Kamis, 02 Juli 2009

Wind of Time - 11

Sang cowok misterius muncul dihadapannya dan menjabat tangannya.
“Bagaimana?”

Reta menatap sosok yang kini berdiri di depannya.
“Aku merasa lebih baik sekarang.. Tapi…”, kristal bening sudah tertahan di pelupuk matanya, “Aku tidak yakin dia mau memaafkan aku…. Aku sudah sangat keterlaluan….”

Cowok misterius tersebut mengelus kepala Reta, “ Permintaan maaf yang tulus pasti akan dimaafkan. Kalaupun dia tak mau memaafkannya, itu bukan urusanmu lagi. Tapi urusannya dengan Tuhan.”

Cowok itu mendekapnya .. Reta ingin menghindar tapi anehnya ia merasa sangat lemas dan tidak dapat bergerak. Akhirnya ia pasrah dan hanya bisa merasakan kehangatan dalam pelukan cowok itu. Air matanya mengalir..

16 Juli 2009, pk. 20.00, dikamar Reta

Reta membuka matanya perlahan.
“Ma……… Kak Reta udah banguuuun……….” Suara Kita, adiknya Reta, terdengar hingga seluruh penjuru rumah.
Mama dan Papa Reta langsung menghampiri kamar Reta.

“Reta, apa yang kamu rasakan? Pusing?”, Mama Reta sangat khawatir.
“Ngga kok , Ma… Kok Reta di rumah? Tadi kan di sekolahnya Kita….”
“Kemarin kamu pingsan, jatuh di pinggir lapangan…”, Mama mengelus kepala Reta.
Hah? Kemarin? Berarti aku pingsan seharian, dong ! Pikir Reta.

Mama pergi ke dapur lalu kembali lagi membawa semangkuk bubur.
“Oya, tadi ada teman kamu yang datang. Cowok, ganteng loh.” Reta agak terkejut.
“Hah? Siapa, Ma?”, “Namanya Rifko, tadi siang datang jenguk kamu, tapi kamu kan belum bangun.”. Mama menaruh mangkok di meja di samping Reta.
Rifko? Kok dia tau alamatku ya? Tau darimana? Terus kok dia bisa tau aku ga sekolah?

“Dia bukan pacar kamu, kan?”
Tuh kan , pasti mama bakal tanya kayak gitu.

“Bukan lah, Ma. Reta ga pernah pacaran, tuh.”
“Yakin, nih, nggak pacaran?”
“Nggaaak , Maaaaaaaaaaa……………..” haduh – haduh….
Kadang, ini , nih, susahnya punya mama super protektif…

“Yaudah, mama mau urus adik – adikmu dulu. Dimakan ya buburnya.”
Mama Reta keluar dari kamar. Reta memandang sekelilingnya.
Aneh sekali. Tadi itu mimpi atau apa? Kok bisa sampai seharian ga bangun – bangun ya..

Handphone Reta bergetar. Private number.
Reta segera mengangkat telepon itu.

“Halo?”
“Selamat malam… Kamu sudah bangun? Tidak merasa pusing, kan”
“Emm, tidak, kok. Aku baik – baik saja.” Reta tersenyum kecil.
Semakin lama, entah darimana, ia merasakan senang saat cowok misterius itu meneleponnya….


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar