Reta tak kunjung siuman, wajahnya sangat pucat.
Karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan, akhirnya ia dibawa ke UGD.
Hujan turun deras dan petir menggelegar.
Kini Rifko, Alex, dan Bu Intan berada di lorong rumah sakit.
Bu Intan menelepon orang tua Reta, sementara Rifko mondar mandir.
Entah mengapa ia merasa gelisah. Alex terduduk menatap heran kelakuan sahabatnya.
“Tegang banget, Ko…. Sebegitu khawatirnya..”
“Wajar kali.. Gue kan temennya…”
“Oh ya? Temen atau temen ?”
Rifko tak membalas kata – kata Alex, diam seribu bahasa.
“Loe suka ya sama Reta ? Kenapa ga bilang aja ?”
Alex bangkit dari duduknya. Ia merasa sikap Rifko semakin aneh.
Sejak kenal Reta¸ Rifko menjadi berubah.
Menjadi sering memperhatikan Reta, dan dipikirannya selalu ada Reta.
Alex menarik tangan Rifko,
“Jawab pertanyaan gue sebagai cowok ! Loe suka ya sama Reta ?!”
Wajah Alex tampak sangat serius. Rifko terdiam, ia membuang muka dari sahabatnya.
Orang tua Reta pun datang tepat disaat dokter keluar dari ruang UGD.
“Ada kerabat dari pasien ?”
“Kami orang tuanya..”, Papa dan Mama Reta menjawab serentak, “Bagaimana keadaan Reta ?”, Mama Reta tampak sangat khawatir.
“Pak, Bu, bisa ikut ke ruangan saya ?”
Setelah berterima kasih pada Bu Intan, Rifko , dan Alex, orang tua Reta beserta dokter yang memeriksa berjalan menuju ruang kerja dokter.
“Silahkan duduk, Pak, Bu. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan.”
Kedua orang tua Reta duduk di depan meja , berhadapan langsung dengan dokter.
“Bagaimana keadaan anak saya, Dok ? Dia baik – baik saja, kan ?”, Papa Reta berusaha menenangkan istrinya.
“Anak Anda kekurangan darah. Namun kami akan mengambil sample darahnya untuk memastikan dia tidak mengidap penyakit apapun.”
Pk.19.38, di rumah sakit.
Reta perlahan membuka matanya.
“Dimana ini ? Kayaknya tadi aku disekolah deh….”, pikirnya.
Matanya melihat keseluruh pojok ruangan yang serba putih.
Rifko yang melihat Reta siuman langsung melepaskan tangan Reta dari genggamannya. Wajahnya tampak agak memerah.
“Emm.. Tunggu disini ya.. Gue panggil dokter dulu…”
Ia lalu beranjak dari kursinya dan pergi keluar kamar.
Tak lama kemudian dokter dan suster datang memeriksa Reta.
Kemana tuh si Rifko? Reta tak henti bertanya – tanya dalam hati…
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar