Ternyata Mona dan Revin. Reta memperhatikan mereka dari jauh.
Percakapan mereka terdengar cukup jelas karena sekolah sangat sepi.
“Lalu mau kamu apa sekarang ?!” nada bicara Revin meninggi. “Aku sms kamu ga dibales.. Kenapa kamu cuekin aku terus? Apa salahku?”
“Kamu ga salah apa – apa..”,
“Lalu kenapa kamu jadi begini???? Apa yang telah aku lakukan hingga kamu menghindariku ???”
Mona terdiam. Ia tak sanggup mengatakan alasan tersebut.
Ia tak bisa menyakiti hati Revin.
Reta masih terus menyimak percakapan mereka. Perasaannya tidak enak karena ia mengetahui masalah dalam hubungan mereka.
Namun karena penasaran ia tetap mendengarkan.
“Jawab, Mon, jawab ! Kenapa kamu seperti ini?” Revin mengguncang bahu Mona,
“Aku… ga bisa bilang….”, Mona menundukkan kepalanya.
Angin kembali berhembus perlahan. ”Reta…”, panggil Mona.
Reta berbalik kebelakang. Anehnya, suasana kembali ramai.
Mona menarik tangan Reta., “Gue mau tanya sesuatu….”
Mereka duduk di bangku panjang didepan ruang BP.
“Gue ada masalah… Loe bisa bantu ga?”
“Mudah – mudahan, aku akan coba bantu sebisa mungkin…”, Reta tersenyum.
Mona baru saja mau berbicara saat ada panggilan guru untuk berbaris di lapangan.
Upacara sebentar lagi akan dimulai,” Nanti gue cerita deh..”
Reta mengangguk. Mereka berjalan ke lapangan.
Guru – guru mengatur barisan. Karena jumlah cowok kelas 2 terlalu banyak, maka beberapa anak pindah barisan ke belakang Reta.
Dan Rifko mendapat tempat tepat dibelakang Reta.
Sandy dan Rifko bersebelahan. Mereka nampak merencanakan sesuatu.
Kemudian seseorang menarik rambut Reta .
Reta menengok ke belakang. Rifko menyembunyikan tangannya di punggungnya sembari celingak celinguk ke kanan kiri seakan akan tidak tahu apa - apa.
Sandy yang berada disebelah Rifko menunjuk – nunjuk Rifko,
“Dia yang narik tuh….”
Reta nyengir, “Bagus ya, San..”
Belum semenit Reta berbalik kedepan, ada lagi yang menarik rambutnya.
Reta kembali menengok kebelakang. Rifko cengar cengir dan Sandy masih menunjuk – nunjuk Rifko dengan tangan kirinya sambil setengah berbisik, “Dia yang tarik!”
Tangan kanannya membentuk huruf V, “Bukan gue, suwer dhe !”
“Kalian…… Bagus sekali ya……. Tarik aja terus.”.
“Reta, jangan berisik !”, Bu Intan menegurnya. Reta langsung berbalik ke depan.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar