Rabu, 23 September 2009

Tugas math dari bude buad anak 9C..

Ni tugas yang mau ditulis ama Merry di papan tulis tadi siang, tapi karena ga ada spidol jadi kaga ditulis. :D :D

Ne tugasnyaa :

Dari buku Metematika 3A
1. Uji kompetensi bab 1 hal 59 - 62
No 1 - 20 PG
No 1 - 5 Esai

2. Uji Kompetensi bab 2 hal 98 - 100
No 1 - 20 PG
No 1 - 5 Esai

3. Uji kompetensi bab 3 hal 157 - 159
No 1 - 13 PG
No 1- 3 Esai

4. Uji kompetensi semester 1 hal 160 - 166
No 1 - 47
No 1 - 13

Kumpulkan tanggal 28 - 9 - 2009 ( pas masuk )
NILAI MASUK = NILAI TUGAS atau KOKURIKULER

DIBUAT DI KERTAS ULANGAN

KERJA PER KELOMPOK : MINIMAL 2 ORANG, MAX 4 ORANG

sebar ya ke anak" 9C...

sekian dan terima kasih..

Senin, 24 Agustus 2009

Wind of Time - 25

Karina… Ya, Karina…
Itu Karina…..

Mata Reta terus tertuju ke lapangan, tepat ke arah Rifko dan Karina yang asyik bermain basket berdua. Reta diam agar mereka tak terganggu.

Tiba – tiba Karina terjatuh…
“Aw.. Aduh sakit…”, lutut Karina terluka.
“Tunggu yah, aku ambil obat dulu..”, Rifko bergegas lari ke ruang UKS. Tak sampai semenit ia kembali membawa kotak P3K.

“Sini aku obatin luka kamu…”,
Rifko amat telaten saat mengobati luka Karina.

Reta tepaku melihat pemandangan di lapangan. Matanya tak dapat berkedip.
Perasaannya campur aduk. Kini ia akan berhenti berharap….

“Ret… Woi Retaaaa !”, seru Sella.
“I.. Iya kenapa ??”, Reta benar – benar terkejut.
Dan juga kebingungan, karena sekolah mendadak ramai.
Matahari pun masih ada di timur.

“Ya ampun daritadi gue panggil loe ga nengok..”
“Sorry gue ga denger, Sel…”, Reta nyengir.
“Ke kelas yuk, bentar lagi bel.”

Bel tanda masuk pun berdering bersama rasa pasrah dalam hati Reta.
Kini ia sudah tau semuanya. Karina pasti sangat berarti untuk Rifko.
Karina, bukan dirinya…..

***

Pk. 09.04, istirahat pertama.

Reta berpapasan dengan Mona di lorong sekolah. Mona yang sedang asyik mengobrol dengan Ferika membuang muka dan berlalu begitu saja.

“Duh, Mona berubah banget sih sekarang. Dia kenapa, sih ?”,
Reta terus bertanya- tanya dalam hati.

Reta baru saja sampai didepan pintu kelas.
Ia mengintip kedalam kelas dan nyengir sendiri melihat sebuah adegan di sana.
Sella duduk berdua dengan Johan. Nampaknya lagi membahas tentang pelajaran.

Reta cekikikan, dasar jodoh emang ga kemana, gumamnya.
Mending ke perpus daripada ganggu orang lagi mojok…..

Langkah kaki menuntunnya menuju perpustakaan yang berada di lantai bawah.
Saat turun dari tangga, ia berpapasan dengan Rifko bdan Alex.
Namun tidak seperti biasanya, Rifko tidak menyapanya. Ia berlalu begitu saja.
Reta merasa ada yang tidak beres..

Apa sih yang sedang terjadi dengan teman – temanku ?
Mereka jadi berubah gitu…..

Seseorang menepuk pundak Reta dari belakang……………

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jumat, 07 Agustus 2009

Wind of Time - 24

“Hai Reta, kamu sudah sembuh?”
Zaki masuk kedalam kamar. Tangan kanannya memegang seikat bunga melati.
“Oh, hai Zaki…..”, Reta tersenyum.

Zaki mengambil bunga layu yang ada dalam vas dimeja samping tempat tidur Reta, dan menggantinya dengan melati yang ia bawa.
Kemudian ia duduk dikursi didekat meja tersebut, menatap mata Reta yang pikirannya melambung jauh keluar jendela.

“I see something in your eyes. Sebaiknya kamu jangan terlalu banyak berharap..”
“Ya, dan aku takkan pernah berani berharap lagi…”
Mata Reta tetap tertuju pada pemandangan diluar rumah sakit.
Mobil – mobil yang tetap berlalu lalang diluar sana, walau gelap sudah menguasai langit.

***
21 September, pk 06.08, di sekolah

Pagi yang cerah untuk jiwa yang sepi..
Seperti lagu ya.. Tapi lebih tepatnya, untuk jiwa yang penasaran.
Yang ingin mengetahui sesuatu yang tak pernah ia ketahui sebelumnya.
Dan sebenarnya hal itu sebaiknya tidak ia ketahui.

Reta berjalan di lorong sekolahnya. Ia memandang ke lapangan.
Rifko sedang bermain basket dengan teman – temannya.
Saat melihat Reta, ia melambaikan tangan kearah Reta dan berseru, “Selamat pagi !”
Reta tersenyum dan melambaikan tangan,
“Selamat pagi !”, balas Reta. Ia pun bergegas ke kelasnya.

“CIEEEE RIFKOOOO…”, Alex berteriak dibalik pintu kelasnya.
“Apa sih, Lex…”, Rifko melempar bola basket yang ada ditangannya kearah Alex.
Alex sukses menangkap bola yang menuju ke arahnya.

Sementara itu ditempat lain, Reta baru saja duduk di bangkunya.
Kelas masih sepi, kursi – kursi masih ada diatas meja.
Baru ia sendiri yang masuk ke kelas pagi ini.
Entah darimana tiba - tiba sehelai daun kering yang kecoklatan turun dari atas.

“Daun darimana nih ?”, gumam Reta.
Ia menoleh ke atas namun tidak ada yang menyangkut ataupun nyantol disana.

Matanya pun melihat kesekeliling, keadaan kelas sudah berubah.
Seperti baru selesai pulang sekolah. Kertas berserakan dimana – mana.
Bangku berada di lantai dan letak meja tak beraturan.
Sinar matahari menerobos masuk melalui jendela kecil di pintu kelas.

“Ini kan masih pagi, kok….”,
Tanpa pikir panjang, Reta melangkahkan kaki keluar kelas.

Sekolah tampak sangat sepi, namun terdengar suara dentuman bola basket.
Reta melihat kearah lapangan. Ia terkejut.

Rifko dan seorang perempuan cantik sedang bermain basket dan tertawa bersama………


~~~~~~~~~~~~~~

Wind of Time - 23

Jantung Reta berdetak begitu cepat. Rifko sendiri hampir salah tingkah.
Ia berpikir dan putar otak sebelum memulai pembicaraan.
“Hmm.. Loe uda merasa lebih baik ?”
“Ya begitulah…”, jeda beberapa detik.
“Emm… Makasih ya udah bawa aku kesini.. Kalo ga ada kamu mungkin aku udah kritis sekarang…”
“No problem.. Buat Tuan Putri yang cantik, apapun akan kulakukan..”
Wajah Reta memerah. Hatinya berbunga – bunga.
Tapi Ia tetap berpikir bahwa kata – kata Rifko tadi hanyalah lelucon belaka.

“Tuan Putri yang cantik? Hahahahaha…. Jayus sekali…”
Mereka tertawa bersama, padahal sama sekali tidak ada yang lucu.

Tiba – tiba pintu diketuk, dan keanehan terjadi. Angin berhembus perlahan saat pintu terbuka.
Seorang gadis yang sangat cantik masuk ke dalam ruangan.
Ia berjalan mendekati Rifko.

“Rifko… Aku tadi ke rumahmu, dan kata kakak kamu, kamu lagi disini..”
Reta menatap Rifko dan gadis itu bergantian.
Siapa ni cewek ? tanya Reta dalam hati.

“Oh ya Reta, kenalin , ini Karina.. Karin, ini Reta..”
Reta dan Karina berjabat tangan. Karina terseyum,
“Salam kenal dan semoga cepat sembuh..”
“Salam kenal juga dan terima kasih banyak.”

Karina menggenggam tangan Rifko,
“Hari ini jadi jalan, kan ?”, suara Karin terdengar sangat lembut.
“Pasti dong..”, Rifko hanya tersenyum tipis.

Reta menatap Rifko dan Karina bergantian. Nampaknya ada sesuatu diantara mereka.

“Emm.. Reta, gue pergi dulu , ya… Semoga cepat sembuh..”
“Oke.. Terima kasih banyak sudah datang..”, Reta berusaha tersenyum.
Rifko dan Karina berjalan keluar kamar. Mereka berjalan bersisian.

Reta setengah bengong menatap pintu itu.
Ia merasa ada yang hilang, sekaligus menerima suatu beban.
Beban yang memberatkan hatinya, yang tidak dapat dijelaskan dengan kata - kata.
Mungkin bisa dijelaskan dengan air mata, yang sudah lama tak mengalir dari pelupuk matanya.

***


Malam pun menjelang. Kedua orang tua Reta sedang membeli makanan.
Reta menatap pemandangan diluar jendela.
Hujan menyembunyikan rembulan dan petir menggelegar.
Ia selalu terpikirkan kejadian tadi siang.
“Siapa perempuan cantik itu ? Dia siapanya Rifko ? Jangan – jangan…

Sebuah ketukan membuat pikirannya terhenti.
Seseorang membuka pintu dan masuk kedalam kamar……….


~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kamis, 09 Juli 2009

Wind of Time - 22

Tak lama kemudian Mama Reta datang.

“Reta… Kamu merasa lebih baik ?”
“Iya, Ma… Tapi kenapa aku bisa ada disini? Aku sakit apa?”
“Tadi siang kamu pingsan di sekolah. Tapi kamu ga kenapa – napa kok. Dokter bilang cuma kekurangan darah, lusa baru boleh pulang.”
Sang bunda tersenyum dan duduk di kursi disamping pembaringan Reta.

“Lalu sekarang Rifko kemana, Ma ?”
“Rifko sudah pulang, tadi sebelum Mama masuk kamar, dia pamit mau pulang.. Oya, dari tadi siang Rifko nemenin kamu terus, loh. Papa dan Mama ga bisa jagain kamu karena ada klien yang mau bertemu dengan Papa.”

Reta terkejut mendengarnya. Apa dia ga diomelin sama orang tuanya ?

“Dia baik sekali, ya. Dari siang sampai malam nemenin kamu.”,
Mama Reta kembali tersenyum.

Reta terdiam. Tatapan matanya tertuju pada jendela.
Sejak ada Rifko, ia melupakan sakit hatinya. Semua hal tentang Rifko ada dipikirannya.
Sandy ? Masa lalu itu sudah terlupakan.

***
Reta membuka matanya.
“Aduh mati lampu ya ? Gelap banget sih..”
Ia beranjak dari tempat tidurnya. Tangannya meraba benda – benda disekelilingnya.
Akhirnya ia menemukan gagang pintu, namun ia tak dapat membuka pintunya.

“Ada orang disana ? Bisa bukakan aku pintu ?”
Namun tak ada jawaban. Reta mengetuk pintu itu ,
“Tolong aku terjebak disini ! Tolong bukain pintunya !”
Tetap tak ada jawaban.
Kini ia duduk membelakangi pintu tersebut. Menyerah dan pasrah.

***
“Aduuuh… Pusing banget….”, Reta baru terbangun dari tidurnya.
Ya ampun ternyata tadi mimpi, pikirnya.
“Reta kamu sudah bangun ?”, Mama Reta membelai rambutnya.
“Jangan bangun dulu…”,
Mama mengambil mangkuk di meja disamping tempat tidur Reta.

“Nih, Mama buatin bubur buat kamu… Mama suapin ya..”
“Ngga usah, Ma, aku ngga laper..”
“Kalau kamu ga makan nanti ngga cepet sembuh..”

Terdengar suara pintu diketuk, “Permisi, Tante…..”
Reta agak terkejut karena suara itu sama sekali tak asing baginya.
“Oh Rifko, silahkan masuk…..”

“Ini Tante, saya bawa buah – buahan buat Reta..”
“Terima kasih ya, Rifko. Ya ampun sampai repot – repot bawa buah - buahan.. Oh iya, Tante mau ke rumah dulu sebentar. Kamu bisa jaga Reta disini ? Maaf ya Rifko jadi merepotkan kamu..”
“Tak perlu sungkan, Tante. Saya banyak waktu luang, kok…”

Mama Reta pun keluar dari kamar. Kini tinggal Reta dan Rifko berdua.

~~~~~~~~~~~~~

Wind of Time - 21

Reta tak kunjung siuman, wajahnya sangat pucat.
Karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan, akhirnya ia dibawa ke UGD.

Hujan turun deras dan petir menggelegar.
Kini Rifko, Alex, dan Bu Intan berada di lorong rumah sakit.
Bu Intan menelepon orang tua Reta, sementara Rifko mondar mandir.
Entah mengapa ia merasa gelisah. Alex terduduk menatap heran kelakuan sahabatnya.

“Tegang banget, Ko…. Sebegitu khawatirnya..”
“Wajar kali.. Gue kan temennya…”
“Oh ya? Temen atau temen ?”
Rifko tak membalas kata – kata Alex, diam seribu bahasa.

“Loe suka ya sama Reta ? Kenapa ga bilang aja ?”
Alex bangkit dari duduknya. Ia merasa sikap Rifko semakin aneh.
Sejak kenal Reta¸ Rifko menjadi berubah.
Menjadi sering memperhatikan Reta, dan dipikirannya selalu ada Reta.

Alex menarik tangan Rifko,
“Jawab pertanyaan gue sebagai cowok ! Loe suka ya sama Reta ?!”
Wajah Alex tampak sangat serius. Rifko terdiam, ia membuang muka dari sahabatnya.

Orang tua Reta pun datang tepat disaat dokter keluar dari ruang UGD.
“Ada kerabat dari pasien ?”
“Kami orang tuanya..”, Papa dan Mama Reta menjawab serentak, “Bagaimana keadaan Reta ?”, Mama Reta tampak sangat khawatir.
“Pak, Bu, bisa ikut ke ruangan saya ?”
Setelah berterima kasih pada Bu Intan, Rifko , dan Alex, orang tua Reta beserta dokter yang memeriksa berjalan menuju ruang kerja dokter.

“Silahkan duduk, Pak, Bu. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan.”
Kedua orang tua Reta duduk di depan meja , berhadapan langsung dengan dokter.

“Bagaimana keadaan anak saya, Dok ? Dia baik – baik saja, kan ?”, Papa Reta berusaha menenangkan istrinya.
“Anak Anda kekurangan darah. Namun kami akan mengambil sample darahnya untuk memastikan dia tidak mengidap penyakit apapun.”

Pk.19.38, di rumah sakit.

Reta perlahan membuka matanya.
“Dimana ini ? Kayaknya tadi aku disekolah deh….”, pikirnya.
Matanya melihat keseluruh pojok ruangan yang serba putih.

Rifko yang melihat Reta siuman langsung melepaskan tangan Reta dari genggamannya. Wajahnya tampak agak memerah.
“Emm.. Tunggu disini ya.. Gue panggil dokter dulu…”
Ia lalu beranjak dari kursinya dan pergi keluar kamar.

Tak lama kemudian dokter dan suster datang memeriksa Reta.
Kemana tuh si Rifko? Reta tak henti bertanya – tanya dalam hati…


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jumat, 03 Juli 2009

Wind of Time - 20

Baru satu langkah memasuki perpustakaan tiba – tiba Reta tersandung sesuatu..
Rifko kebetulan sedang berdiri tak jauh dari pintu. Saat melihat Reta membuka pintu dan hampir jatuh secara refleks ia menangkap Reta dalam pelukannya.

Seisi perpustakaan langsung tepuk tangan melihat kejadian tersebut.
Rifko melepaskan pelukannya, “M… Maaf…. Gue engga….”
“Emmm…. Engga apa – apa… Te… Terima kasih….”, wajah Reta terlihat memerah.
Ia langsung pergi dari perpustakaan.

Alex nyengir melihat kejadian barusan. Ia menepuk pundak Rifko.
“Keren banget, bro !”
“Keren apaan ?”, Rifko menepis tangan Alex dari pundaknya.
“Yang tadi.. Reta.. Piwid.. Hahahha”, Alex hampir ngakak melihat Rifko yang salah tingkah.
“Alex.. kalau kamu mau ngobrol keluar saja sana !”, pustakawan menegur Alex.

Alex menutup mulutnya. Giliran Rifko yang cekikikan
“Ya ampun Reta…”, bisik Alex sambil menahan tawa.
“Apaan, sih.. Ga lucu tau !”,
“Halah.. Bilang aja lu sebenernya seneng !”,
“Terserah apa kata lo aja dah…”, Rifko bergegas pergi dari perpustaaan.

Mereka tak sadar ada sepasang mata yang mengawasi di kursi paling pojok.
Cowok berseragam SMA yang terlihat sedang membaca koran.

Di koridor perpustakaan, Reta bertemu dengan Sella.
“Loh? Kok loe ga ke perpus?”,
“Hmm… Sebaiknya kita jangan berunding di perpus.”
“Memang kenapa?”, Sella kebingungan.
Tanpa banyak bicara Reta menarik tangan Sella dan mereka menuju lantai 3, tempat anak – anak SMA. Reta tahu ini beresiko karena mereka bisa ditegur guru disana, tapi hanya lantai 3 satu – satunya tempat yang tidak ada anak SMP di gedung itu.

“Ngapain kesini?”, Sella lirik kekiri kanan, “Loe ga takut diomelin?”
“Aduuuh…… Ini darurat banget, Sel…. Kita ga bisa ke perpus.. Aku malu banget..”
“Kenapa loe malu?”
“Tadi tuh diperpus….”, wajah Reta memerah, “Aku…. Dipeluk sama Rifko..”
“Hah?!”, Sella setengah melongo, “ Kok bisa?”
“Pas mau masuk perpus, aku kesandung buku - buku gitu… Aduhh…”
“Cieeeeelah Reta…..”, Sella nyengir.
“Dia tuh mau selamatin aku aja, biar ga jatuh.. Jangan mikir – macem – macem..”
“Iya deeeh…”, Sella nyengir, menahan tawa.

18 September, Pk. 13.10, pulang sekolah

Awan hitam menghiasi langit. Gelap mulai menguasai kelas Reta.
Lampu - lampu dinyalakan. Angin dingin pun berhembus perlahan.
Suhu menurun dan titik – titik air berjatuhan dari langit.

Teman- teman sekelas Reta berhamburan keluar. Kini kelas sangat sepi.
Reta merasakan kepalanya sangat pusing.
Ia berjalan keluar kelas dengan kepala agak menunduk.

Rifko berpapasan dengan Reta di lorong sekolah,
“Loe lagi sakit, Ret?”,
Reta menggeleng perlahan sambil tersenyum. Wajahnya terlihat pucat.
Tiba – tiba angin berhembus, semakin dan semakin kencang.
Mata Reta terpejam dan pasti jatuh apabila Rifko tidak merangkulnya.
Alex lewat didepan mereka malah nyengir,
“Cieeee, kapan jadiannya ? Kok ga bilang – bilang?”
“Ga lucu, Lex! Sekarang bantuin gue bawa Reta ke ruang UKS..”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~`

Kamis, 02 Juli 2009

Wind of Time - 19

Sebulan telah berlalu. Sejak malam itu Reta dan Rifko menjadi sangat akrab. Setiap kali bertemu selalu menyapa. Kalau ada perlu juga saling membantu.
Rifko juga sering memperhatikan Reta dari jauh, bahkan kadang pandangan mereka berdua mereka bertemu sampai Rifko mati gaya sendiri.

11 September, Pk. 06.26, disekolah

Reta baru saja tiba di sekolah. Dengan langkah ringan ia berjalan menuju kelasnya.
Ia melihat Mona dan Ferika sedang ngobrol berdua di pinggir koridor.
Reta menyapa Mona, namun Mona malah buang muka.
Dengan bingung Reta pun berlalu menuju kelasnya.
Angin bertiup pelan dan daun – daun berguguran.

Didekat tangga , ia bertemu dengan Rifko dan kawan sekelasnya, Alex.
“Pagi, Reta…..”, sapa Rifko.
“Pagi…..”, Reta menjawab sambil tersenyum.
Setelah Reta masuk ke kelasnya, Alex mulai mengganggu Rifko,

“Cieee…. Piwid.. piwid…”,
“Apa, sih, Lex.. Pagi – pagi berisik aja lo….”
“Yang pandangan pertama ni yeee…. Hahahaha….”
Rifko berjalan meninggalkan Alex yang tertawa - tawa. Ia sendiri sebenarnya bingung.
Apakah ia memang menyukai Reta ?

Pk.09.03, istirahat 1

Reta bertemu lagi dengan Mona. Namun Mona tampak tidak peduli dengannya. Ia tampak sibuk mengobrol dengan Ferika dan kawan – kawannya.
Akhirnya Reta dan Sella pergi ke kantin berdua.

“Aku bingung sama Mona, dia kenapa, ya? Kok jadi kayak gitu…”
“Dia lagi kesel sama loe….”, jawab Sella.
“Lho? Memang kenapa?”
“Katanya loe menjelek – jelekkan dia….”

Reta tertegun. Ia merasa tidak pernah menjelek – jelekkan siapapun,
“Kok bisa begitu, sih? Aku ga pernah jelek – jelekkin dia.”
“Entahlah. Dia yang bilang kayak gitu ke gue.”

Ia pun terdiam. Siapa yang memfitnahnya?

Pk.11.18, istirahat 2

Reta dan Sella hendak membahas masalah menganai Mona. Mereka berunding memikirkan tempat yang aman, dan akhirmya memilih perpustakaan.
Namun Sella mendapat panggilan alam hingga harus ke WC, sehingga Reta pergi duluan ke perpustakaan.
Baru saja Reta hendak membuka pintu perpustakaan, mendadak angin berhembus perlahan. Dan saat melangkahkan kakinya, ia tersandung sesuatu………



~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Wind of Time - 18

“Tiga…..”

Anthon tak dapat menangkap bolanya dan…. GOL !!!!

“Dua… Satu… !”, wasit pun meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan.
“Rifko berhasil mencetak angka di detik – detik terakhir ! Luar biasa….. Skor akhir adalah 2 – 1 untuk kelas 2B !”

“Yeaaaaaaaaaaahhhhh !!!!!!!!!!”, teman – teman sekelas Rifko bersorak penuh kemenangan. Reta tersenyum , memperhatikan Rifko dari jauh.
Diam – diam ia kagum pada Rifko. Reta pun menghampirinya.

“Selamat, ya…”, Reta mengulurkan tangannya. Rifko tersenyum bangga,
“Terima kasih.”, merekapun berjabat tangan. Rifko tiba – tiba merasakan perasaan yang aneh. Jantungnya berdebar saat bertemu dengan Reta.
Akhirnya Ia dan kawan – kawannya berjalan ke tempat mereka nongkrong.

Pk.11.45, di depan gerbang sekolah.

Rifko menunggu jemputan didepan gerbang sekolah. Sudah hampir jam 12, sekolah sangat sepi. Angin berhembus dan daun berguguran.
Seseorang menyentuh bahunya.
“Rifko…….”, Rifko membalikkan badannya dan kini ia berhadapan dengan Zaki.
Ia terkejut. Ini kan cowok SMA yang tadi ngobrol – ngobrol sama Reta, pikirnya.

“Gue bisa ngerasain perasaan lo….”, Zaki memberikan secarik kertas kecil.
“Nama pemiliknya adalah nama yang pertama kali muncul dikepala lo.”
Rifko melihat tulisan di kertas tersebut. Saat matanya melihat kedepan lagi, Zaki sudah menghilang.

Waduh, kemana dia? Kok mendadak hilang? Lalu ini nomor HP siapa ya?, gumamnya.
Tak lama kemudian mobil jemputannya datang.
Dan ia pun pulang dengan membawa rasa penasaran..

Malam pk 20.00

Rifko bosan menatap komputernya. Ia teringat kertas yang tadi siang ia dapatkan dari cowok berseragam SMA yang tidak dikenalnya.
Diambilnya kertas itu, lalu kesebelas digit nomer tersebut diketik di HP-nya.
Kemudian ia menekan tombol send.

Ditempat lain, si penerima membaca SMS yang baru saja tiba dengan keheranan. SMS itu berisi :

Hai reta, met mlm. lg ngpain?

“Nomer siapa, nih? Kok dia tau namaku ya?”, gumam Reta. Dan ia pun membalas SMSnya.

Met mlm jg. tp sory ni sapa yh?
kq tw nama sy?

Tak lama kemudian SMS balasannya datang.

Ni rifko, yg kls 2. Inget kan? Hehehe.
Lg ngpain?

Akhirnya mereka pun SMSan sampai larut malam. Dan dalam waktu semalam mereka jadi dekat satu sama lain. Mungkin hal inilah yang membuat Rifko bermimpi indah malam ini.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~`

Wind of Time - 17

Seusai upacara, Reta dan Mona mengobrol di depan ruang BP.
Mona menceritakan masalahnya.

“Oh, jadi begitu……”,
“Iya…. Gue ga bisa kayak gini terus…”, pandangan Mona menerawang jauh.
”Gue ga sayang sama dia. Sebenernya gue uda suka sama satu orang..”

Reta berpikir sesaat, lalu berkata, “Kalau gitu putusin aja dia. Tidak baik membohongi perasaan. Mungkin memang ngga adil buat dia, tapi ini satu – satunya cara yang terbaik. Buat kamu dan juga buat dia.”

Ferika tiba – tiba datang dan menarik Mona, “Mona siniiiiiiii..”
“Sory, Ret, gue kesana dulu ya..”

Kini Reta sendirian , duduk didepan ruang BP. Tiba – tiba muncul seseorang disebelah kirinya.
“Hai, apa kabar?”

Reta Reta berpaling ke kiri, lalu tersenyum. “Baik. Kamu?”
“Baik juga…”, Zaki tersenyum, “Kamu ga ikut lomba?”
“Ngga. Males…”
“Yaudah, mau nemenin aku ngobrol bentar?”
Reta mengangguk perlahan bertanda setuju. Mereka berdua tampak mengobrol seru dan tertawa – tawa.

Seseorang di lapangan menatap mereka sambil menahan bola di kakinya.
Ia kembali menggiring bola, berkumpul dengan teman – temannya.

Sella memanggil Reta dan saat Reta menoleh, Zaki menghilang secara misterius.
“Kemana lagi sih dia…”, gumam Reta.

Pk. 08.58, disekolah Reta.

Pertandingan futsal antara kelas 2B dan 3B.
Rifko menguasai lapangan. Ia merebut bola lalu menggiringnya mendekati gawang.
Komentator bercuap – cuap di depan mikrofon. Suaranya terdengar hingga seluruh seantero sekolah.

“Yaaak, Rifko berhasil merebut bola dari Zainal, ia semakin mendekati gawang 3B.”

Reta yang sedang mengobrol dengan Sella mendengar kata – kata komentator. Karena penasaran ia pun mendekati lapangan. Rifko tampak menggiring bola dengan lihai.

“Detik – detik terakhir, Waktunya tinggal… Sepuluh… Sembilan…”

Rifko semakin mendekati gawang, Ia berhasil melewati lawan - lawannya……..

“Delapan…. Tujuh… Enam…… Lima…. Empat…..”

Rifko menendang bolanya…
Teman – teman sekelas Rifko yang duduk di pinggir lapangan beranjak dari duduknya ……………


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Wind of Time - 16

Ternyata Mona dan Revin. Reta memperhatikan mereka dari jauh.
Percakapan mereka terdengar cukup jelas karena sekolah sangat sepi.

“Lalu mau kamu apa sekarang ?!” nada bicara Revin meninggi. “Aku sms kamu ga dibales.. Kenapa kamu cuekin aku terus? Apa salahku?”
“Kamu ga salah apa – apa..”,
“Lalu kenapa kamu jadi begini???? Apa yang telah aku lakukan hingga kamu menghindariku ???”
Mona terdiam. Ia tak sanggup mengatakan alasan tersebut.
Ia tak bisa menyakiti hati Revin.

Reta masih terus menyimak percakapan mereka. Perasaannya tidak enak karena ia mengetahui masalah dalam hubungan mereka.
Namun karena penasaran ia tetap mendengarkan.

“Jawab, Mon, jawab ! Kenapa kamu seperti ini?” Revin mengguncang bahu Mona,
“Aku… ga bisa bilang….”, Mona menundukkan kepalanya.

Angin kembali berhembus perlahan. ”Reta…”, panggil Mona.
Reta berbalik kebelakang. Anehnya, suasana kembali ramai.
Mona menarik tangan Reta., “Gue mau tanya sesuatu….”

Mereka duduk di bangku panjang didepan ruang BP.

“Gue ada masalah… Loe bisa bantu ga?”
“Mudah – mudahan, aku akan coba bantu sebisa mungkin…”, Reta tersenyum.

Mona baru saja mau berbicara saat ada panggilan guru untuk berbaris di lapangan.
Upacara sebentar lagi akan dimulai,” Nanti gue cerita deh..”
Reta mengangguk. Mereka berjalan ke lapangan.

Guru – guru mengatur barisan. Karena jumlah cowok kelas 2 terlalu banyak, maka beberapa anak pindah barisan ke belakang Reta.
Dan Rifko mendapat tempat tepat dibelakang Reta.

Sandy dan Rifko bersebelahan. Mereka nampak merencanakan sesuatu.
Kemudian seseorang menarik rambut Reta .
Reta menengok ke belakang. Rifko menyembunyikan tangannya di punggungnya sembari celingak celinguk ke kanan kiri seakan akan tidak tahu apa - apa.
Sandy yang berada disebelah Rifko menunjuk – nunjuk Rifko,
“Dia yang narik tuh….”

Reta nyengir, “Bagus ya, San..”

Belum semenit Reta berbalik kedepan, ada lagi yang menarik rambutnya.
Reta kembali menengok kebelakang. Rifko cengar cengir dan Sandy masih menunjuk – nunjuk Rifko dengan tangan kirinya sambil setengah berbisik, “Dia yang tarik!”
Tangan kanannya membentuk huruf V, “Bukan gue, suwer dhe !”

“Kalian…… Bagus sekali ya……. Tarik aja terus.”.

“Reta, jangan berisik !”, Bu Intan menegurnya. Reta langsung berbalik ke depan.



~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Wind of Time - 15

Sandy dan Lulu berjalan berdua di lorong depan kelas Reta.
Angin berhembus perlahan, menenangkan hati Reta. Reta mencoba bertahan.
Sesakit dan sehancur apapun hatinya, ia tetap berusaha untuk tersenyum.

Reta lewat dan menyapa mereka, “Hai …. Have nice day yahhh….”
Ia mengeluarkan senyum termanisnya.
“Have nice day juga..”, Lulu membalas sapaannya.
Sandy hanya tersenyum.

Reta berlalu. Dibalik punggungnya ia menangis.
Memikul rasa sakit yang ada. Kepalanya menunduk dalam.
Namun semakin jauh langkahnya, justru ia merasa semakin lega.
Tanpa sadar ia menabrak seseorang.

“Ret, loe gapapa?”, Reta mengangkat kepalanya. Sella terlihat agak khawatir.
“Oh gapapa, kok. Ayo jadi berangkat, ga? Mona kemana?”, Reta menoleh kebelakang,
Sandy dan Lulu sudah tidak ada. Kemana mereka? Pikirnya.
“Jadi, kok. Tuh Mona…”, mata Sella mengisyaratkan tempat Mona berdiri.
Di depan perpustakaan , Mona dan Ferika nampak sedang berbicara.

Tak lama kemudian, Mona menghampiri Reta dan Sella.
“Ayo jalan sekarang.”
Mereka bertiga akhirnya meninggalkan sekolah.

Sesampainya di mall, mereka makan siang, lalu melanjutkan ke TGA.
Sepanjang perjalanan mereka seperti sahabat, seakan - akan sudah akrab sekali.
Padahal sebelumnya mereka tak pernah bersama – sama seperti ini.

Mona lebih sering bersama teman – temannya yang gaul.
Narsis, suka ngegosip, selalu tau informasi dan isu – isu terbaru.
Sering jalan – jalan ke mall dan suka ngerumpi tentang cowok.
Beberapa diantaranya bahkan sudah ada yang punya pacar atau pernah pacaran.

Sella pendiam dan selalu sendirian. Tipe yang hampir mirip seperti Reta.
Ia termasuk pandai bahasa Inggris walaupun tidak dapat menyaingi teman sekelasnya yang paling pintar.

Sejak saat itu mereka bertiga bersahabat dan semakin dekat.

17 Agustus, Pk.06.30, di sekolah

Upacara HUT RI akan dilaksanakan. Para anggota OSIS sibuk mondar mandir mempersiapkan perlengkapan upacara. Reta baru sampai saat Mona sedang termenung duduk di koridor sekolah.

“Pagi, Mon..”
“Pagi juga..”, Mona tersenyum.
“Kelihatannya murung banget. Ada masalah?”
“Ah nggak kok, ga ada apa – apa.”

Namun Reta merasa Mona tidak seperti biasanya.
Mendadak angin berhembus kencang dan daun – daun berguguran.
Reta menoleh ke belakangnya.
Suasana sekolah berubah menjadi sepi dan matahari berada di kepala.

Dipojok koridor terlihat sepasang perempuan dan laki – laki.
Nampaknya sedang bertengkar……….


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Wind of Time - 14

Mata Reta tertuju pada sebuah nama. Zaki Ventura.
Wajah dalam foto disamping nama tersebut pernah ia lihat.
Ternyata benar itu Zaki ! Reta melihat profil singkat disamping foto Zaki.
Alamat, no.handphone, e-mail, dan tanggal lahir.

“Yeah !!!” tanpa sadar Reta berseru sendiri . Untunglah perpustakaan sedang sepi pengunjung.
Jadi Reta tidak terlalu malu karena ditegur kak Elina, pustakawan sekolahnya.
“Reta jangan ribut ! Kalau mau ribut diluar saja sana !”
“I… Iya kak.. Maaf..”

Pk 20.00, dikamar Reta

Reta kini berhadapan dengan komputernya. Ia sedang buka facebook.
Awalnya niat dia mencari data Zaki melalui e-mailnya.
‘barangkali dia punya account di facebook, jadi aku bisa selidiki semua tentang dia ’ pikirnya.

Setelah log in, Reta melihat ada satu friend request.
Kemudian ia meloncat dari tempatnya duduk,
‘Dia add aku !!! Kok bisa yah? Tau darimana aku punya facebook?‘
Reta meng-confirmnya.
Ia pun membuka friendster-nya.
Ada juga friend request…… dari Zaki !

Ia membuka yahoo messenger.
Ada friend request dari Zaki. Emailnya sesuai dengan email Zaki yang ada di buku tahunan. Reta meng-approve nya.
Ternyata Zaki sedang online. Zaki menyapanya.

ventura13_92 : hai reta 
retania_forlive : hai juga 
ventura13_92 : uda app aku?
retania _forlive : uda koq, thx ya dh add
ventura13_92 : sm” manis

Muka Reta memerah. Chat malam itu membuatnya tertawa semalaman.
Zaki cowok yang baik. Melalui facebook dan friendster ia mendapat data lengkap Zaki.
Ternyata Zaki juga dulu SD dan SMP di sekolah yang sama dengannya.

Reta tidur dan mimpi indah malam itu………

14 Agustus 2009, sepulang sekolah

Bulan Juli telah berlalu dan Agustus pun telah tiba. Reta diajak Mona dan Sella ke mall didekat sekolahnya setelah pulang sekolah. Tentu saja setelah mendapat ijin dari mamanya dengan agak susah payah.

Dengan ringan ia melangkahkan kakinya keluar kelas.
Tiba – tiba angin berhembus kencang. Daun – daun di lapangan berguguran.
Langkahnya terhenti saat melihat sepasang cewek dan cowok sedang berjalan berdua…………….


~~~~~~~~~~~~~~~~

Wind of Time - 13

Pk. 06.15, disekolah Reta

“Huaaaaaahhh… Pagi yang sangat indaaaaaaah…”, seru Reta.
Ia baru saja sampai di kelas saat ada gadis yang duduk di bangku paling belakang sedang terdiam.
Matanya tampak sedang menerawang jauh.

“Pagi, Mona.”, sapa Reta
“Pagi…” Mona tersenyum.
“Sendirian aja, nih?”
“Iya… Sepi yah….”
Kemudian Ferika datang, “Monaaaaaaaaa temenin gue ke TU !!!”
Suaranya menghancurkan keheningan pagi.
Ferika menarik Mona keluar kelas. Tinggallah Reta sendirian.

Pk.09.05, saat istirahat 1

Sella duduk diam di bangkunya. Reta menghampirinya sambil membawa buku biologi di tangannya.

“Sell, kamu tau ga jawaban no 13?”
Sella menatap Reta lalu mengambil buku dari genggaman Reta. Dia membuka bukunya dan mencocokkan jawaban yang ada di buku Reta.
“Kalau gue jawabannya A.” Reta tak sengaja melihat ke buku Sella.
Ada gambar anime.

“Wah, gambarnya bagus.. Kamu suka gambar komik ya?”
Sella tersenyum, “Iya, gue suka gambar komik, tapi hasilnya kurang bagus…”
“Sama donk, gue juga suka gambar komik. Kadang gue suka meniru tokoh komik, tapi hasilnya tetap aja jelek..”
“Gue juga. Loe suka baca komik juga? Komik apa yang biasanya loe baca?”

Percakapan mereka terus berlanjut.
Reta merasa Sella cocok dengannya, sebagai teman mengobrol. Mereka juga memiliki hobi yang sama. Ia akhirnya mendapatkan sahabat baru.

“Nanti istirahat kedua bisa temenin gue ke perpus ga? Gue mau baca buku, nih.”
“Bisa, kok. Gue juga mau baca novel.”
Reta tersenyum.

Pk 11.20, di perpustakaan sekolah.

Setelah menulis nama di buku absen, Sella menghampiri rak buku novel terjemahan.
Reta mengambil tiga buku dari rak disebelah tempat pustakawan. Buku tahunan angkatan tahun 2006 – 2008.
Ia dan Sella duduk di bangku pojok perpustakaan. Reta mulai membuka bukunya.
Matanya serius membaca buku angkatan tahun 2006. Tiba – tiba angin berhembus dan buku angkatan 2007 terjatuh.
Reta bingung mengapa ada angin yang berhembus, padahal ruang perpustakaan tertutup.

Ia mengambil buku tersebut. Entah mengapa ada rasa penasaran yang luar biasa menyulubungi hatinya. Perlahan Reta membuka buku itu, mencari sebuah nama……….


~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Wind of Time - 12

Reta teringat sesuatu yang ingin ia tanyakan pada cowok misterius itu.
“Hmm…… Aku boleh tau nama kamu?” Reta bertanya dengan agak hati – hati..
“Hahaha jadi mau tau nih.” Cowok disebrang sana malah tertawa.
“Aduh serius, aku cuma mau tau nama kamu.. ” si cowok berhenti tertawa.
“Oh… Oke… Tapi kalau udah tau jangan marah yaa…”, hening beberapa detik..
Cowok disebrang sana berpikir keras apakah ia bisa memberitahukan namanya.
Namun instingnya mengatakan bahwa Reta gadis yang baik.

” Nama gue Zaki.”

“Oh… Kak Zaki yah” Reta bingung mau ngomong apa lagi.
“Kak Zaki? Ga enak banget pake ‘kak’……. Panggil Zaki aja..”
“Owh.. Oke deh… Zaki…” tiba – tiba sambungan terputus.
“Halo… Halo… ? Huh.. Terputus….”, Reta meletakkan handphone-nya.

Namanya Zaki. Reta ingin tahu identitas Zaki.
Tinggal dimana, kapan lahirnya, sekolah dimana, kelas berapa, dan lain – lain.
Tapi…. Bagaimana caranya?
Reta terus berpikir dan berpikir keras. Ia jadi teringat bunga melati.
Sudah 2 hari tak terurus. Reta langsung menghampiri meja belajarnya untuk melihat gelas plastik di mejanya.

“Pfiuh.. Untunglah tidak layu..” Reta menghela nafas lega.
Bunga melati tersebut terlihat segar. Akarnya sudah bermunculan.
“Besok akan kutanam di pot depan.”

17 Juli 2009, pk. 05.30, teras rumah.

Tangan kanan Reta menggenggam sekop dan tangan kirinya ada alat penyiram tanaman.
“Tumbuhlah dan berbungalah yang banyak. Kamu bunga yang sangat indah.”

Angin berhembus perlahan. Fajar hendak menyingsing.
Embun pagi menggantung di dedaunan.

Reta tersenyum. Ia meletakkan sekop dan alat penyiramnya, lalu berjalan ke kamar mandi.

Pk. 05.55, dikamar Reta

Reta sudah siap. Ia sudah mengenakan seragam lengkap dengan dasi dan ikat pinggangnya.
Kemudian ia duduk di bangku meja belajarnya, memeriksa apa ada barang tertinggal.

Anehnya, ada foto kelas Reta dan teman – temannya pada tahun 2007.
Foto bersama saat kelas 6 SD. Padahal foto itu sudah disimpan di gudang.
“Kok bisa ada disini, ya?”, Reta duduk termenung.
“Foto kelas kan dulu tiap setahun sekali…..” gumamnya.
Reta memperhatikan foto terakhir dan satu – satunya saat dia kelas 6.

Oh iya ! Reta berdiri spontan dari bangkunya.
“Sekarang aku tau harus kemana mencarinya..”

Dan iapun bergegas pergi ke sekolah……..

~~~~~~~

Wind of Time - 11

Sang cowok misterius muncul dihadapannya dan menjabat tangannya.
“Bagaimana?”

Reta menatap sosok yang kini berdiri di depannya.
“Aku merasa lebih baik sekarang.. Tapi…”, kristal bening sudah tertahan di pelupuk matanya, “Aku tidak yakin dia mau memaafkan aku…. Aku sudah sangat keterlaluan….”

Cowok misterius tersebut mengelus kepala Reta, “ Permintaan maaf yang tulus pasti akan dimaafkan. Kalaupun dia tak mau memaafkannya, itu bukan urusanmu lagi. Tapi urusannya dengan Tuhan.”

Cowok itu mendekapnya .. Reta ingin menghindar tapi anehnya ia merasa sangat lemas dan tidak dapat bergerak. Akhirnya ia pasrah dan hanya bisa merasakan kehangatan dalam pelukan cowok itu. Air matanya mengalir..

16 Juli 2009, pk. 20.00, dikamar Reta

Reta membuka matanya perlahan.
“Ma……… Kak Reta udah banguuuun……….” Suara Kita, adiknya Reta, terdengar hingga seluruh penjuru rumah.
Mama dan Papa Reta langsung menghampiri kamar Reta.

“Reta, apa yang kamu rasakan? Pusing?”, Mama Reta sangat khawatir.
“Ngga kok , Ma… Kok Reta di rumah? Tadi kan di sekolahnya Kita….”
“Kemarin kamu pingsan, jatuh di pinggir lapangan…”, Mama mengelus kepala Reta.
Hah? Kemarin? Berarti aku pingsan seharian, dong ! Pikir Reta.

Mama pergi ke dapur lalu kembali lagi membawa semangkuk bubur.
“Oya, tadi ada teman kamu yang datang. Cowok, ganteng loh.” Reta agak terkejut.
“Hah? Siapa, Ma?”, “Namanya Rifko, tadi siang datang jenguk kamu, tapi kamu kan belum bangun.”. Mama menaruh mangkok di meja di samping Reta.
Rifko? Kok dia tau alamatku ya? Tau darimana? Terus kok dia bisa tau aku ga sekolah?

“Dia bukan pacar kamu, kan?”
Tuh kan , pasti mama bakal tanya kayak gitu.

“Bukan lah, Ma. Reta ga pernah pacaran, tuh.”
“Yakin, nih, nggak pacaran?”
“Nggaaak , Maaaaaaaaaaa……………..” haduh – haduh….
Kadang, ini , nih, susahnya punya mama super protektif…

“Yaudah, mama mau urus adik – adikmu dulu. Dimakan ya buburnya.”
Mama Reta keluar dari kamar. Reta memandang sekelilingnya.
Aneh sekali. Tadi itu mimpi atau apa? Kok bisa sampai seharian ga bangun – bangun ya..

Handphone Reta bergetar. Private number.
Reta segera mengangkat telepon itu.

“Halo?”
“Selamat malam… Kamu sudah bangun? Tidak merasa pusing, kan”
“Emm, tidak, kok. Aku baik – baik saja.” Reta tersenyum kecil.
Semakin lama, entah darimana, ia merasakan senang saat cowok misterius itu meneleponnya….


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sabtu, 20 Juni 2009

Wind of Time - 10

Bisikan itu membuat pedihnya tertahan. Hatinya bersikeras untuk tetap bangun dan mengahadapi yang ada di depan matanya. Angin pun berhembus perlahan……

Kata – kata Jean menciptakan kebisuan. Anak – anak yang mengerumuni memperhatikan serius percakapan mereka.
Reta mengangkat kepalanya dan menatap Jean.
“Lalu ? Ada lagi yang mau kamu katakan ?”, Reta lemas, jatuh terduduk di pinggir lapangan.

“Memang aku salah, aku sudah buat Nicholas menjadi bete dan kesal. Aku sama sekali tidak tahu semua sikapku membuat Nicholas tertekan. Dan sekarang aku hanya bisa minta maaf, pada kamu, dan terutama, pada Nicholas. Aku benar – benar sayang sama dia. Tapi……….. Aku merasa sama sekali tidak pantas untuk dimaafkan. Aku sangat jahat. Nicholas pun belum tentu mau memaafkan aku…..”

Jean dan seluruh anak – anak yang mengerumuni sangat terkejut dengan kalimat Reta tadi. Jean yang tadinya berniat untuk melabrak Reta, hatinya menjadi agak luluh karena mendengar permintaan maaf Reta yang tulus.
Ketulusannya menjalari seluruh tubuhnya dan membersihkan niat – niat setan dalam pikiran. Jean menatap kedalam mata Reta, hingga ia hanya bisa berkata,

“Kalau gitu jangan minta maaf ke gue, tapi mintalah maaf ke Nicholas. Gue hanya menyampaikan perasaan dia aja.”

“Tapi kurasa semua ini sudah terlambat…… Dia benci aku…” Reta mulai pesimis.

“Tak ada kata terlambat untuk permohonan maaf yang tulus, dari hati yang paling dalam.”, Jean tersenyum tipis. Reta akhirnya berusaha untuk meyakinkan dirinya.
Perlahan ia berjalan menghampiri Nicholas yang sedang mengobrol dengan sahabatnya di lorong sekolah.

“Em.. Maaf ganggu.. Aku mau bicara sama Nicho.. Nicho bisa bicara sebentar? Aku mau ngomong sesuatu……………”

Nicho melipat tangannya, “Mau ngomong apa?” nada bicaranya terkesan agak jutek.

“A…. Aku… Mau… Minta maaf..…”, Reta menunduk. Ia tak ingin Nicho melihatnya menangis, “A….. Aku……. Minta maaf atas.… Perilaku ku selama ini…. Karena selama ini aku sangat menyebalkan… Semua sikapku…… selalu membuatmu bete dan kesal… Membuatmu…. merasa tertekan begitu lama… Kuakui…. aku memang tak tahu malu… Aku sangat jahat…..membuatmu menjadi seperti ini.. Bahkan mungkin kata maaf tak cukup untukmu… tapi sungguh, aku mohon maaf dan aku sangat menyesal……………………”

Reta mengulurkan tangannya, berharap Nicho memaafkannya.
Walaupun kemungkinan untuk dimaafkan sangatlah kecil, tapi setidaknya ia sudah minta maaf dan mengungkapkan semua rasa bersalahnya.



~~~~~~~~~~

Minggu, 14 Juni 2009

Wind of Time - 9

“Hai, ingat aku?” Reta menoleh.
“Kamu, kan…”Reta bingung mau berkata apa, ”Kenapa kamu bisa ada disini?”
Cowok berpakaian putih – biru itu berlutut, tersenyum. “Kamu kenapa?”

Reta diam dan menunduk, wajahnya agak pucat. “Aku sangat takut…. Aku bersalah dan aku tak pantas berada di depan dia dan………. saudaranya… Aku terus mengulangi kesalahan itu selama setahun dan melakukannya tanpa pernah merasa bersalah, dan sejak saat aku tahu kalau itu semua salah, aku jadi takut dan malu bertemu dengan dia.. Aku benar – benar bodoh.. Seperti cewek ga bener……”

“Kalau begitu, mintalah maaf pada dia, lakukan sekarang. Waktu terus berjalan, cepatlah hampiri dia, sebelum istirahat selesai.”

“Ta… Tapi… Apa dia mau memaafkan cewek seperti aku? Aku ga pantes untuk dimaafin…” Reta menunduk, “Aku.. Membuat orang lain tidak tenang selama setahun lebih.. Aku sangat jahat..”

“Jangan terlalu pesimis. Cobalah dulu, kalau belum dicoba, kan, tidak akan tahu dia akan memaafkanmu atau tidak” Cowok itu menggenggam tangan Reta, “Sekarang maju dan hampiri dia. Mintalah maaf dari hatimu yang terdalam.”
Reta merasakan angin berhembus pelan. Tiba – tiba muncul keberaniannya untuk maju.

“Baiklah, aku akan coba…..” Reta berdiri. Ia menguatkan hatinya dan berusaha untuk yakin kalau ia akan berhasil menghadapi situasi ini.
Sang cowok misterius pun ikut berdiri dan berbisik “Sekarang, hampiri dia..”

Reta berjalan perlahan ke pinggir lapangan sekolah, mendekati gadis berambut panjang yang memanggilnya tadi.

“Gue mau bicara sama lu.” Jean menatap mata Reta. Tatapan yang sangat serius.
“Sikap lu selama ini terhadap Nicholas benar – benar keterlaluan. Sejak lu bilang kata – kata itu ke orang – orang, ditambah lagi sikap lu yang seperti ini, Nicholas menjadi berubah.”

“Dia kadang cerita ke gue, betapa dia bete dan kesal selama ini. Dia sebenarnya tidak begitu peduli dengan kata – kata orang, tetapi sikap lu ke dia yang buat dia muak dan ilfil sama lu. Kalau lu bener – bener sayang sama dia, bukan begini caranya….”

Anak – anak dari kelas Jean mendengar percakapan tersebut dan mulai mengerumuni mereka berdua. Yang main galaksin dan baru selesai makan jadi pada ngumpul disitu.
Reta malu dan menundukan kepalanya.

“Coba deh, lu ngerasain jadi Nicholas. Pasti lu capek sendiri, kan? Pasti lu bete dan kesel juga kalau diganggu terus kaya gitu.”

Kata – kata yang simpel, kan ? Tapi nada bicara dan tatapan matanya sungguh luar biasa.
Udah kayak puisi , pakai penghayatan sampai gimanaaaa gitu.
Reta hanya bisa diam. Matanya mulai berkaca – kaca. Mendadak ia mendengar bisikan seseorang, entah darimana suara itu.

“Hold on, Reta. Tetap bertahan, jangan menangis. Kamu pasti bisa…”


~~~~~~~~~~~~

Wind of Time - 8

“Retaa…. Ayo kita pulang…” Reta menoleh. Mama Reta ternyata sudah datang.
“Iya, Ma.. Tunggu sebentar..”
Namun saat ia melihat kearah bangku tadi… Cowok itu udah ga ada.
Uggggh…. Kelepasan lagi , deh!

“Reta, kita jemput adikmu dulu ya.. Udah terlambat nih, kasihan dia nunggu lama.”
Karena mamanya yang ngomong, jadi Reta hanya menjawab, “Iya, Ma..”

Pk. 13.30, disekolah Kita, adik Reta

Sekolah adiknya, yang merupakan tempatnya belajar dulu, agak sepi, hanya ada orang tua yang menunggu anak – anaknya. Reta berdiri di pintu utama sekolah, ia bertemu dengan Pak Toto, penjaga sekolah.
“Siang pak Toto”, sapa Reta.
“Neng Reta?” Pak Toto terkejut, tumben –tumbennya Reta datang ke SD. Memang, sejak lulus dari situ, Reta tidak pernah datang berkunjung. “Apa kabar, neng? Lama tidak bertemu, ya.”
“Iya, pak. Sejak lulus dari sini, saya tidak pernah berkunjung ke SD lagi. Oh, ya, pak, saya boleh masuk ke dalam, ga?”
“Tentu saja boleh, neng. Silakan..”
Pak Toto membukakan pintu.

Reta melangkahkan kaki, masuk kedalam area sekolah.
Ia memperhatikan sekeliling lapangan. Ada berbagai macam tanaman termasuk.. Bunga melati ?? Sejak kapan ada bunga melati disini?
Reta penasaran dan mendekati bunga tersebut.

“Lama banget ya, aku ga dateng kesini. Sekolah ini bener – bener berubah.” gumam Reta.
Mendadak angin bertiup kencang. Bunga – bunga yang ada menjadi rontok dan berterbangan.
Daun – daun tanaman di sisi lapangan rontok satu persatu.
Hanya bunga melati yang masih berdiri tegak. Harumya pun menyebar.
Semua pemandangan tersebut membawa rasa tenang bagi Reta.
Dan tak lama kemudian, angin berhenti berhembus.

“Reta… Sini deh, gue mau bicara..”
Seseorang memanggilnya perlahan. Reta menengok kebelakang dan…………………
Keadaan berubah.

Lapangan sangat ramai. Anak – anak bermain galaksin, petak umpet, dan kejar – kejaran… Yang sedang makan, duduk sejajar di pinggir lorong sekolah..
Terlihat dari lapangan, anak – anak berseragam putih - merah duduk memenuhi koridor di dekat pintu utama sekolah.

Suasana ini…. Reta terdiam. Jantungnya berdetak kencang.
Ia tidak berani menghadapinya. Sungguh ia ketakutan.
Reta terduduk lemas dan menutup wajah dengan kedua belah tangannya.
“Aku.. tidak bisa… Aku takut.. A… Aku tidak berani menghadapi dia….”

Sesosok tubuh tinggi berdiri disebelahnya, kemudian berlutut dan menyentuh bahunya…………




~~~~~~~~~~

Jumat, 12 Juni 2009

Wind of Time - 7

Gubrak ! Reta menabrak Rifko yang membawa buku – buku.

“Aduh maaf.. Jadi berantakan begini bukunya…” Reta merasa tidak enak pada Rifko.
“Gapapa kok, kak.. Mestinya saya yang minta maaf, tadi saya ga liat jalan..” Mereka berdua memungut dan merapikan buku – buku yang berserakan.

“Nih, kak, saya disuruh Bu Intan untuk memberikan buku – buku ini ini ke anak – anak kelas kakak..”
“Oh.. Terima kasih , ya..” Reta membawa buku – buku tersebut ke meja guru.
“Oh, iya… Ngga usah panggil kakak, panggil Reta aja..” Reta terseyum

Rifko agak terkejut. Baru pertama kali ada kakak kelas yang berkata seperti itu.
Karena selama ia sekolah di situ, kebanyakan kakak kelas cenderung bersikap angkuh dan tidak bersahabat. Namun sikap yang berbeda diberikan oleh Reta.

“Oh.. Ehm.. Iya.. Oke deh..” Rifko membalas senyum Reta. “Saya permisi dulu, kak… Maksudku.. Reta.”

Anak yang baik… Gumam Reta, dan ia pun masuk ke kelas.

Rifko berjalan kembali ke kelasnya sambil senyam - senyum ga jelas.
Reta ramah dan bersahabat. Kata – katanya sopan, berbeda dengan kakak kelas yang lain.
Dimatanya, Reta adalah gadis yang ‘kesan pertama’nya paling baik diantara gadis lainnya yang pernah ia kenal.

Pk. 12.45, sepulang sekolah

Reta berdiri di lorong kelas, menunggu mamanya menjemput. Memang kadang dijemput telat, bahkan hingga Reta menunggu satu jam seperti kemarin.

Handphone-nya bergetar lagi. Pasti dari si cowok misterius, pikirnya.

“Halo?”
“Selamat siang”, ternyata benar, cowok itu lagi.
”Selamat siang.”
“Bagaimana hari ini? Menyenangkan?”
“Tidak juga. Hari yang aneh…” Reta mengawasi keadaan. Matanya menangkap seorang cowok berseragam SMA sedang duduk – duduk sambil menggenggam handphone di tangan kirinya..

“Aneh? Memang ada apa? Hehe…”
“Ga ada apa – apa kok, hanya saja kamu datang dan pergi secara misterius.” Reta mengendap – endap mendekati cowok itu. Kena kamu sekarang ! gumamnya.

“Hahahaha…” cowok itu tertawa, “Makin misterius, makin seru..”
“Tidak ada misteri yang tak dapat dipecahkan”
Reta semakin dekat dengan sosok yang sedang duduk itu.
“Oh ya? Lihat saja nanti”, Reta semakin mendekati cowok itu.

Tinggal beberapa langkah lagi………


~~~~~~~~~~~~~

Kamis, 04 Juni 2009

Wind of Time - 6

“Kak…. Bangun kak… kakak masih hidup, kan?”
Reta membuka matanya, melihat sekitar.
Lorong masih sepi, seorang cowok berlutut disampingnya.

“Kamu siapa? Kok ada disini?” Tanya Reta.
“Saya Rifko. Tadi waktu mau ke kelas saya lihat kakak duduk di lantai sambil menundukkan kepala. Saya pikir kakak sakit”
“Oh, saya ngga kenapa – kenapa, kok, saya masih sehat walafiat. Terima kasih, ya, saya mau ke kelas dulu. Permisi…”

Reta bangkit dan tersenyum pada Rifko, lalu berjalan menuju kelasnya yang berada di lantai bawah. Kepalanya terasa pusing, hatinya seperti tersayat kembali mengingat kejadian barusan.

Rifko menatap sosok Reta dari jauh. Matanya tak lepas dari Reta.
“Gadis yang manis….” pikirnya, dan ia pun kembali ke kelas.

Pk. 08.45, pelajaran Matematika.

Reta menghela nafas. Pikirannya melayang jauh.
Ia tidak konsentrasi pada pelajaran Matematika yang disampaikan Bu Intan..
Sejak bertemu cowok misterius itu, ia bisa kembali ke masa lalunya.
Masa lalu yang mengorek luka lamanya. Saat angin yang menenangkan itu berhembus, tiba – tiba dia berada pada waktu – waktu yang dulu menyiksanya.
Detik – detik yang menorehkan sebuah penyesalan tiada akhir.

Reta memainkan pulpen di tangan. Pandangannya menerawang.
Tanpa disadari, Bu Intan memperhatikannya.

“Reta..” Bu Intan menegur perlahan, namun Reta nampaknya tak mendengar karena sudah jatuh dalam pikirannya.
Kemudian Bu Intan menyentuh bahu Reta, “Reta..”
“Eh, kenapa, Bu?” Reta agak gelagapan.
“Reta, kamu kenapa? Kelihatannya lemas sekali, kamu sedang sakit?”
“Ehm.. Enggak , kok, Bu..” Reta tersenyum walaupun agak dipaksakan.

Kriiiiiiiiiiing…………..
Bel tanda istirahat pun berbunyi. Teman – teman sekelas Reta sudah berhamburan keluar kelas. Reta masih duduk di kursinya. Rasanya berat untuk berdiri.

“Reta…..” seseorang memanggilnya. Reta menengok kearah pintu. Seorang cowok berpakaian putih abu – abu tersenyum, bersender di pintu kelas sambil melipat tangannya.
Spontan Reta langsung berdiri lalu berlari ke depan kelas, “Heiii…. Tunggu !

Namun didepan kelas, Ia tak melihat siapa – siapa. Misterius amat, sih dia, gumamnya.
‘Ke perpustakaan aja ah, barangkali ada dia disitu..’ Reta berbalik badan namun tak sengaja ia menabrak seseorang…………….

~~~~~~~~~~~~~~~

Wind of Time - 5

15 Juli 2009, pk 06..15, di sekolah
Hari ini Reta sangat berbeda dibanding hari – hari sebelumnya. Wajah Reta terlihat lebih ceria, ia seperti mendapatkan hidupnya kembali. Saat memasuki gedung sekolah dan berjalan di koridor lantai bawah, Reta sangat terkejut melihat tanaman di pojok lapangan.
Itu kan bunga melati ! Padahal sebelumnya tak ada. Siapa yang tanam bunga itu?

Karena penasaran, Reta menghampiri pot bunga itu. Di salah satu tangkainya, ada kertas bertuliskan namanya ! Sungguh aneh.
Tiba – tiba angin berhembus pelan dan menenangkan lagi hatinya. Reta melirik ke koridor lantai dua, dan dia melihat cowok itu, yang kemarin kasih bunga melati !
Cowok itu tersenyum kepada Reta. Reta lalu berlari ke lantai atas.

Aku pasti akan segera tau siapa kamu ! serunya dalam hati.

Namun sesampainya di koridor lantai 2, cowok misterius itu udah ga ada.
Waduh ?! Kemana dia? Reta kebingungan. Celinguk kiri kanan tapi ga ada. Akhirnya Reta berbicara sendiri , entah pada siapa..

“Hoi, siapapun kamu, aku mau bicara sama kamu, aku hanya mau berterima kasih atas bunga yang kamu berikan kemarin, bunganya bagus, aku suka. Keluarlah, aku mau bicara!”

Tiba – tiba cowok itu muncul dibelakang Reta, bersender tembok sambil melipat tangannya. Gayanya cool abisssss….. Reta tak sanggup menatap wajah cowok itu dan bingung mau berkata apalagi.

“Te…. Terima kasih….” Reta menundukkan kepala.
Cowok itu kemudian tersenyum, mengibaskan tangannya dan angin semilir yang menenangkan itu kembali datang. Reta mengangkat kepalanya, dan………

Sekarang Reta sedang berdiri diantara kerumunan anak – anak ….. kelas 1 ???
Ia merasa pernah mengalami kejadian ini..
Suasana yang sama sekali tidak asing… 1 setengah tahun yang lalu…..
Dimana untuk pertama kalinya ia merasakan sakit yang luar biasa..

Perasaan menyiksa itu pun kembali menyelimuti dirinya, namun ia berusaha untuk tegar..
Luka lamanya tak pernah bisa disembuhkan……….
Saat melihat mereka berdua mengobrol ……..

Reta tak sanggup melihat kedepan. Ia hanya bisa berusaha menahan air matanya.
Kepalanya menunduk, bibirnya terkatup rapat…

~~~~~~~~~~~~~

Wind of Time - 4

Reta kemudian mengangkat telpon tersebut.
“Selamat malam” suara ini... Pasti dari cowok misterius tadi ! Pikir Reta.
Siapa, sih, dia? Kalo nelpon pake private number. Tapi kalo denger suara dia tuh, perasaan jadi tenaaaaang banget.

“Selamat malam” jawab Reta ragu – ragu. “Maaf ini siapa?”
“Nadanya formal sekali ya… Hahaha… Santai aja lagi..”

Hweleh gimana mau santai.. Batin Reta. Kan takut!

“Hmm.. Kamu yang tadi siang, ya?”
“Hahaha.. Iya lah.. Bagaimna hari ini? Menyenangkan?”
“Yah, lumayan.. Membuatku lebih lega..” jawab Reta, ” Tapi kamu tau darimana nomer HPku?”
“Ada deh..”

Arrrrggggghhhhhh… Reta mulai geram, bener – bener penasaran.

“Aku masih bingung, kamu tau nomer HPku darimana? Dan kenapa kamu telpon aku pake private number? Terus kenapa kamu kasih aku bunga melati?”
“Hm.. Soal itu, gue ga bisa cerita, karena cepat atau lambat kamu pasti akan tau juga..”
Kemudian sambungan terputus.
“Halo? Halo? Yee dimatiin lagi… Kurang ajibbbb” gumam Reta.

‘Bener – bener hari yang aneh. Tadi siang ada cowok misterius yang kasih bunga melati. Aku kembali ke masa SD yang suram dan melawan si duo – sok . Lalu barusan tuh cowok telpon lagi, pas aku nanya tentang bunga melati, malah ditutup telponnya. Siapa sih dia?’ Reta berpikir keras, lalu dia teringat buku psikologi yang diberikan mamanya.
Ia membaca beberapa halaman dan mendapat ide brilliant.
Akhirnya ia memutuskan untuk tidur.

Dan untuk pertama kali, dia bisa tidur nyenyak….

Dalam tidurnya ia mendengar suara cowok yang sangat halus.
Muka cowok itu samar – samar, dia tak dapat melihat wajah cowok itu dengan jelas.
Tapi Reta menyukai suaranya yang jernih.
Besenandung dengan iringan petikan gitar yang mengalun indah.
Namun mengapa lagu itu…
Terdengar amat menyedihkan?

~~~~~~~~~

Wind of Time - 3

Reta menahan air matanya, ‘Aku bukan anak yang tidak tahu diri, aku nggak cengeng dan aku bukan anak mami !’

Bel tanda istirahat telah selesai kemudian berbunyi,
“Udah ah, udah bel. baris, yuk, Tha” ujar Kanna,
“Capek ati gue ngurusin si anak mami.”
“Yuk.” balas Etha. Mereka kemudian berbalik badan, tanpa mereka ketahui, Reta bangkit lalu mendorong mereka hingga jatuh.

“Kalian lebih ga tau diri ! Menuduhku ngata – ngatain kalian, padahal ngomongin kalian pun aku ga pernah! Bukankah kalian yang justru menjelek – jelekkan dan memusuhiku !? Apa mau kalian ?!”

Kanna dan Etha terkejut karena Reta berani mendorong dan melawan mereka, padahal biasanya Reta menangis dan selalu pasrah pada tindakan mereka.

“Udah berani ngelawan lu ya sekarang !” Kanna mulai emosi. Kemudian duo cewek yang sok itu berdiri dan mulai menjambak rambut Reta yang dikepang. Reta kemudian membalas memukul mereka.
Kelas menjadi sangat ramai oleh sorakan anak – anak. Tak lama kemudian Reta mendengar ada yang memanggilnya……

“Reta… Reta… Kamu ketiduran ?” Mama menyentuh bahu Reta.
Reta terbangun. Oh ternyata tadi cuma mimpi.. Tapi kok rasanya kayak beneran ya? Aneh… Batinnya dalam hati.
“Nih, mama beliin buku, dibaca ya.” Mama meletakkan sebuah buku dalam bungkusan plastik, lalu meninggalkan Reta yang masih termenung bingung.

Tadi ia kembali ke masa – masa kelas 1 SD, saat Etha mendorongnya hingga jatuh. Dulu dia didorong hingga jatuh lalu menangis. Saat itu dia menanggung malu yang luar biasa. Semua teman – teman seangkatannya mengejeknya habis – habisan dan menjadikannya bulan – bulanan. Biasanya saat mengingat itu, perasaannya menjadi sedih.
Namun setelah mengalami reka ulang lagi, rasanya ia menjadi lega karena berhasil melawan mereka.

Daripada pusing – pusing, mending baca buku aja, ah… pikir Reta. Kemudian ia mengambil bungkusan yang diberikan mamanya dan membaca sampul buku bertuliskan DUNIA PSIKOLOGI.
Dibuka olehnya plastik yang menyelimuti buku tersebut.
Dia melihat – lihat acak halaman yang ada. Baru beberapa kalimat ia baca, tiba – tiba handphonenya berdering.

Lagi – lagi private number.

“Haduh, siapa lagi, sih, nih…..” gumam Reta…..


~~~~~~~

Wind of Time - 2

Pk 14.00, di rumah Reta

Setelah sampai di rumah, Reta segera ke dapur, mengambil gelas plastik lalu mengisinya dengan air. Diletakkannya bunga melati yang diberikan oleh cowok misterius tadi kedalam gelas itu. Siapa, sih, cowok tadi…. Bikin penasaran aja.. Lalu buat apa dia kasih bunga melati ini? Tanya Reta dalam hati.

Pk 20.00, dikamar Reta

Malam yang begitu sepi. Orang tua dan adik – adik Reta sedang pergi ke mall. Reta menolak untuk ikut. Sekarang ia duduk di depan meja belajarnya sambil memandangi bunga melati. Ia jadi teringat saat kelas 1 SD, masa – masa itu sangat membuatnya tersiksa.. Entah ada angin dari mana yang membuatnya merasa sangat tenang dan memejamkan mata............

“Heh cewek ga tau diri ! Sini lu !” Panggil Kanna dan Etha, dua anak yang memusuhi Reta saat kelas 1 SD.
Reta terkejut mendengar panggilan itu lalu membuka matanya. Kemudian Etha menarik tangannya.

‘Loh, kok?’ Reta melihat sekeliling, ‘Ini , kan, kelasku dulu pas kelas 1 SD, tata ruang kelasnya juga sama seperti dulu.. Masih pakai papan hitam, lagi…”

Reta benar – benar bingung. Situasinya persis seperti saat Kanna dan Etha, dua cewek yang paling sok se-angkatannya waktu SD dulu, mendorongnya hingga jatuh. Tiba – tiba kejadian mengesalkan ini terulang lagi, tapi kok bisa?! Atau ini hanya mimpi ? Reta masih tetap berpikir sementara Kanna dan Etha memandangnya dengan sinis.

“Heh anak mami, lu pikir dengan ngata – ngatain kita masalah akan selesai? Enggak ! Lu dalam masalah besar sekarang!” Reta berusaha mencerna kata – kata Kanna. Kapan aku ngatain mereka? Apa dua anak ini pikirannya ga beres?

“Dengan mudahnya lu bilang kita ini kecentilan dan suka marah – marah ga jelas ?! Mau lu apa, hah ???!!!!!! DASAR GA TAU DIRI !!!” Etha berteriak lalu mendorong Reta hingga jatuh.
Reta terdiam. Tentu saja ia sakit hati diperlakukan seperti itu. Matanya berkaca – kaca.
Kanna dan Etha semakin menjadi – jadi.

“Dasar cengeng, nangis mulu kerjaannya. Nanti pasti ngadu ka mamanya, bilang abis dimarahin. Dasar anak mami !” Kanna mengejek – ngejek,
“anak mami ! anak mami! Hahahahaha!”
Teman – teman sekelas Reta menertawainya, Kanna dan Etha pun semakin menjadi – jadi.

~~~~~~~

Minggu, 31 Mei 2009

Wind of Time - 1

Disebuah kota kecil di pulau yang sangat luas, hidup seorang anak perempuan berumur 13 tahun. Gadis yang biasanya dipanggil Reta, memiliki masa lalu yang sangat kelam dimana dia tidak punya teman yang benar – benar teman. Banyak orang yang memanfaatkan dan menjelek-jelekkannya. Dia sangat pendiam, dan tidak dapat menentukan pilihannya sendiri. Dia sangat mudah percaya pada orang lain, dan merasa dirinya paling bodoh karena tertutup dari dunia luar dan tidak tahu apa - apa.

14 Juli 2009, pk 13.30, di sekolah.

Reta duduk terdiam di kursi lorong sekolahnya. Hari ini adalah hari pertama dia masuk sekolah sebagai murid kelas 3 SMP. Bel pulang sekolah sudah berbunyi dari pk 12.30, jadi sekarang dia sendirian di sekolah.

“Aduh mama kemana, sih ? Kok ga dateng – dateng, ya…?” dia mondar – mandir di lorong sekolah saat handphone nya tiba – tiba bergetar.
Private number. Reta lalu mengangkatnya dengan perasaan agak takut.

“Halo”, Reta berusaha menguatkan hatinya
“Selamat siang”, terdengar suara cowok yang lembut dan terkesan ramah tapi tidak gombal. Jadi gimanaaaa gitu. Susah deh jelasinnya.
“Selamat siang, maaf, Anda siapa dan ada keperluan apa menelpon saya?”
“Hmm.. Kamu Reta, kan? Formal banget ngomongnya, santai aja lagi”
“Iya. Kok kamu tahu nama saya? Lalu kamu mau apa telpon saya?” nada Reta terkesan seperti mengintrogasi.
“Cuma mau kasih sesuatu. Ke lapangan sekarang, ya” sambungan pun terputus.
“Halo? Halo? Kok dimatiin, sih?”, Reta agak ketakutan, tapi ada perasaan aneh yang menyelimuti dirinya. Rasa penasaran dan ingin tahu. Dia akhirnya berlari ke lapangan.
Disana ada seorang cowok yang berdiri di tengah lapangan memakai baju putih - putih. Reta menghampirinya.

Cowok itu tersenyum lalu berjabat tangan dengan Reta. Reta tesenyum, kepalanya agak menunduk. Nih cowok cakep banget, batinnya.

“Nih”, cowok itu memberikan sekuntum bunga melati, “ditanam, ya, jangan sampai mati”
Reta memandang si cowok yang senyumnya bawa kedamaian, lalu memerhatikan bunga melati tersebut.. Tiba – tiba dia teringat masa lalunya yang sangat menyedihkan. Saat anak – anak mambencinya tanpa ia ketahui alasannya, saat ia dilabrak saudara temannya di SD dulu, saat ia dimanfaatkan teman – temannya, saat dia di khianati, saat dia bertengkar dengan temannya, saat dia mengorbankan hatinya agar seseorang bisa bahagia………. Sungguh dia merasa semua kejadian itu adalah salahnya.
Semuanya terasa sangat menyakitkan hingga Reta jatuh berlutut dihadapan sang cowok misterius tersebut.
Air matanya hampir tumpah. Cowok yang misterius itu mengibaskan tangan didepan wajahnya dan angin berhembus perlahan membawa kedamaian. Anehnya rasa sakit dan sedih itu lenyap bersama sang cowok misterius.

“Reta… Sedang apa kamu disana? Ayo pulang, maaf mama telat jemputnya.” Mama Reta memanggil dari pinggir lapangan. Matanya melirik tangan Reta yang memegang sekuntum bunga melati, “Itu dari siapa?”
“Nemu di lapangan, masih bagus, Ma, sayang kalau dibuang. Tanam dirumah aja ya, Ma, boleh, kan?” jawab Reta. Bohong sedikit gapapa lah, soalnya kasihan juga bunga ini.
“Boleh kok, ya sudah sekarang kita pulang”

Reta melangkahkan kaki keluar dari gerbang sekolahnya sambil memegang bunga melati dan membawa sebuah pertanyaan.

Siapa, sih, dia ? Hati Reta penuh tanya.

Sabtu, 23 Mei 2009

Masa Lalu Untuk Masa Depan

Hmm..
Masa lalu membuat pikiran saya berubah..
Tadinya saya bercita2 ke arah musik, tapi saya teringat sesuatu yg membuat saya ingin menjadi psikolog..
Dari waktu saya masih TK sampai sekarang.. Perubahannya luar biasa..
Saya ingin membantu orang2 yg punya masalah dan berpikir kritis dalam setiap pemecahan nya tanpa menggunakan emosi..

Dulu saya ga berani sendiri, pemalu, dan pendiam..
Waktu TK teman2 suka mengejek2 saya sampai saya nangis terus dan ga mau sekolah.
Sampai ke SD pun saya jd pendiam dan pemurung ..
Saat menginjak kelas 5 SD, saya akhirnya merasakan sesuatu yg berbeda namun pasti akan dialami orang2..
Saya menjadi sangat agresif dan mengungkapkan perasaan dgn berlebihan dan sangat terbuka..
Dan saya melakukannya juga diskul karna saya pikir itw wajar2 aja..
(Kalau kalian jadi teman seangkatan saya saat itu mungkin kesannya saya itw ga tau malu dan murahan..)

Dulu saya cerita ma nyokap n temennya, namun sejak mama komentar (beliau bilang, 'biasa aja, ga usah sampai kaya gitu' dgn nada yg ya... Sebenernya rada ngeselin) jujur saya jadi tersinggung dan ga mau cerita2 lagi ma nyokap.
Dan sering sampai sekarang, kalau nyokp ngliat saya senyum2 atau jadi diam ga jelas trus nanya ada apa, paling saya cuma bilang, 'ga ada apa2 kok, ma' 'ngga kok, ma, td lucu aja nonton extravaganza' 'tadi abis nonton film sedih,ma' dan alesan2 lain yg dimasuk2 akalin..

Makanya setiap saya ada masalah, saya selalu diam dan kadang merasa terbebani.
Saya ga punya tempat cerita, walaupun ada tapi saya tidak bisa cerita pada orang itu..
Hingga pada saat ortu saya tau masalahnya, ya jadi begitulah...........

Memasuki jenjang SMP, ada beberapa teman yg percaya pd saya, lalu mereka menceritakan masalah mereka. saya mencoba memberikan solusi terbaik pada mereka..

Kemudian ada suatu kejadian yg membuat hubungan saya dan beberapa sahabat saya menjadi renggang..
Kejadian itu membawa emosi saya dan membuat saya kesal pada 2 sahabat saya.
Saat itu saya butuh teman, tapi tidak ada sementara kejadian tersebut membuat saya semakin gusar.
Akhirnya saya cerita pada guru BP..
Dan ada beberapa yg sarannya berguna dan saya ingat hingga sekarang...

Kalau setiap kali saya ingat betapa bodohnya saya 2 tahun terakhir di SD.. Wew uda bener2 kayak ga tau malu, ga punya sopan santun, tata krama, murahan, dan seperti CEWEK GA BENER..
Parah abis dhe..
Ga ada yg kasih tau bagaimana harus bersikap.. Teman2 mungkin sudah men-cap saya cewek ga bener yg murahan..

Makanya saya ingin menjadi psikolog..
Saya pingin banget memberikan penyuluhan dan membantu masalah orang lain sebelum mereka menjadi salah arah..
Seperti saya dulu..

"masa lalu dan masa kini adalah buah pikiran untuk masa depan yang lebih baik"
=]

Senin, 11 Mei 2009

Aku Cinta Dia

Di saat kau berjalan
Di muka rumahku, penuh gaya
Tersita pandanganku..
Hingga ku terpesona

Siapakah dirimu..
Hatiku ingin tahu...
Segera....

Reff:
Hati yang berbunga
Pada pandangan pertama
Oh Tuhan tolonglah
Aku cinta, ku cinta dia......

Di manakah rumahmu
Siapakah namamu, sebutkanlah
Kuingin berkenalan..
Terimalah salamku

Gayamu dan wajahmu, terbawa dalam mimpi
Diriku, dimabuk asmara.. =]

dadidadidadam...
dadidadidadam..
dadidadidadam paramm param..

wkakwkawkaw...
Saya lagi demen banget ama lagu yang dinyanyiin Gita Gutawa ini..
Ampe jingkrak jingkrak ga jelas waktu didengerin...

peace yaaa. =]

Sifat - Sifat Warna

Berbagai sifat - sifat warna ini dulu pernah disuruh salin ama papa saya.. Tapi lupa dari buku apa.. Hehe.. Semoga bermanfaat, terutama yang mau ngecat rumah atau sekolah.. hueheheheheh

Merah : warna yang menarik dan emotif dianggap lebih mengganggu bagi mereka yang sedang dalam keadaan tegang dan lebih menyenangkan bagi mereka yang sedang dalam keadaan tenang. Memacu kelenjar dibawah otak dan kelenjar adrenal serta melepaskan achacalin. Dapat meningkatkan tekanan darah dan pernafasan sertamerangsang selera makan dan indra penciuman.

Kuning : merupakan warna pertama yang dikenali otak. Diasosiasikan dengan stress, kewaspadaan, dan kecemasan namun merangsang optimisme, harapan dan keseimbangan secara keseluruhan. Sangat baik digunakan di dalam kelas.

Jingga : memiliki karakteristik antara merah dan kuning. Merupakan salah satu warna terbaik untuk pembelajaran.

Warna – warna terang : meningkatkan energi dan kreatifitas. Warna – warna ini juga dapat menimbulkan perilaku agresif.

Biru : merupakan warna yang paling menyenangkan. Warna ini menenangkan orang – orang yang tegang dan meningkatkan perasaan jemu. Ketika Anda melihat warna biru otak anda melepaskan 11 menotranskuler yang menenangkan tubuh dan dapat berakibat pada pemanasan suhu tubuh, keringat, dan selera makan.

Hijau : warna yang menyenangkan. Respon terhadap warna ini adalah peningkatan level vitamin darah yang mengakibatkan berkurangnya kepekaan terhadap alergi makanan. Antigen dirangsang untuk memperbaiki sistem kekebalan tubuh secara menyeluruh.

Coklat : menumbuhkan perasaan rileks, aman, dan mengurangi keletihan.

Warna – warna gelap : mengurangi stress dan meningkatkan perasaan damai.

Abu – abu : warna yang paling netral.

Perempuan Dipilih, Bukan Memilih

Tadi siang saya dinasehatin papa saya tentang cowok..
Hehe.. Nasihat itu sudah saya dengarkan berkali – kali sih.
Jadi mau sharing aja. Hehe.

Beliau bilang, perempuan itu harus memilih, bukan dipilih.
Tadinya saya pikir itu pilih – pilihan caleg..
Ternyata bukan.. wkwkkwkw..

Papa menjelaskan pada saya mengenai hal itu.
Katanya kalau perempuan tidak memilih.
Tetapi dialah yang dipilih oleh lelaki sebagai pasangannya.

Kenapa perempuan tidak memilih ?
Kan sekarang uda jaman emansipasi wanita..
Toh sekarang banyak perempuan yang menyatakan perasaannya pada lelaki.
Kenapa ? Kenapa ?

Karena kalau dia memilih lelaki yang dia sukai, belum tentu lelaki itu menyukai dia.
Dan apabila lelaki itu tidak menyukai dia, nantinya si perempuan bakal ditinggalin..
Dicampakin. Bahkan bisa dimanfaatin. Kasihan juga..
Jadi walaupun perempuan menyukai seorang laki – laki, dia sebaiknya tidak terlalu agresif…
Selain itu juga untuk menjaga harga diri si perempuan agar tidak mudah diremehkan oleh laki – laki lain.

Apabila ada yang lelaki nembak, beliau berkata, sebaiknya jangan langsung diterima.
Mungkin kecuali kalau perempuan itu sudah kenal baik dengan si lelaki.
Dan sang perempuan merasa si lelaki ini adalah pria yang baik untuk menjadi pasangannya.
Saya cermati setiap kata – kata papa saya, dan saya rasa memang ada benarnya..

Lalu beliau juga menambahkan.
Perempuan harus sangat berhati – hati dalam pergaulan.
Mereka harus menjaga kesucian dan harga dirinya.

Kalau ada laki – laki yang mau ngajak ke hotel, jangan pernah penuhi ajakan dia.
Apalagi diajak masuk ke kamar.
Dan juga apabila hendak diajak ke tempat yang tidak jelas.
Itu bahaya banget. Udah ketahuan tuh orang ga bener..

Yah kira – kira begitulah. . .
Dimana – mana cowok duluan yang nembak cewek.
Kalau mau menikah juga pihak cowok duluan yang melamar..

Sekian aja…
:D

Konsentrasi !

Kalau lagi deadline tugas atau pekerjaan, pasti jadi rada panik.
Adrenalin jadi meningkat..
Apalagi kalau ada adik yang ributnya luar biasa..
Bisa jadi emosi karena berisik, tugas juga bisa ga kelar – kelar..
Sementara besok mesti dikumpul ke guru..
Nah loh.. Gimana dong ?

Saya dapet inspirasi membuat postingan ini dari temen – temen sekelas saya.
Tadi saat pelajaran biologi, kami diberi tugas membuat tiga laporan.
Tugas – tugas itu harus selesai dalam dua jam pelajaran.
Guru nya kemudian keluar dari kelas karena mau ngawas anak kelas 3 yang lagi ujian.

Setelah sebagian anak sudah selesai mengerjakan tugas, mereka ngobrol – ngobrol.
Ada juga yang bercanda dan ketawa – ketawa sehingga yang belum selesai merasa terganggu.
Kemudian kawan – kawan sekelas saya yang belum selesai mengerjakan tugas jadi kesel dan protes sama anak – anak yang ketawa – ketawa itu.
Yah biasalah. Ujung – ujungnya perang mulut, deh..
Salah satu temen saya bilang kaya gini,
“ Sumpah ga enak banget belajar kalo ribut kaya gini.”

Saat saya dengar kata – kata dia tadi, saya jadi inget Joe Sandy.
Saya inget penampilan dia saat final The Master..
Di studio dia menjawab TTS lalu berlari ke luar studio untuk menyelesaikan puzzle.
Dan begitu terus, lari bolak balik dari studio keluar studio lalu ke studio lagi.
Di studio Joe harus berpikir untuk menjawab TTS.
Dan diluar dia harus menyelesaikan puzzle.
Belum lagi di studio maupun diluar studio hiruk pikuk para penonton ga karu – karuan.
Tentu saja dibutuhkan konsentrasi yang luar biasa.
Dan saya sangat kagum sama Joe Sandy karena dia bisa menyelesaikan hal itu dengan sukses walaupun dalam keadaan capek dan adrenalin tinggi.
Keren abiiiiiiiiiiiis dhe. Hehhehhehe…

Bayangin aja..
Harus berkonsentrasi saat uda capek lari – lari.
Belum lagi sambil mendengar suara para penonton yang menyemangati.
Luar biasa…
Pantas saja dia diangkat menjadi The Master.

Dari Joe Sandy saya menjadi tahu..
Sesulit apapun keadaan, seburuk maupun seberisik apapun keadaan sekitar kita, walaupun kita sedang dalam perasaan sedih dan tertekan…Dengan konsentrasi dan fokus pada pekerjaan tersebut..
Pekerjaan itu dapat selesai dengan sukses.

Jadi untuk kalian, temen – temen atau siapapun yang baca postingan ini..
Jangan mudah terbawa emosi kalau sedang belajar ada yang ribut..
Dan juga jangan dibalas dengan teriakan..
Bisa tambah berisik nantinya..

Tetap konsentrasi ! =]

Rabu, 29 April 2009

SMA atau SMK ?

Saya baru kelas 2 SMP, tapi terkadang saya suka terpikir nanti kemana ya SMA-nya ?

Apa saya mikir gini kecepetan ya ? Haha.. tapi memang apa yang akan menjadi pilihan, dan yang kita tentukan nantinya juga akan menentukan masa depan..

Sekolah tingkatan setelah SMP ada 2 macam, yaitu SMA dan SMK.
Tadinya saya berpikir untuk masuk SMA, tapi saya bingung mau SMA yang mana..
Saking bingungnya saya jadi mikir ga usah sekolah aja kali ya..
Males banget nanti bakal ketemu lagi ma rumus - rumus fisika kalau dapet jurusan IPA, uda gitu saya ga suka sama pelajaran - pelajaran IPS..
Saya lebih suka musik..
Dan saya ingin mengembangkan bakat musik saya..
Tapi saya pikir, mana ada ya SMA jurusan musik..
Tapi pikiran saya berubah setelah saya bertemu dengan seorang cowok di facebook..
Saya tanya dia sekolah dimana, dan dia bilang di sekolah musik !

Kemudian saya tanya - tanya sedikit mengenai sekolah itu ke dia..
Lumayan sih, kalau saya masuk ke sekolah itu, saya bisa mendapat pelajaran yang saya inginkan dan saya sukai (kenapa saya sukai ? Kalau tidak suka dengan pelajaran yang ada disekolah biasa, agak susah bagi saya untuk belajar)...
Apalagi cita - cita saya menjadi musisi..
Hehehe..

Tak hanya itu..
Saya juga melihat artikel di koran mengenai SMK..
Kalau nanti sekolah di SMK, kita bisa memperdalam ilmu yang kita sukai, misalnya musik.
Tapi juga setelah lulus, siswa bisa langsung kerja atau bisa juga melanjutkan kuliah sambil bekerja.

Makanya saya berpikir untuk masuk SMK..
Sambil kuliah bisa sambil kerja.
Daripada nanti setelah jadi sarjana malah jadi pengangguran..
Yang lebih bagus lagi, kita bisa mendapat pekerjaan sesuai dengan profesi yang kita sukai.
Hehehe..

Jadi saran saya mending masuk SMK aja..
Hehehe....

Selasa, 07 April 2009

Pacaran bikin lupa sahabat . Betulkah ?

Maaf ya kalau ada salah kata atau bikin tersinggung.
Tapi saya nulis ini juga bukan karena saya ga mau disayangi.
Tapi hanya sebagai ungkapan atas pengalaman yang saya alami. Ini yang mengubah pandangan saya.

Tadinya, saya pikir, kayaknya pacaran tuh enak ya.
Disayangi oleh orang yang kita sayangi.
Mesra - mesra an lah, jalan berduaan, nonton berdua, dan apalah itu.
Seakan - akan hidup cuma BERDUA.

Karena dunia serasa milik berdua, maka mereka pun jadi lupa kalau SAHABAT mereka itu ada !
Parah kan ?
Dan itulah hal yang saya alami.
Jadi gini ceritanya.
Saya punya sahabat (x1).
Pas bulan februari dia jadian sama temen sekelas saya (x2).
Dan sebelumnya 2 orang teman sekelasnya sudah jadian juga. (o1, o2, q1, q2)
Lalu mereka sering tuh triple date.
X1 dan x2 juga tiap hari jumat suka ke mall bareng geng mereka.
Karena saya bukan anggota geng mereka jadi saya ga diajak dan ga tau apa yang terjadi.
Sejak x1 dan x2 jadian, saya jadi jarang ngobrol ma x1, bahkan ketemu aja cuma pagi - pagi.
Setelah q1, temen sekelasnya datang, saya langsung ditinggal pergi.
Dan saya dilupakan begitu saja.
Dan tiga bulan terakhir ini saya ga begitu akrab ma x1.
Jadi jarang ngomong, nyapa pun jarang.
Dia begitu sibuk dengan teman dan pacar barunya.
Dan saya dilupakan dengan mudahnya.

X1 pernah agak kesel sama saya karena saya pergi ninggalin pas dia lagi berduaan ma x2.
Padahal saya cuma ngerasa ga enak.
Kayak jadi pengganggu mereka.
Saya tau sebenernya mereka ngobrol ga leluasa karena ada saya.

Apabila uda siang, sekolah uda sepi..
X1 belum dijemput dan saya belum pulang.
Dia pasti menghampiri saya minta ditemenin..
Kemudian pas q1 dateng, dia berlalu begitu saja.
Dengan santainya saya ditinggal.
Saya sih no problem, tapi apa dia ga tau ARTI SAHABAT ?
Saya seperti sampah.
Abis dipakai langsung dibuang.
Cape dheee..

Jadi saya berpikir :
'Oh, jadi pacaran kayak gitu ya ?
Melupakan sahabat buat orang yang disayangi ?
Sibuk dengan pacar sementara sahabat lagi kesepian ?
Senang - senang dengan teman dan pacar barunya sementara sahabat lagi duduk - duduk ga jelas karena gelisah dan ga ada teman ?'

GILA !
Itu sih bukan sahabat.
Mikir donk pake otak !
Emang kamu cuma sama temen - temen baru doang ?
Sama pacar kamu doang ?
Sahabat ditinggalin ?
Parah !
Coba diputar balik.
Kalau kamu jadi aku dan aku jadi kamu.
Enak ga dilupain sahabat sendiri ?
Ditinggal kayak orang bodoh ditengah jalan....


Makanya saya bertekad : pacaran kalo uda kuliah, pas uda lulus kalo perlu.
Sekarang berteman aja.
Pacaran nanti juga ujung - ujungnya putus, terus sakit hati kan ?


Saya tau kalo si x1 itu baca postingan saya ini, dia pasti jadi marah ma saya.
Atau mungkin jadi jelek - jelekin saya dibelakang.
Tapi saya sih santai aja.
Saya tau dia orangnya seperti apa - dan saya sudah yakin -
Dia pasti bakal ngerasa dan hal diatas kemungkinan besar bisa terjadi.

Tapi ga selamanya juga sih, pacaran bisa bikin lupa ma sahabat.
Tergantung orangnya juga.
Dan yang ninggalin temen n' sahabat mereka karena mau nemenin pacarnya, ya silahkan saja.
Nanti kalau uda putus baru tau dhe hasilnya.

Semoga postingan ini bisa membuka mata kalian yg membacanya....

Rabu, 01 April 2009

Seharusnya dan Semestinya

Seharusnya kita tidak pernah bertemu
Seharusnya saat itu aku mengundurkan diri
Seharusnya aku tak pernah melihatmu
Seharusnya aku tidak mengingatmu

Semestinya aku tidak ingat kamu lagi
Semestinya aku tidak merindukanmu
Semestinya aku tak perlu tahu namamu
Semestinya aku tidak dengar kata orang

SETELAH 240 HARI BERLALU, SEHARUSNYA AKU MELUPAKANMU

Seharusnya aku sadar
Jarak, usia, waktu, dan semua nya
Akan membuatmu yang jauh semakin jauh
Seharusnya aku tak mencari namamu disana
Seharusnya aku tidak mengagumimu sekarang

Tapi aku tak tahu
Aku ingat kamu
Aku ingin lihat senyummu
Aku ingin bersua
Aku ingin kau sadar
BAHWA AKU ADA

Tapi itu takkan mungkin
Aku hanya bisa berharap
Bulan ini berakhir
Dan semua berlalu

Disini aku hanya sebatas pengagum
Tak bisa lebih dari itu
Dan kurasa kamu sudah bahagia
Aku takkan mengganggumu

Tapi entahlah
Aku tak bisa berhenti mengharapkan keajaiban
Satu takdir yang menemukan kita
Tapi itu adalah MUSTAHIL

Untukmu yang ingin kulupakan

-white.copper-

Sabtu, 28 Maret 2009

Jangan Hanya Bicara, Tapi Juga Dengarkan !

Ini adalah hal yang harus diingat oleh kalian semua.
Yaitu kalian jangan hanya berkata.
Tetapi kalian juga harus mendengarkan.
Demokratis dikit lahh gitu.
Kasih kesempatan supaya orang lain bisa bicara.

Apabila kamu tidak mau mendengarkan orang lain bicara, maka jangan harap orang lain akan mendengarkan kamu bicara.

Aku punya teman, sebut saja X.
Dia anaknya pendiam dan cukup pintar, dan dia juga merupakan anggota OSIS di sekolahnya.
Suatu kali ada rapat OSIS, masing - masing anggota disuruh untuk membuat program sesuai bidangnya masing - masing.
X adalah OSIS bidang Agama Islam.
Awalnya dia mau membuat program pengajian di sekolahnya, tetapi gurunya ga ada waktu.
Akhirnya dia masukin program yaitu mengadakan pesantren kilat yang diadakan saat bulan puasa.
Lokasinya disarankan oleh guru Agamanya.
Yaitu didaerah Bandung, kata gurunya sih suasananya asri dan kegiatannya tak hanya ceramah melulu.
Banyak games dan kegiatan lain yang seru, kata gurunya sih gitu.
Lama menginap sekitar 3 hari.
Dan yang datang kesana pun tak hanya dari sekolahnya saja, tapi juga ada dari sekolah dari Bandung, Semarang, Bogor, dan sekolah - sekolah dari kota - kota lain.
Otomatis bisa kenalan dan dapat teman baru.
Namun biayanya juga lumayan, sekitar Rp 450.000,00.
Program tersebut dikumpulkan oleh sekretaris OSIS.
Saat dibaca, si sekret itu bukannya mendukung, justru malah membuat X jadi pesimis dengan programnya.
"Pesantren ? Apa ga kejauhan tuh di Bandung ? Biayanya juga mahal gitu . Emang siapa yang mau bayarin ? Nanti ga ada yang mau ikut lagi. Dan bla... bla..."
Bendaharanya juga ikut ngoceh tentang programnya.
Sampai X ga bisa ngomong apa - apa lagi.

X juga menanyakan program itu pada temannya, dan temannya itu juga mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh sekretaris dan bendahara OSIS tersebut.
Tentu saja X jadi bingung.
Dia pikir kalau tanya nyokap pasti dapat solusi yang baik.

Sesampainya dirumah, X akhirnya tanya ke nyokapnya.
Belum selesai dia ngomong nyokapnya udah ngoceh duluan,
" Tuh kan, apa mama bilang kamu pasti ga bakal betah sekolah disitu. Kamu nya sih ngeyel mau masuk ke tuh sekolah, udah tau sekolahnya jelek begitu.. Kamu tuh lebih cocok masuk sekolah yang bagus, zaman mama dulu aja bla... blaa... blaa.... "
Ceramahnya puanjang deh, sampai akhirnya X nyerah.
Niatnya cari jalan keluar buat program disekolahnya, dia malah diceramahin panjang lebar.
Bete ga tuh ?

Terus masalah global warming.
Pada tau Earth Hour kan ?
Dia bilang ke bokap nya mau matiin lampu dari jam 20.30 – 21.30
Bokapnya tanya kenapa, trus dia jelasin tentang Earth Hour.
Bukannya mendukung, bokapnya malah ga percaya adanya Earth Hour dan meremehkan kata – katanya. Si bokap baru percaya kalau ada pengumuman resmi dari pemerintah.
Bahkan bokapnya ngajak taruhan.
Gila ga tuh ?

Dia bilang ke nyokapnya, dan si nyokap bilang matiin aja lampunya..
Pas hari Sabtu nya, dia matiin lampu kamarnya sekitar pukul 20.15
Adiknya melapor ma bokapnya, terus bokapnya suruh nyalain tuh lampu.
Nyokapnya juga nyuruh nyalain dengan nada yang gualak..

Dan ini nih kata X yang curhat padaku.
“ Lu tau ga, gue tuh sedih banget. Gila aja, Earth Hour kan buat kebaikan kita juga.
Buat masa depan bumi yang lebih baik. Tapi bokap gue malah nunggu pemerintah ngomong. Emang pemerintah ga ngomong? Nyokap gue tuh malah diem aja. Adik gue pada ketawain gue. Gue juga tau Earth Hour itu himbauan buat masyarakat yang mau aja. Dan gue mau matiin lampu. Oke lah bokap gue ga mau matiin lampu. Tapi masa gue ga bolehmatiin lampu juga? Ga demokratis banget.. Apa salahnya coba matiin lampu selama 1 jam ? Ga bakal ngerepotin kan ? Toh cuma kamar gue aja yang lampunya mati.”

Dan ini kata – kata terakhir dari dia :
“Gue tuh apaan ya? Gue ngomong yang baik – baik ga didengerin.
Orang – orang ga percaya ama kata – kata gue. Mereka semua ngeremehin semua usulan dan sikap – sikap yang gue lakukan. Gue tuh capek banget.”

Kalau hal ini dibiarkan, X bisa mengalami gangguan pada perkembangan mentalnya dia.

Aku posting tulisan ini untuk menyadarkan orang – orang yang egois, yang mau berkata tapi tak mau mendengarkan.
Mereka tuh harus tau gimana rasanya kalau suara mereka tidak didengarkan.

Tik.. Tik.. Tik..

Tik..
Setitik air jatuh kepermukaan bumi

Tik.. Tik..
Semakin lama semakin banyak

Tik.. Tik.. Tik..
Air hujan itu turun semakin deras
Entah kapan akan berhenti

Tik... Tik... Tik... Tik...
Aku disini menatap langit yang hitam

Tik.. Tik.. Tik.. Tik.. Tik..
Kumohon berhentilah

Tik.. Tik.. Tik.. Tik.. Tik.. Tik..
Waktu menunjukkan pk.14.10
Aku tetap menanti

Tik.. Tik.. Tik.. Tik.. Tik.. Tik.. DUARR !
Kilat pun menyambar.

Kumohon hujan berhentilah
Beserta harapan - harapan kosong

Tik.. Tik.. Tik.. Tik.. Tik.. Tik.. Tik..
Samar - samar terdengar halilintar

Tik.. Tik.. Tik.. Tik.. Tik.. Tik.. Tik.. Tik..
Waktu menunjukkan pk.14.15
Rasanya begitu lama.

Kumohon..
Hujan.. Berhentilah..
Lenyap bersama rasa penasaran

Tik.. Tik.. Tik.. Tik.. Tik.. Tik.. Tik.. Tik.. Tik..
Kumohon hujan berhentilah
Dia pasti takkan datang
Dan aku pun takkan pergi

Tik.. Tik.. Tik.. Tik.. Tik.. Tik.. Tik.. Tik.. Tik.. Tik..
Aku janji deh nanti bakal matikan lampu pk.20.30
Tapi hujan berhentilah sekarang..
Pliiiiiis !
T.T

Jumat, 27 Maret 2009

Flightless Bird

Uda malem nie.
Bagi yang susah tidur alias insomnia mendadak mesti denger ni lagu.
Judulnya Flightless Bird , American Mouth,,

Lagu yang dibawakan Iron & Wine ini merupakan Original Soundtrack dari film Twilight.
Lagunya melow abis, bikin ngantuk....
Nieh lirik lagunya (baru baca aja uda ngantuk.wkakak)

Flightless Bird, American Mouth

I was a quick wet boy
Diving too deep for coins
All of your street light
Eyes wide on my plastic toys
Then when the cops closed the fair
I cut my long baby hair
Stole me a dog-eared map and called for you everywhere

Have I found you
Flightless bird, jealous, weeping or lost you, american mouth
Big pill looming

Now i'm a fat house cat
Nursing my sore blunt tounge
Watching the warm poison rats curl trough
The wide fence cracks
Pissing on magazine photos
Those fishing lures thrown in the cold
And clean blood of Christ mountain stream

Have I found you
Flightless bird
Bleeding or lost you, american mouth
Big pill stuck going down

Friendster X Facebook

'friendster ? jaman ?'
Itulah salah satu kalimat temanku yang membuatku ingin tertawa ngakak :p
Mau tau kenapa ? Baca dulu dong.

Situs pertemanan di dunia maya yang populer tuh Facebook (www.facebook.com) dan Friendster (www.friendster.com)

Banyak banget temenku yang punya account di Friendster,
Salah satu temanku ada yang friendnya banyak banget,
Saking banyaknya dia tuh sampai punya 2 account karna account pertamanya penuh. Hehe..

Tapi kini banyak teman2ku yang beralih dari Friendster.
Banyak yang uda pada bikin account di Facebook.
Nah lho, kok pada transmigrasi ke Facebook?

Mereka beralasan Friendster gampang di heck orang.
Trus juga suka eror dan loadingnya lama karna kebanyakan gambar.
Sementara Facebook lebih cepat karena ga ada gambar animasi dan lain2 yang memberatkan dan bikin loadingnya lebih lama.

Masuk akal juga sih, tapi aku kebalikannya.

Justru buka Facebook lama banget, bahkan mungkin waktu untuk nunggu keluar isi halaman utama nya itu sama dengan waktu masak mie instan (lebay amat yak? Hehe)
Soalnya lama sih, ketimbang Friendster yang masih lebih cepet.

Trus kalau nge add di Frienster tuh butuh alamat email atau last name (banyak orang yang masih pake settingan kayak gini).
Sementara Facebook, tinggal add aja.
Ga perlu pake alamat email atau last name alias ga ribet dan ga ruwet.

Di facebook fotonya bisa ditandai.
Jadi kita bisa tandai ada siapa saja dalam foto itu.

Yang saya tau di facebook ga ada skin layout untuk profile kita, tidak seperti di friendster yang layoutnya bisa buat sendiri.

Bagiku yang paling wenak dan ajiebb tuh, di facebook mayoritas orang pakai nama asli.
Sementara di friendster namanya uda kebelit2 and hurufnya penuh simbol2 ga jelas.
Bikin pusing kalau mau nge add.
Ya kan ?

Pantes aja temanku ucapin kalimat diatas tadi.
Hehehe..
Baru segitu aja yang bisa aku posting..
Semoga bermanfaat..

Maklum, saiia kan pendik (pengetahuan dikit)
Hihi...
Kalau ada yang salah coment aja ya..

Satu Jam Untuk Perubahan Besar

Teman - teman , selamatkan bumi kita !
Matikan lampu ya, pada hari Sabtu, 28 Maret 2009.
Dari pk. 20.30 - 21.30
Hanya satu jam kok !

Menurut sebuah website yang saya baca,
WWF memperkirakan aksi matikan lampu selama satu jam (Earth Hour) di DKI Jakarta bisa mengurangi beban listrik sebanyak 300 Megawatt (MW).

Aksi Earth Hour itu juga menghidupkan penerangan di 900 desa dan mengurangi beban biaya listrik Jakarta yang besarnya sekitar Rp 200 juta.

Dan dengan aksi tersebut :
- mengurangi emisi CO2 sekitar 284 ton
- menyelamatkan lebih dari 284 pohon
- menghasilkan O2 untuk lebih dari 568 orang.

Mengapa Earth Hour dilakukan di Jakarta ?
karena sekitar 20 persen pengguna listrik Indonesia berada di Jakarta.
Sedangkan pasokan listrik di daerah lain di Indonesia masih terbagi dalam jumlah yang kecil.
Total konsumsi listrik wilayah DKI Jakarta dan Tangerang adalah 23 persen dari total konsumsi listrik di seluruh Indonesia.

Komposisinya adalah :
- 34 % berasal dari sektor rumah tangga
(yang sebagian besar berada di DKI Jakarta)
- 30 % berasal dari sektor industri
- 29 % dari sektor bisnis.

Tujuan lainnya yaitu untuk mendapat dukungan dan partisipasi pemerintah, pelaku bisnis, dan publik pada program lanjutan Earth Hour.
Sebab, hal itu mengedukasi publik untuk mengubah gaya hidup sehari-hari demi menurunkan emisi karbon dioksida dan mengurangi dampak perubahan iklim.

So, save our earth now !
Satu orang satu lampu, untuk masa depan yang lebih baik :)

Atasi Kejenuhan

Lagi bete nie ?
Jenuh sama pelajaran dan pusing ama tugas yang numpuk ?
Ada beberapa aktivitas untuk menghilangkan kejenuhan tersebut :

1. Internetan
Buka aja situs2 seperti facebook atau friendster.
Keuntungannya kita bisa dapat teman baru dari seluruh penjuru dunia.
Main game online juga bs dapat teman baru , tapi jangan mpe lupa waktu ya...

2. Hobi
Kalau lagi bosen bagusnya melakukan hobi atau kegiatan yang kita suka.
Misalnya menggambar.
Kalau gambarmu bagus bisa dikirim / dipublikasikan lewat majalah.

3. Dengarkan musik
Mendengarkan musik terbukti dapat mengusir kejenuhan, mengurangi stres, menenangkan syaraf yg menegang, dan dapat menghindarkan dari ancaman depresi.

4. Tertawa
Kejenuhan dapat cepat hilang dengan : HUMOR !
Karena dengan tertawa kita bisa menjadi lebih kuat dalam menghadapi suatu masalah.

5. Hargai keindahan dan kecantikan
Ini juga cara efektif untuk mengimbangi emosi negatif, yaitu mengapresiasi / menghargai keindahan dan kecantikan.
Misalnya rekreasi di alam terbuka, nonton konser musik, dll.
Apabila ingin merasakan sentuhan kecantikan dan keindahan, alam bebas adalah tempat yang cocok untuk memulainya. Berjalan kaki di taman atau di alam terbuka dan mengamati pemandangan hijau dapat menimbulkan rasa damai dan aman....

Semoga bermanfaat ^^

Rabu, 25 Maret 2009

Like Mouse Love Rice

Bagi yang suka denger lagu - lagu mandarin pasti uda ga asing kan sama lagu yang satu ini?
Yapp ! Like Mouse Love Rice adalah adaptasi dari lagu Lao Shu AI Da Mi
Menurutku sihh lagunya enak banget didenger.
Lagu ini ada 3 versi, yaitu Mandarin, Korea, dan Inggris.
Yang Inggris aku dapat dari temen, yang Korea aku denger dari game online Audition.
Kalau yang Mandarin aku tau pas lagi karaokean ma temen - temen.
Hehe... Hingga akhirnya aku nemu kunci gitar lagu ini.
Nih aku kasih tau Lirik dan chord gitarnya.
Enjoy ! :)

Like Mouse Love Rice

do = D

D A
When that day I hear your voice
Bm F#m
I have some special feeling
G D
Let me always think
Em A
I don’t want forget you

D A
I remember at the day
Bm F#m
You are always on my mind
Em A D
Eventhough I just can think about you

F#m Bm
If the day in the future
A D
This love will becoming true
F#m Bm
I’ve never change my mind
Em A
That I will love you forever

F#m Bm
I don’t care how fool it is
A D
I will let my dream come true
F#m
I will tell you something
Bm Em
I want let you know
A
I let you know………

D A
I love you, loving you
Bm F#m
As the mouse love the rice
G D
Even every day has storm
Em A
I will always by your side

D A
I miss you, missing you
Bm F#m
I don’t care how hard it is
G D
I just want you be happy
Em A D
Everything, I do it for you………..

kembali ke awal.....
Reff terakhir tangga nadanya naik satu tingkat jadi do = E
jadi gini :

E B
I love you, loving you
C#m G#m
As the mouse love the rice
A E
Even every day has storm
F#m B
I will always by your side

E B
I miss you, missing you
C#m G#m
I don’t care how hard it is
A E
I just want you be happy
F#m B E
Everything, I do it for you………..


Itu lirik versi inggris.
Ini versi Mandarin nya.


Wo ting jian ni de sheng yin
You zhong te bie de gan jue
Rang wo bu tuan xiang
Bu gan zai wang ji ni

Wo ji de you yi ge ren
Yong yuan liu zai wo xin zhong
Na pa zhi neng kou zhe yang de xiang ni

Ru guo zhen de you yi tian
Ai qing li xiang hui shi xian
Wo hui jia bei nu li hao hao
Dui ni yong yuan bu gai bian

Bu guan lu you duo me yuan
yi ding hui rang ta shi tian
Wo hui qin qin zai ni er bian dui ni shuo
Dui nui shuo.....

Wo ai ni
ai zhe ni
jiu xiang lao shu ai da mi
bu guan you duo shao feng yu
wo dou hui yiran pei zhe ni......

Wo xiang ni
Xiang zhe ni
Bu guan you duo me de ku
Zhi yao neng rang ni kai xin
Wo shen me dou yuan yi
Zhe yang ai ni.....

Chord gitarnya sama, kalo ketinggian mulainya dari C aja. ^^


Kalo versi Korea, aku ga tau...
Baru segitu aja yang aku tau.
Kalo misalnya ada yang salah coment aku aja ya.
~sekian~

Selasa, 24 Maret 2009

Dimana kamu ?

Matamu bersinar bagaikan permata
Senyummu bagaikan bunga melati
Yg menghiasi taman hatiku

Kau bangkitkan semangatku dgn ucapanmu

Kau bangunkan aku dari mimpi buruk

Kau bawa aku ke sebuah tempat yg sangat indah

Disaat terakhir kau pergi
Meninggalkan bunga2 melati yg bermekaran
Di taman itu

Di tempat awal kita berjumpa
Kau pergi tinggalkan aku

Biar kurelakan
Rasa ini terbang
Pergi bersama angin sore yg berlalu

Betapa berharga detik yg berlalu bersamamu

Takkan pernah kulupakan

Sejak sore itu kita tak pernah bertemu
Dirimu menghilang
Diantara kerumunan manusia

Hingga kini kita tak pernah bersua

Lihatlah
Bunga melati ini layu
Tak pernah tersiram cahaya matahari lagi..
Seperti diriku
Tanpa cintamu..

Yang ingin kutahu,

Kau berada dimana ?

--miss.you--

Senin, 23 Maret 2009

Love at first sight ?

Gelap malam ku berjalan
Menyusuri gemerlap ibukota
Menatap langit
Tak terlihat bulan bersinar

Telah sampailah aku disini
Untuk suatu tujuan
Dan ditempat inilah aku bertemu denganmu

Mulai hari ini hingga nanti
Kita akan selalu bersua
Walaupun hanya sementara
Aku tak mengerti
Rasanya aku memiliki smangat baru
Sejak melihat senyum indah mu

Walau tak pernah bercakap
Setidaknya aku bisa bersua
Dan itupun sudah buat sepiku hilang

Hari itu telah tiba
Hari terakhir kita bertemu
Aku tak tahu apakah akan kehilangan semangat ini
Rasa aneh yg tdk kumengerti
Yg menyelubung di relung hati
Saat kau tersenyum padaku
Untuk terakhir kali..

Esoknya aku seperti terbangun dari mimpi
Saat matahari pagi menyinari bumi
Hari ini, esok, dan seterusnya
Mungkin kita takkan pernah bertemu

Entah dirimu ada dimana kini

Where are you ?
Im lost contact.
Sometimes I miss you
I dont know what Im feeling when first meet you
I dont know what happen with me until now
My spirit gone without you

Why ?
I dont know..
Really, i dont know..
But do you know ?
I hope we meet again
I hope you become my friend

And I hope you read this
So that you know
............

Minggu, 22 Maret 2009

Melodi

Secarik kertas
Bertuliskan melodi syahdu
Kau berikan padaku

Disisiku kau berada
Ajari bagaimana menyanyikannya
Entah mengapa terasa berbeda
Debaran ini begitu nyata

Aku sadar..
Telah jatuh hati..
Tiap kali kesempatan kita bertemu
Walau cepat tapi berkesan

Aku tahu kau rasakan yg kurasa
Indah dan bahagia
Andai kau katakan itu..
Yg disebut cinta

Disaat hujan turun
Kau datang
Dan ucapkan sebuah realita
Bagai nada - nada terindah
Buat kupu - kupu menari diatas bunga
Dan burung - berkicau riang

Namun kebahagiaan itu hanya sehari
Semua kini sirna
Pupuslah melodi indah itu

Kini hanya menjadi mimpi
Dinding itu memisahkan kita
Entah hingga kapan

Namun aku akan selalu setia..
Dalam melodi syahdu ditengah sunyi..

Tentang aku, kamu, dan bunga mawar

Terima Kasih
Karena kau telah hadir di kehidupanku
Menaburkan benih - benih harapan
Yang menciptakan rasa bahagia
Walaupun hanya sesaat

Terima kasih
Tlah kau berikan senyum kehangatan
Ditengah dinginnya kehampaan hati
Mungkin senyummu itu takkan bisa hilang

Terima kasih
Kau kuatkan aku
Kau temani aku
Melewati detik - detik yang gelap
Menuntunku, menjadi setitik cahaya

Terima kasih
Kau korbankan dirimu
Waktumu sebagian kau berikan untukku
Untuk menemaniku disaat ku kesepian

Setiap hari dan detik terus berlalu
Tanpa sadar benih - benih itu telah tumbuh
Melihat keindahan disetiap detiknya
Yang sulit diungkapkan dengan kata - kata

Kebaikanmu selama ini
Telah menyiram benih - benih di musim panas
Memberikan kesejukan
Dan hawa kebahagiaan yang dirahasiakan

Kini tanaman ini tumbuh
Tumbuh karena rasa bahagia dan kasih sayang
Walau masih kecil dan tak tahu apa2
Tetapi ia tegar menghadapi
Dinginnya musim gugur

Sekarang ku tahu dan kurasa
Hatimu kan berlalu dan ku kan terlupakan
Karena dia..
Mawar merah yang indah..
Yang akan menghiasi senyummu setiap waktu

Namun disaat kau bingung
Untuk menyentuh sang mawar
Tenang saja, aku ada disini
Kan kubuat dua hati menjadi satu

Saat kucoba mendekati sang mawar
Aku merasakan sakit, entah mengapa bisa
Bukan karena duri - durinya yg menusuk
Tetapi karena ku dengar rintihan relung hati
Ia menangis dan tangisnya tak berhenti
Disaat melawan badai musim dingin

Oh tidak !
Bunga - bunga itu terbang !
Terbongkarlah rahasiaku yg memeliharanya
Yg menjaga dan merawatny
Walaupun tanpa kasihmu

Ia berusaha untuk tegar
Seperti karang yang diterjang lautan
Melihat sang mawar mendapat
Kasihmu dimusim semi

Hanya dendam, amarah, dan kesedihan yg tersisa
Tahukah kamu ?
Aku berjuang untuk bunga ini
Namun mengapa dia yg menuai buahnya

Tahukah kamu?
Sakit yg lama kurasakan
Dosa yg tertimbun karna berbohong
Pada perasaanku sendiri

Walaupun ini juga salahku
Bunga - bunga itu terbang
Kau tahu dan kini kau jadi jauh

Berkali - kali ku mencoba
Kemanapun aku mencari
Tapi tidak ada penawar rasa sakitnya

Dua purnama tlah berlalu
Dan aku sudah pasrah
Aku sudah lelah
Melihatmu dan mawar merahmu

Andai kau tahu
Penyesalanku
Rasa sakitku
Yg membekas hingga kini...

Hanya tersisa rindu
Di musim semi
Kita bertemu...