_forlive : hai juga 
ventura13_92 : uda app aku?
retania _forlive : uda koq, thx ya dh add
ventura13_92 : sm” manis

Muka Reta memerah. Chat malam itu membuatnya tertawa semalaman.
Zaki cowok yang baik. Melalui facebook dan friendster ia mendapat data lengkap Zaki.
Ternyata Zaki juga dulu SD dan SMP di sekolah yang sama dengannya.

Reta tidur dan mimpi indah malam itu………

14 Agustus 2009, sepulang sekolah

Bulan Juli telah berlalu dan Agustus pun telah tiba. Reta diajak Mona dan Sella ke mall didekat sekolahnya setelah pulang sekolah. Tentu saja setelah mendapat ijin dari mamanya dengan agak susah payah.

Dengan ringan ia melangkahkan kakinya keluar kelas.
Tiba – tiba angin berhembus kencang. Daun – daun di lapangan berguguran.
Langkahnya terhenti saat melihat sepasang cewek dan cowok sedang berjalan berdua…………….


~~~~~~~~~~~~~~~~

Wind of Time - 13

Pk. 06.15, disekolah Reta

“Huaaaaaahhh… Pagi yang sangat indaaaaaaah…”, seru Reta.
Ia baru saja sampai di kelas saat ada gadis yang duduk di bangku paling belakang sedang terdiam.
Matanya tampak sedang menerawang jauh.

“Pagi, Mona.”, sapa Reta
“Pagi…” Mona tersenyum.
“Sendirian aja, nih?”
“Iya… Sepi yah….”
Kemudian Ferika datang, “Monaaaaaaaaa temenin gue ke TU !!!”
Suaranya menghancurkan keheningan pagi.
Ferika menarik Mona keluar kelas. Tinggallah Reta sendirian.

Pk.09.05, saat istirahat 1

Sella duduk diam di bangkunya. Reta menghampirinya sambil membawa buku biologi di tangannya.

“Sell, kamu tau ga jawaban no 13?”
Sella menatap Reta lalu mengambil buku dari genggaman Reta. Dia membuka bukunya dan mencocokkan jawaban yang ada di buku Reta.
“Kalau gue jawabannya A.” Reta tak sengaja melihat ke buku Sella.
Ada gambar anime.

“Wah, gambarnya bagus.. Kamu suka gambar komik ya?”
Sella tersenyum, “Iya, gue suka gambar komik, tapi hasilnya kurang bagus…”
“Sama donk, gue juga suka gambar komik. Kadang gue suka meniru tokoh komik, tapi hasilnya tetap aja jelek..”
“Gue juga. Loe suka baca komik juga? Komik apa yang biasanya loe baca?”

Percakapan mereka terus berlanjut.
Reta merasa Sella cocok dengannya, sebagai teman mengobrol. Mereka juga memiliki hobi yang sama. Ia akhirnya mendapatkan sahabat baru.

“Nanti istirahat kedua bisa temenin gue ke perpus ga? Gue mau baca buku, nih.”
“Bisa, kok. Gue juga mau baca novel.”
Reta tersenyum.

Pk 11.20, di perpustakaan sekolah.

Setelah menulis nama di buku absen, Sella menghampiri rak buku novel terjemahan.
Reta mengambil tiga buku dari rak disebelah tempat pustakawan. Buku tahunan angkatan tahun 2006 – 2008.
Ia dan Sella duduk di bangku pojok perpustakaan. Reta mulai membuka bukunya.
Matanya serius membaca buku angkatan tahun 2006. Tiba – tiba angin berhembus dan buku angkatan 2007 terjatuh.
Reta bingung mengapa ada angin yang berhembus, padahal ruang perpustakaan tertutup.

Ia mengambil buku tersebut. Entah mengapa ada rasa penasaran yang luar biasa menyulubungi hatinya. Perlahan Reta membuka buku itu, mencari sebuah nama……….


~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Wind of Time - 12

Reta teringat sesuatu yang ingin ia tanyakan pada cowok misterius itu.
“Hmm…… Aku boleh tau nama kamu?” Reta bertanya dengan agak hati – hati..
“Hahaha jadi mau tau nih.” Cowok disebrang sana malah tertawa.
“Aduh serius, aku cuma mau tau nama kamu.. ” si cowok berhenti tertawa.
“Oh… Oke… Tapi kalau udah tau jangan marah yaa…”, hening beberapa detik..
Cowok disebrang sana berpikir keras apakah ia bisa memberitahukan namanya.
Namun instingnya mengatakan bahwa Reta gadis yang baik.

” Nama gue Zaki.”

“Oh… Kak Zaki yah” Reta bingung mau ngomong apa lagi.
“Kak Zaki? Ga enak banget pake ‘kak’……. Panggil Zaki aja..”
“Owh.. Oke deh… Zaki…” tiba – tiba sambungan terputus.
“Halo… Halo… ? Huh.. Terputus….”, Reta meletakkan handphone-nya.

Namanya Zaki. Reta ingin tahu identitas Zaki.
Tinggal dimana, kapan lahirnya, sekolah dimana, kelas berapa, dan lain – lain.
Tapi…. Bagaimana caranya?
Reta terus berpikir dan berpikir keras. Ia jadi teringat bunga melati.
Sudah 2 hari tak terurus. Reta langsung menghampiri meja belajarnya untuk melihat gelas plastik di mejanya.

“Pfiuh.. Untunglah tidak layu..” Reta menghela nafas lega.
Bunga melati tersebut terlihat segar. Akarnya sudah bermunculan.
“Besok akan kutanam di pot depan.”

17 Juli 2009, pk. 05.30, teras rumah.

Tangan kanan Reta menggenggam sekop dan tangan kirinya ada alat penyiram tanaman.
“Tumbuhlah dan berbungalah yang banyak. Kamu bunga yang sangat indah.”

Angin berhembus perlahan. Fajar hendak menyingsing.
Embun pagi menggantung di dedaunan.

Reta tersenyum. Ia meletakkan sekop dan alat penyiramnya, lalu berjalan ke kamar mandi.

Pk. 05.55, dikamar Reta

Reta sudah siap. Ia sudah mengenakan seragam lengkap dengan dasi dan ikat pinggangnya.
Kemudian ia duduk di bangku meja belajarnya, memeriksa apa ada barang tertinggal.

Anehnya, ada foto kelas Reta dan teman – temannya pada tahun 2007.
Foto bersama saat kelas 6 SD. Padahal foto itu sudah disimpan di gudang.
“Kok bisa ada disini, ya?”, Reta duduk termenung.
“Foto kelas kan dulu tiap setahun sekali…..” gumamnya.
Reta memperhatikan foto terakhir dan satu – satunya saat dia kelas 6.

Oh iya ! Reta berdiri spontan dari bangkunya.
“Sekarang aku tau harus kemana mencarinya..”

Dan iapun bergegas pergi ke sekolah……..

~~~~~~~

Wind of Time - 11

Sang cowok misterius muncul dihadapannya dan menjabat tangannya.
“Bagaimana?”

Reta menatap sosok yang kini berdiri di depannya.
“Aku merasa lebih baik sekarang.. Tapi…”, kristal bening sudah tertahan di pelupuk matanya, “Aku tidak yakin dia mau memaafkan aku…. Aku sudah sangat keterlaluan….”

Cowok misterius tersebut mengelus kepala Reta, “ Permintaan maaf yang tulus pasti akan dimaafkan. Kalaupun dia tak mau memaafkannya, itu bukan urusanmu lagi. Tapi urusannya dengan Tuhan.”

Cowok itu mendekapnya .. Reta ingin menghindar tapi anehnya ia merasa sangat lemas dan tidak dapat bergerak. Akhirnya ia pasrah dan hanya bisa merasakan kehangatan dalam pelukan cowok itu. Air matanya mengalir..

16 Juli 2009, pk. 20.00, dikamar Reta

Reta membuka matanya perlahan.
“Ma……… Kak Reta udah banguuuun……….” Suara Kita, adiknya Reta, terdengar hingga seluruh penjuru rumah.
Mama dan Papa Reta langsung menghampiri kamar Reta.

“Reta, apa yang kamu rasakan? Pusing?”, Mama Reta sangat khawatir.
“Ngga kok , Ma… Kok Reta di rumah? Tadi kan di sekolahnya Kita….”
“Kemarin kamu pingsan, jatuh di pinggir lapangan…”, Mama mengelus kepala Reta.
Hah? Kemarin? Berarti aku pingsan seharian, dong ! Pikir Reta.

Mama pergi ke dapur lalu kembali lagi membawa semangkuk bubur.
“Oya, tadi ada teman kamu yang datang. Cowok, ganteng loh.” Reta agak terkejut.
“Hah? Siapa, Ma?”, “Namanya Rifko, tadi siang datang jenguk kamu, tapi kamu kan belum bangun.”. Mama menaruh mangkok di meja di samping Reta.
Rifko? Kok dia tau alamatku ya? Tau darimana? Terus kok dia bisa tau aku ga sekolah?

“Dia bukan pacar kamu, kan?”
Tuh kan , pasti mama bakal tanya kayak gitu.

“Bukan lah, Ma. Reta ga pernah pacaran, tuh.”
“Yakin, nih, nggak pacaran?”
“Nggaaak , Maaaaaaaaaaa……………..” haduh – haduh….
Kadang, ini , nih, susahnya punya mama super protektif…

“Yaudah, mama mau urus adik – adikmu dulu. Dimakan ya buburnya.”
Mama Reta keluar dari kamar. Reta memandang sekelilingnya.
Aneh sekali. Tadi itu mimpi atau apa? Kok bisa sampai seharian ga bangun – bangun ya..

Handphone Reta bergetar. Private number.
Reta segera mengangkat telepon itu.

“Halo?”
“Selamat malam… Kamu sudah bangun? Tidak merasa pusing, kan”
“Emm, tidak, kok. Aku baik – baik saja.” Reta tersenyum kecil.
Semakin lama, entah darimana, ia merasakan senang saat cowok misterius itu meneleponnya….


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~