Baru satu langkah memasuki perpustakaan tiba – tiba Reta tersandung sesuatu..
Rifko kebetulan sedang berdiri tak jauh dari pintu. Saat melihat Reta membuka pintu dan hampir jatuh secara refleks ia menangkap Reta dalam pelukannya.
Seisi perpustakaan langsung tepuk tangan melihat kejadian tersebut.
Rifko melepaskan pelukannya, “M… Maaf…. Gue engga….”
“Emmm…. Engga apa – apa… Te… Terima kasih….”, wajah Reta terlihat memerah.
Ia langsung pergi dari perpustakaan.
Alex nyengir melihat kejadian barusan. Ia menepuk pundak Rifko.
“Keren banget, bro !”
“Keren apaan ?”, Rifko menepis tangan Alex dari pundaknya.
“Yang tadi.. Reta.. Piwid.. Hahahha”, Alex hampir ngakak melihat Rifko yang salah tingkah.
“Alex.. kalau kamu mau ngobrol keluar saja sana !”, pustakawan menegur Alex.
Alex menutup mulutnya. Giliran Rifko yang cekikikan
“Ya ampun Reta…”, bisik Alex sambil menahan tawa.
“Apaan, sih.. Ga lucu tau !”,
“Halah.. Bilang aja lu sebenernya seneng !”,
“Terserah apa kata lo aja dah…”, Rifko bergegas pergi dari perpustaaan.
Mereka tak sadar ada sepasang mata yang mengawasi di kursi paling pojok.
Cowok berseragam SMA yang terlihat sedang membaca koran.
Di koridor perpustakaan, Reta bertemu dengan Sella.
“Loh? Kok loe ga ke perpus?”,
“Hmm… Sebaiknya kita jangan berunding di perpus.”
“Memang kenapa?”, Sella kebingungan.
Tanpa banyak bicara Reta menarik tangan Sella dan mereka menuju lantai 3, tempat anak – anak SMA. Reta tahu ini beresiko karena mereka bisa ditegur guru disana, tapi hanya lantai 3 satu – satunya tempat yang tidak ada anak SMP di gedung itu.
“Ngapain kesini?”, Sella lirik kekiri kanan, “Loe ga takut diomelin?”
“Aduuuh…… Ini darurat banget, Sel…. Kita ga bisa ke perpus.. Aku malu banget..”
“Kenapa loe malu?”
“Tadi tuh diperpus….”, wajah Reta memerah, “Aku…. Dipeluk sama Rifko..”
“Hah?!”, Sella setengah melongo, “ Kok bisa?”
“Pas mau masuk perpus, aku kesandung buku - buku gitu… Aduhh…”
“Cieeeeelah Reta…..”, Sella nyengir.
“Dia tuh mau selamatin aku aja, biar ga jatuh.. Jangan mikir – macem – macem..”
“Iya deeeh…”, Sella nyengir, menahan tawa.
18 September, Pk. 13.10, pulang sekolah
Awan hitam menghiasi langit. Gelap mulai menguasai kelas Reta.
Lampu - lampu dinyalakan. Angin dingin pun berhembus perlahan.
Suhu menurun dan titik – titik air berjatuhan dari langit.
Teman- teman sekelas Reta berhamburan keluar. Kini kelas sangat sepi.
Reta merasakan kepalanya sangat pusing.
Ia berjalan keluar kelas dengan kepala agak menunduk.
Rifko berpapasan dengan Reta di lorong sekolah,
“Loe lagi sakit, Ret?”,
Reta menggeleng perlahan sambil tersenyum. Wajahnya terlihat pucat.
Tiba – tiba angin berhembus, semakin dan semakin kencang.
Mata Reta terpejam dan pasti jatuh apabila Rifko tidak merangkulnya.
Alex lewat didepan mereka malah nyengir,
“Cieeee, kapan jadiannya ? Kok ga bilang – bilang?”
“Ga lucu, Lex! Sekarang bantuin gue bawa Reta ke ruang UKS..”
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~`
Tidak ada komentar:
Posting Komentar